Sabtu, 28 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia

Redaksi - Saturday, 28 February 2026 | 09:00 AM

Background
Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia
Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia ( Istimewa/)

Seni Berburu Harta Karun di Tumpukan Baju: Mengapa Thrifting Gak Ada Matinya

Pernah nggak sih kalian ngerasa kayak Indiana Jones, tapi bukannya nyari artefak kuno di dalam gua, kalian malah lagi berjibaku di tengah kepulan debu dan bau kamper yang menyengat? Kalau jawabannya iya, selamat, kalian kemungkinan besar adalah penganut aliran thrifting garis keras. Fenomena berburu baju bekas ini bukan lagi sekadar alternatif buat yang dompetnya lagi tipis, tapi udah jadi gaya hidup, sebuah pernyataan fashion, bahkan ritual akhir pekan yang sakral buat anak muda zaman sekarang.

Dulu, kalau kita bilang baju yang kita pakai itu barang bekas, mungkin orang bakal ngelihat dengan tatapan kasihan. "Aduh, segitunya banget ya?" pikir mereka. Tapi sekarang? Begitu kalian bilang, "Ini dapet di Pasar Senen cuma lima puluh ribu, brand Jepang lho!", reaksi yang muncul bakal beda total. Teman-teman kalian bakal langsung nanya, "Di lantai berapa? Titik mana? Masih ada yang bagus nggak?". Itulah kekuatan thrifting hari ini: ia telah bermutasi dari sekadar kebutuhan menjadi sebuah kebanggaan atau istilah kerennya, flexing dalam kesederhanaan.

Adrenalin di Balik Bau Kamper

Ada sensasi yang nggak bisa dijelaskan lewat kata-kata saat jemari kita dengan lihai memilah satu per satu gantungan baju. Di satu sisi ada keringat yang mengucur karena suhu di dalam pasar yang lebih panas dari omongan tetangga, tapi di sisi lain ada harapan tinggi. Thrifting itu soal probabilitas. Kita bisa aja pulang dengan tangan hampa setelah muter-muter tiga jam, tapi kalau lagi beruntung, kita bisa nemuin jaket vintage dari era 90-an yang harganya di marketplace internasional bisa jutaan rupiah, padahal kita cuma bayar seharga dua porsi nasi padang.

Inilah yang bikin thrifting bikin nagih. Ada unsur "surprise" yang nggak bakal kalian dapetin di mall-mall mentereng. Di mall, semua ukuran tersedia, warnanya seragam, dan semua orang bisa pakai baju yang sama. Membosankan, bukan? Tapi di lapak baju bekas, setiap barang itu unik. Kalian nggak cuma beli baju, kalian beli sejarah. Ada cerita di balik jahitan yang mungkin sudah agak longgar atau warna yang sedikit memudar itu. Dan yang paling penting: kemungkinan kalian ketemu orang lain pakai baju yang sama persis di konser musik atau kafe itu hampir nol persen.

Gentrifikasi Thrifting: Antara Hobi dan Cuan

Namun, layaknya semua hal yang jadi tren, thrifting juga mengalami pergeseran. Sekarang kita kenal istilah "Thrift Shop" di Instagram yang fotonya estetik banget, modelnya cakep, dan harganya... wah, kadang bikin geleng-geleng kepala. Di sinilah muncul perdebatan soal gentrifikasi thrifting. Barang yang tadinya murah di pasar, diambil oleh para reseller, difoto bagus-bagus, lalu dijual dengan harga tiga sampai lima kali lipat.

Bagi sebagian orang, ini menyebalkan karena bikin harga dasar di pasar jadi ikut naik. Abang-abang penjual yang tadinya nggak tahu merk, sekarang jadi "pinter" gara-gara sering lihat anak muda nyari merk tertentu. Tapi kalau mau jujur, kita juga membayar untuk kurasi mereka. Nggak semua orang punya waktu dan ketahanan paru-paru buat ngubek-ngubek tumpukan baju di Pasar Senen atau Gedebage selama berjam-jam. Para reseller ini sebenarnya menjual kemudahan dan selera. Tapi ya tetap saja, ada rasa nyesek kalau tahu barang yang harganya dua ratus ribu di online shop sebenarnya cuma modal dua puluh ribu di karung ball-ballan.

Lebih dari Sekadar Gaya, Ini Soal Bumi

Kalau kita mau sedikit serius, thrifting ini sebenarnya adalah bentuk perlawanan kecil kita terhadap industri fast fashion. Kita tahu sendiri kan, industri pakaian itu salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia. Dengan memakai baju bekas, kita memperpanjang usia pakai sebuah produk dan mengurangi limbah tekstil. Jadi, selain kelihatan keren dengan gaya vintage, kalian juga bisa merasa sedikit lebih suci karena sudah "menyelamatkan bumi" secara tidak langsung.

Tapi ya jangan jadi alasan buat makin konsumtif juga. Kalau tiap minggu beli baju bekas cuma buat menuhin lemari dan akhirnya nggak dipakai juga, ya sama aja bohong. Prinsipnya tetap: beli yang memang kalian suka dan bakal kalian pakai sampai bener-bener rusak.

Tips Biar Nggak "Boncos" Saat Thrifting

Buat kalian yang baru mau nyemplung ke dunia per-thrifting-an, ada beberapa hal yang wajib kalian catat biar nggak menyesal di kemudian hari:

  • Cek Kondisi Secara Detail: Di bawah lampu pasar yang remang-remang, baju mungkin kelihatan sempurna. Tapi coba bawa ke tempat yang lebih terang. Cek noda kuning di ketiak, lubang kecil (pinhole), atau resleting yang macet. Jangan sampai cinta pada pandangan pertama bikin kalian buta sama cacat barang.
  • Jangan Malu Menawar: Ini seninya. Tapi ya jangan sadis-sadis banget nawarnya. Pakai perasaan. Kalau abangnya buka harga masuk akal, nego tipis lah buat ongkos parkir.
  • Cuci Bersih, Rebus Kalau Perlu: Ingat, ini baju bekas orang. Kita nggak tahu siapa yang pakai sebelumnya. Begitu sampai rumah, rendam pakai air panas dan deterjen anti-bakteri. Jangan langsung dipakai demi konten kalau nggak mau kena gatal-gatal.
  • Pakai Baju yang Nyaman: Jangan dandan terlalu rapi pas mau thrifting ke pasar. Pakai kaos oblong dan celana pendek aja. Selain biar nggak kegerahan, penjual biasanya bakal ngasih harga lebih mahal kalau kalian kelihatan kayak anak sultan yang baru turun dari mobil mewah.

Akhir kata, thrifting itu soal perjalanan, bukan cuma tujuan. Ini soal kesabaran, ketelitian, dan sedikit keberuntungan. Memang nggak semudah nge-klik keranjang kuning di TikTok, tapi kepuasannya berkali lipat lebih besar. Jadi, kapan kita mau meluncur ke pasar lagi? Kabari ya, siapa tahu kita bisa rebutan jaket denim bareng di tumpukan yang sama!