Dollar Tembus Rp18.000, Ini Penyebab Rupiah Terpuruk ke Level Terendah
Redaksi - Thursday, 04 June 2026 | 06:38 AM


salsabilafm.com – Nilai tukar rupiah hari ini kembali menjadi sorotan setelah sempat menembus level psikologis Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS), sebuah posisi yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah perdagangan rupiah.
Berdasarkan data Investing, pada Kamis (4/6/2026) pukul 06.45 WIB, dollar hari ini tercatat berada di level Rp 18.015 per dollar AS.
Sementara itu, data Google Finance menunjukkan kurs dolar ke rupiah sempat menyentuh Rp 18.022 per dollar AS pada malam sebelumnya
Seiring berjalannya perdagangan, nilai tukar dollar ke rupiah hari ini perlahan bergerak turun kembali ke kisaran Rp 17.900 per dollar AS.
Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.966,5 per dollar AS, melemah 127,5 poin atau 0,71 persen dibandingkan hari sebelumnya. Lantas, apa yang membuat kurs dollar ke rupiah hari ini terus berada di bawah tekanan?
Chief Economist Bank Tabungan Negara Myrdal Gunarto menjelaskan, pelemahan rupiah tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga sejumlah kondisi di dalam negeri.
Mengutip data Bloomberg, pada Kamis (4/6/2026) pukul 09.30 WIB, kurs USD IDR berada di level Rp 18.028 per dollar AS, melemah 62 poin atau 0,35 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya
Menurut Myrdal, tekanan terhadap rupiah hari ini berasal dari kombinasi keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia, berkurangnya pasokan valuta asing (valas) domestik, hingga meningkatnya ketidakpastian global.
Salah satu faktor utama yang menekan harga dolar hari ini terhadap rupiah adalah perpindahan dana investor global dari negara berkembang (emerging market) ke negara maju (developed market). Di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia, investor cenderung mencari instrumen investasi yang dianggap lebih aman.
"Makanya kita lihat indeks di negara-negara maju, untuk indeks saham ya, banyak yang all time high. Dan kalau kita lihat kondisi ini merupakan refleksi dari aksi investor untuk cari aman di tengah kondisi global geopolitik yang kurang kondusif," ujarnya, Rabu (3/6/2026), dikutip dari kompas.
Selain kondisi global, investor asing juga disebut memperhatikan sejumlah perkembangan kebijakan di dalam negeri.
"Baik itu ada sorotan dari lembaga rating ataupun juga adanya sorotan dari investor global mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah yang terbaru," ucapnya.
Myrdal mengungkapkan, pada perdagangan Jumat (29/5/2026), dana asing yang keluar dari pasar saham mencapai sekitar 478,5 juta dollar AS. Sementara pada Selasa (2/6/2026), arus keluar dana asing masih berlanjut sebesar 78,13 juta dollar AS.
Dia juga menyoroti aksi jual investor asing pada 28 Mei 2026 yang banyak terjadi pada saham-saham konglomerasi dan saham yang terkait dengan penyesuaian komposisi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).
"Terutama untuk saham-saham konglomerat ataupun juga saham-saham yang terkait dengan pelepasan posisi MSCI," kata Myrdal.
Sementara itu, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra menilai pelemahan dollar ke rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, khususnya konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Bahkan sebelumnya, dia memperkirakan rupiah berpotensi menembus Rp 18.000 per dollar AS apabila ketegangan antara AS dan Iran terus berlanjut.
"Rupiah versus dollar AS sangat rentan dengan isu eksternal. (pelemahan rupiah) bisa sejauh mungkin kalau masalah (Iran-AS) gak beres-beres," kata Ariston, Rabu (3/6/2026).
Menurut Ariston, konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda membuat investor global terus memburu dollar AS sebagai aset aman atau safe haven.
"Situasi masih belum beres di Timur Tengah, masih belum jelas apakah perdamaian akan terjadi dalam waktu dekat. AS dan Iran masih terlihat saling serang. Dengan situasi ini, dollar masih kuat sebagai aset safe haven," ungkapnya
Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dollar AS meningkat sehingga nilai tukar dolar ke rupiah semakin tertekan.
Selain arus keluar modal asing, pelemahan rupiah ke dollar juga dipengaruhi faktor musiman berupa pembayaran dividen perusahaan kepada pemegang saham.
Setelah musim rapat umum pemegang saham (RUPS), kebutuhan valuta asing biasanya meningkat karena banyak perusahaan harus menyediakan dollar AS untuk membayar dividen kepada investor asing. "Kalau kita lihat ada faktor musiman lah ini seperti dividen, ini masih ada," ujarnya.
Meningkatnya permintaan valas di dalam negeri membuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar.
Faktor lain yang membebani kurs dollar ke rupiah hari ini adalah kenaikan harga minyak dunia. Ariston menjelaskan, konflik di Timur Tengah telah mendorong harga energi global meningkat.
Pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026) waktu setempat atau Rabu (3/6/2026) pagi WIB, harga minyak mentah Brent naik 1,02 dollar AS atau 1,1 persen menjadi 96 dollar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,60 dollar AS atau 1,7 persen menjadi 93,76 dollar AS per barel.
Menurutnya, kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi Indonesia yang masih mengandalkan impor energi.
"Kenaikan harga minyak ini juga mendorong kenaikan harga barang-barang konsumsi yang juga membebani perekonomian Indonesia," ucapnya.
Myrdal menambahkan, tekanan terhadap rupiah semakin besar karena surplus neraca perdagangan Indonesia mulai menipis. Pada April 2026, surplus perdagangan hanya sekitar 89 juta dollar AS.
"Makanya kenapa kemarin dari sisi trade surplus juga tipis banget, bulan April itu hanya sekitar 89 juta dollar AS. Jadi memang supply valas domestik juga kelihatannya ini sedang beratnya karena trade surplus kita juga sekarang lebih tipis," tuturnya.
Tipisnya surplus perdagangan membuat pasokan valuta asing di dalam negeri berkurang sehingga mempersempit ruang penguatan rupiah.
Berdasarkan data perdagangan pada Kamis (4/6/2026), 1 dolar berapa rupiah hari ini? Nilai tukarnya sempat mencapai kisaran Rp 18.015-Rp 18.028 per dollar AS, sebelum bergerak kembali ke area Rp 17.900 per dollar AS.
Ke depan, para ekonom menilai arah pergerakan USD IDR masih sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik global, arus modal asing, harga minyak dunia, serta kondisi pasokan valas di dalam negeri.
Ariston menegaskan, peluang penguatan rupiah akan lebih terbuka apabila ketegangan antara AS dan Iran mereda. "Kuncinya di perdamaian AS Iran untuk memicu pelemahan dollar AS," pungkas dia. (*)
Next News

