Rabu, 8 April 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Mulai Langka, Harga LPG 3 Kg di Bangkalan Tembus Rp 25 Ribu

Redaksi - Wednesday, 08 April 2026 | 07:38 AM

Background
Mulai Langka, Harga LPG 3 Kg di Bangkalan Tembus Rp 25 Ribu
Warga di Jalan Halim Perdanakusuma Bangkalan menunjukkan tabung gas melon. ( Istimewa/)


salsabilafm.com -  Ketegangan di Timur Tengah sepertinya mulai terasa dampaknya di Kabupaten Bangkalan. Indikasinya, permintaan tabung gas LPG kemasan 3 kilogram yang terus meningkat dan harganya tembus Rp25 ribu. Ironisnya, tabung gas melon itu mulai langka di tingkat pengecer.


Fathur, warga Desa Keleyan, Kecamatan Socah, mengatakan, kelangkaan tabung gas melon mulai terjadi dalam beberapa hari terakhir.




Di beberapa pengecer, tabung gas bersubsidi itu mulai jadi rebutan. Sebab, tidak setiap saat tersedia.


Dia mengaku beberapa kali harus mengurungkan niatnya untuk menukar tabung gas. Sebab, hampir semua pengecer kosong.


"Beberapa hari ini di Socah sudah mulai langka, rata-rata di pengecer habis," katanya, Rabu (8/4/2026).




Selain langka, harga tabung gas melon juga mengalami kenaikan hingga mencapai Rp22 ribu. Harga tersebut, kata dia, bisa saja berubah sesuai lokasi pengecer berjualan.


Menurut dia, barang langka biasanya diikuti kenaikan harga. Sebab, permintaan semakin meningkat.




"Terbaru saya menukar tabung LPG 3 kg itu seharga Rp 22 ribu, naik sejak beberapa pekan lalu," tambahnya.


Khoiron, pemilik pangkalan LPG Gazan di Desa Martajasah menyatakan, kelangkaan tabung gas melon itu biasa terjadi setiap tahun.


Terutama setelah Lebaran, karena permintaan masyarakat meningkat. Padahal, lanjut dia, pendistribusian terbilang masih normal atau sesuai jadwal.




"Untuk saat ini masih lancar, tidak tahu lagi kalau ada gangguan di pusat akibat perang di Timur Tengah," ucapnya.


Sementara harga jual di pangkalan miliknya, dia mengaku masih mengacu pada keputusan gubernur tahun 2024. Yakni, Rp18.000 per tabung.




Namun, tidak menutup kemungkinan harga tersebut tidak sesuai harga eceran tertinggi (HET) jika permintaan di masyarakat terus meningkat. Sebab, di pedesaan harganya tembus Rp 25 ribu.


"Harga jual di pangkalan tidak naik, tapi kalau di pengecer ataupun di desa mengalami kenaikan harga," ungkapnya. (*)