Sabtu, 28 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?

Redaksi - Saturday, 28 February 2026 | 09:00 AM

Background
Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?
Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal? ( Istimewa/)

Seni Mengumpulkan Sampah Berharga: Kenapa Kita Hobi Banget Koleksi Barang yang Kadang Nggak Masuk Akal?

Pernah nggak sih kamu masuk ke kamar teman, terus melihat satu rak penuh berisi plastik-plastik kecil atau kotak-kotak mainan yang bahkan nggak pernah dibuka? Atau mungkin kamu sendiri adalah tipe orang yang rela antre berjam-jam demi selembar photocard idola yang harganya kalau dipikir-pikir setara dengan cicilan motor bulanan? Selamat, kamu telah terjebak dalam pusaran "koleksi".

Koleksi itu ajaib. Di mata orang lain, tumpukan piringan hitam, gundam yang belum dirakit, atau botol parfum kosong itu mungkin cuma sekumpulan benda yang menuai debu. Tapi bagi si pemilik, benda-benda itu adalah harta karun. Ada sebuah kepuasan batin yang sulit dijelaskan pakai logika matematika saat kita berhasil melengkapi satu set barang incaran. Rasanya kayak menang perang, tapi musuhnya adalah saldo rekening sendiri.

Dari Tazos Sampai Photocard: Evolusi "Racun" yang Nggak Ada Habisnya

Kalau kita tarik mundur ke zaman SD, hobi koleksi ini sebenarnya sudah mendarah daging. Ingat zaman Tazos di dalam bungkus chiki? Kita semua berubah jadi pemburu profesional. Kita nggak peduli sama rasa makanannya, yang penting dapat kepingan plastiknya. Beranjak remaja, trennya geser lagi. Ada yang koleksi komik, kartu basket, sampai perangko—buat mereka yang lahir di era surat-menyurat masih pakai prangko tempel, ya.

Lucunya, hobi ini nggak hilang pas kita sudah jadi orang dewasa yang (katanya) bijak. Malah makin parah karena sekarang kita punya daya beli alias punya duit sendiri. Bedanya, kalau dulu kita koleksi penghapus wangi, sekarang koleksinya ganti jadi keyboard mechanical, sneaker orisinal, atau diecast mobil-mobilan yang harganya bisa buat beli mobil beneran (versi bekas, sih). Istilah "racun" di komunitas kolektor itu nyata banget. Sekali kamu masuk ke grup Facebook atau komunitas di Telegram, niat awal cuma mau "liat-liat" berakhir jadi "checkout" karena tergiur kata-kata "rare item" atau "diskon limitid".

Kenapa Sih Kita Melakukan Ini?

Secara psikologis, mengoleksi barang itu bukan cuma soal kepemilikan. Ada hormon dopamin yang meledak-ledak setiap kali kita mendapatkan barang baru. Ini adalah perburuan modern. Dulu nenek moyang kita berburu rusa di hutan buat bertahan hidup, sekarang kita berburu barang di marketplace atau event cuci gudang buat menjaga kesehatan mental. Ironis, ya?

Selain itu, koleksi sering kali jadi mesin waktu. Barang-barang itu punya cerita. Misalnya, kamu koleksi kaset pita padahal nggak punya tape-nya. Kenapa? Karena kaset itu mengingatkan kamu pada bau toko musik zaman dulu atau lagu yang diputar pas kamu pertama kali naksir orang di sekolah. Ada ikatan emosional yang bikin barang tersebut nggak bisa dinilai dengan uang. Ya, meskipun ujung-ujungnya kalau lagi butuh duit mendesak, barang itu juga yang pertama kali diposting di forum jual beli dengan caption "BU, nego alus".

Garis Tipis Antara Kolektor dan Hoarder

Nah, ini yang sering jadi perdebatan di ruang tamu. Kapan seseorang disebut kolektor dan kapan disebut hoarder alias tukang tumpuk sampah? Bedanya tipis banget, setipis tisu dibagi dua. Kolektor biasanya punya sistem. Barang-barangnya dirawat, dipajang dengan rapi, dan punya nilai sejarah atau nilai jual kembali. Sementara hoarder, ya pokoknya semua disimpan, dari nota belanjaan sampai plastik bungkus paket yang sudah bolong-bolong.