Kejar Target Kuota Siswa SR, Dinsos Sumenep Gandeng NU dan Muhammadiyah
7 hours ago

Peringati Bulan Bung Karno, Semua ASN Laki-laki di Sumenep Kenakan Peci Hitam Selama Juni
7 hours ago

Inovasi 'Marlena Tuku Santan' Dispendukcapil Sampang, 7 Dokumen Bisa Diterima Sekaligus
7 hours ago

BKPSDM: Jabatan Sekda Sampang Bisa Diperebutkan ASN dari Dalam Maupun Luar Daerah
7 hours ago

Tabrakan Maut di Pamekasan, 2 Pemuda Meninggal Dunia
7 hours ago

750 Santri Ponpes Daarul Rahman Ziarahi Keluarga Kiai Syukron Makmun di Sampang
7 hours ago

Dadan Hindayana Ditetapkan Tersangka, Satgas MBG Sampang Imbau Pengelola Dapur Evaluasi Internal
a day ago

Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Ditetapkan sebagai Tersangka Korupsi Program MBG
a day ago

DLH Sumenep Temukan Pelanggaran Pengelolaan Limbah Dapur MBG: Ada yang Dibuang Sembarangan
a day ago

Tim SAR Gabungan Hentikan Pencarian ABK yang Jatuh di Perairan Utara Sampang
a day ago





