Harga Melonjak, Pemkab Sumenep Kaji Kemungkinan Bahan Pengganti Plastik
Redaksi - Friday, 10 April 2026 | 09:37 PM


salsabilafm.com - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, mulai mewacanakan untuk mencari bahan pengganti plastik. Ini menyusul lonjakan harga akibat konflik di Timur Tengah.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, mengatakan, saat ini kebutuhan plastik tetap tinggi dan digunakan hampir di semua sektor.
"Misalnya, plastik hari ini naik, kebutuhan para pedagang, termasuk juga kebutuhan masyarakat. Segala sesuatu sekarang kan peralatan, kan memakai plastik," kata Fauzi, Kamis (9/4/2026), dilansir dari Kompas.
Bupati dua periode itu menilai, kenaikan harga plastik ini perlu diantisipasi. Sehingga, Pemkab Sumenep menyiapkan langkah untuk mendorong kajian daur ulang dan mencari bahan alternatif.
"Itu nanti untuk daur ulang, tugasnya Brida (Badan Riset dan Inovasi Daerah)," ujar Fauzi.
Menurut dia, Brida Sumenep akan mengkaji kemungkinan penggunaan bahan pengganti plastik. Sebab, belum ada kepastian kapan konflik global berakhir.
"Kita tidak tahu perang ini berkepanjangan apa akan cepat berakhir, nanti Brida akan mengkaji itu. Kalau memang itu dirasa penting," kata Fauzi.
"Kebutuhan plastik itu menjadi kebutuhan penting hari ini, memang sangat penting. Karena seluruh peralatan apa pun ya itu menggunakan plastik," sambung dia.
Sebagai langkah awal, Pemkab Sumenep mendorong pemanfaatan limbah plastik untuk didaur ulang. "Daur ulang kan bisa dari bekas-bekas. Daun juga bisa jadi alternatif, yang bisa didaur ulang," kata Fauzi.
Di sisi lain, Pemkab Sumenep juga mewaspadai dampak kenaikan harga plastik terhadap inflasi. "Setiap kali ada konflik, inflasi akan selalu dipastikan terjadi," ujarnya.
Melalui Satgas Inflasi, Pemkab Sumenep rutin memantau harga komoditas setiap pekan. "Di Kabupaten Sumenep ada Satgas inflasi juga. Memang beberapa komoditi, bagaimana selalu memonitor. Data inflasi ini kan kita dapatkan setiap minggu," katanya.
Kata Fauzi, inflasi bisa dipicu faktor lokal maupun nasional sehingga penanganannya berbeda. Bahan komoditi, yang menjadi isu inflasinya bisa skala lokal, bisa skala nasional.
"Jadi kita terus menganalisa. Kalau inflasinya lokal, berarti ada kelalaian dalam mekanisme proses penanganan kita dalam mitigasi. Tapi, kalau misalnya skala nasional, ya kita harus mengambil langkah-langkah strategis," pungkasnya. (*)
Next News

Prabowo Akhirnya Terima Kartu Anggota NU, Berlaku Seumur Hidup
11 hours ago

Seruduk Truk Fuso Mogok di Akses Jembatan Suramadu, Pengemudi Ayla Tewas di Tempat
3 hours ago

Rumah Warga di Pamekasan Terbakar
3 hours ago

KH Abdul Hakim Mahfudz Terpilih Jadi Ketum PBNU 2026-2031
7 hours ago

Hasil Tabulasi Bakal Calon Ketum PBNU Muktamar Ke-35 Resmi Diserahkan ke AHWA
8 hours ago

AHWA Tetapkan KH. Miftachul Akhyar Sebagai Rais Aam PBNU 2026 - 2031
8 hours ago

9 Ulama Resmi Masuk AHWA Muktamar ke-35 NU
a day ago

Ditinggal Pengajian, Rumah Nenek di Sampang Ludes Terbakar
a day ago

Muktamar NU Sahkan Masa Iddah Eks Politisi 1 Tahun untuk Calon Ketum PBNU
a day ago

Rais dan Ketua NU Tingkat Pusat hingga Daerah Dilarang Rangkap Jabatan Politik
2 days ago