Tapi jujur saja, batas ini sering kali kabur kalau kita sudah terlalu cinta sama sebuah hobi. Banyak kolektor yang akhirnya memenuhi setiap sudut rumahnya dengan kotak-kotak yang nggak tahu mau ditaruh di mana lagi. Di sinilah seni bernegosiasi dengan pasangan atau orang tua diuji. "Ini investasi, Ma!" atau "Nanti kalau harganya naik bisa buat naik haji!" adalah alasan-alasan klasik yang sering kita dengar, padahal kita semua tahu barang itu nggak akan pernah kita jual sampai kapan pun.

Komunitas: Tempat Curhat dan Tempat Pamer

Mengoleksi sesuatu tanpa komunitas itu rasanya kayak makan seblak tapi nggak pakai kencur; hambar. Kita butuh pengakuan. Kita butuh orang-orang yang paham kenapa kita rela bayar mahal buat sepotong kain dari jersey pemain bola legendaris. Di komunitas inilah, "flexing" atau pamer jadi hal yang lumrah dan bahkan diapresiasi.

Komunitas kolektor adalah tempat di mana istilah-istilah aneh lahir. Ada MIB (Mint In Box), BNIB (Brand New In Box), atau "Open Box buat Cek Kondisi". Kalau kamu orang awam, dengerin obrolan mereka tuh kayak dengerin bahasa alien. Tapi buat para pelakunya, ini adalah ruang aman. Di sini, nggak ada yang bakal nge-judge kamu karena beli mainan di usia 30-an. Malah mereka bakal nanya, "Beli di mana, Gan? Masih ada stok nggak?"

Investasi atau Cuma Alibi?

Mari kita bicara jujur. Seringkali kita membenarkan hobi belanja barang koleksi dengan embel-embel "investasi". Memang benar, beberapa barang koleksi harganya bisa melonjak berkali-kali lipat. Lego edisi tertentu, kartu Pokemon langka, atau sepatu kolaborasi desainer ternama memang punya nilai pasar yang gila-gilaan. Tapi pertanyaannya: apakah kamu benar-benar tega menjualnya saat harganya sudah tinggi?

Kebanyakan kolektor justru bakal makin sayang sama barangnya kalau tahu harganya naik. Alih-alih dijual buat cuan, malah makin dipajang dengan bangga. Jadi, istilah investasi itu sebenarnya cuma alibi biar kita nggak merasa terlalu bersalah saat menggesek kartu kredit. Lagipula, investasi terbaik dari sebuah koleksi sebenarnya bukan uang, tapi kebahagiaan yang didapat saat kita melihat rak pajangan kita penuh setelah penat bekerja seharian. Itu adalah bentuk self-reward yang paling tulus, meski kadang bikin dompet menangis di pojokan.

Kesimpulan: Dunia yang Lebih Warna-Warni

Pada akhirnya, koleksi adalah cara kita merayakan hidup. Bayangkan betapa membosankannya dunia kalau semua orang cuma punya barang yang "butuh-butuh saja". Kamar bakal kosong, hidup bakal terlalu fungsional, dan kita nggak punya alasan buat antusias nungguin kurir datang di depan pagar rumah. Koleksi memberikan warna, memberikan identitas, dan yang paling penting, memberikan kita sesuatu untuk dibicarakan dengan orang lain.

Jadi, kalau hari ini kamu baru saja membelanjakan uangmu buat barang yang menurut orang lain nggak penting, jangan berkecil hati. Selama itu nggak bikin kamu utang ke pinjol atau nggak bisa makan besok pagi, lanjut terus saja. Karena pada setiap barang yang kamu koleksi, ada sebagian dari dirimu yang tersimpan di sana. Dan itu, teman-teman, adalah sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan harga berapa pun.