Harga Plastik Global Naik Imbas Konflik Timur Tengah, Tekan Biaya Hidup di Indonesia
Redaksi - Monday, 06 April 2026 | 01:59 AM


salsabilafm.com – Kenaikan harga bahan baku plastik di pasar global akibat konflik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan serius terhadap struktur biaya hidup di Indonesia. Sejumlah produsen makanan hingga pedagang dilaporkan mulai mengeluhkan lonjakan biaya kemasan berbahan plastik.
Peneliti Pusat Kajian Sosioekonomi Indonesia FEB Unair, Rumayya Batubara, menyebut plastik kini menjadi komponen krusial yang berpotensi memicu inflasi, bahkan hampir setara dengan bahan bakar minyak (BBM).
Menurutnya, tingginya sensitivitas plastik disebabkan penggunaannya yang masif di berbagai sektor industri. Gangguan rantai pasok global akibat pembatasan di Selat Hormuz serta fluktuasi harga minyak mentah dunia menjadi pemicu utama kenaikan harga tersebut.
"Plastik ini mirip seperti BBM, digunakan hampir di semua sektor, jadi sangat sensitif. Yang paling terdampak adalah sektor makanan dan minuman (F&B) yang sangat bergantung pada kemasan. Bahkan biaya kemasan bisa lebih mahal dari isi, hingga 50 persen," kata dia, seperti dilansir dari suarasurabaya.net, Senin (6/4/2025).
Kata Rumayya, kondisi ekonomi Indonesia semakin rentan karena sekitar 60 persen kebutuhan bahan baku plastik nasional masih bergantung pada impor. Dia menilai kondisi ini menjadi hantaman ganda bagi pelaku usaha, terutama UMKM. Selain harga bahan baku yang meningkat, pelemahan nilai tukar rupiah juga memperparah beban biaya produksi.
"Ada dua hal yang membuat ini berat, yaitu kenaikan harga bahan baku plastik dan pelemahan kurs rupiah. Pemerintah bisa mempertimbangkan pengurangan beban industri, seperti relaksasi PPN atau keringanan bea impor," tegasnya.
Sebagai solusi jangka pendek, dia menyarankan pelaku industri untuk mengalihkan sumber impor ke negara dengan basis produksi berbeda, seperti China yang menggunakan batubara sebagai bahan baku petrokimia.
Sementara dalam jangka panjang, Rumayya menilai kondisi ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mandiri dalam sektor kemasan. Dia menyoroti ironi swasembada pangan yang belum diimbangi dengan kemandirian produksi kemasan.
"Kita punya potensi besar dari limbah pangan untuk dikembangkan menjadi bioplastik, seperti dari kulit udang, sisa ikan, atau kulit singkong," jelasnya.
Untuk meredam dampak terhadap masyarakat dan pelaku UMKM, Rumayya juga mendorong optimalisasi peran koperasi sebagai penyangga harga melalui skema pembelian kolektif.
"Peran koperasi bisa dioptimalkan sebagai buffer, misalnya melalui pembelian bersama agar harga lebih terjangkau. Selain itu, masyarakat juga bisa mulai beralih ke pola konsumsi ulang atau pembelian dalam jumlah besar," pungkasnya. (*)
Next News

Kejar Target Kuota Siswa SR, Dinsos Sumenep Gandeng NU dan Muhammadiyah
9 hours ago

Peringati Bulan Bung Karno, Semua ASN Laki-laki di Sumenep Kenakan Peci Hitam Selama Juni
9 hours ago

Inovasi 'Marlena Tuku Santan' Dispendukcapil Sampang, 7 Dokumen Bisa Diterima Sekaligus
9 hours ago

BKPSDM: Jabatan Sekda Sampang Bisa Diperebutkan ASN dari Dalam Maupun Luar Daerah
9 hours ago

Tabrakan Maut di Pamekasan, 2 Pemuda Meninggal Dunia
9 hours ago

Dollar Tembus Rp18.000, Ini Penyebab Rupiah Terpuruk ke Level Terendah
9 hours ago

750 Santri Ponpes Daarul Rahman Ziarahi Keluarga Kiai Syukron Makmun di Sampang
9 hours ago

Dadan Hindayana Ditetapkan Tersangka, Satgas MBG Sampang Imbau Pengelola Dapur Evaluasi Internal
a day ago

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditetapkan sebagai Tersangka Korupsi Program MBG
a day ago

DLH Sumenep Temukan Pelanggaran Pengelolaan Limbah Dapur MBG: Ada yang Dibuang Sembarangan
a day ago





