Dia Bercerita Lewat Mata
Redaksi - Monday, 29 December 2025 | 06:33 PM


Sabtu malam kemarin, aku sengaja melihat-lihat pameran lukisan di gedung perpustakaan daerah. Ada 17 perupa lokal Sampang yang memajang karya-karyanya yang dibingkai dengan tema 'Titik Balik 7: WASPADA ". Para perupa yang tergabung dalam Komunitas Perupa Sampang (KPS) Seakan-akan menggambarkan bahwa sudah tujuh tahun mereka berbuat. Setiap mereka pameran, saya berusaha untuk hadir disana guna menikmati coretan-coretan cat yang indah.
Aku bukan Appraiser, Art Juror,Kurator apalagi seorang Art Critik. Yang kutulis ini adalah rasa hormat bagi mereka yang dengan gigih berjuang untuk mengenalkan seni lukis ke pentas Nasional. Ika berbeda pendapat, anggap ini hanyalah ilusi akibat menghirup indahnya sebuah lukisan.
dari Alwan turun ke Ghina
sulit melepaskan nama Alwan jika bicara seniman lukis di Sampang. Perupa senior bernama lengkap Chairul Alwan ini, cukup unik. Dia melewati beberapa 'periode' dalam berkarya. Tidak hanya tematik dalam karnyanya, seperti saat ini dia dalam periode hitam ke emasan, tapi dulu pernah dalam periode tanpa kanvas, Ia melukisnya dalam potongan kayu papan tak teratur. Sayang sekali saat itu belum sempat terekam dalam handphoneku.
Dan selanjutnya, kali ini saya terpukau oleh pelukis muda yang bernama Ghina Savira. Ia mencoba bercerita lewat signature object berulang, gambar MATA. Inilah sebuah "periode" ghina dalam perjalanan kariernya menerapkan gaya dan objek yang sama secara konsisten.
Penantian
Mengapa ghina terobsesi dengan mata? Mengapa ada angka romawi dan siluet manusia di pupilnya?. Dalam lukisan berjudul "Penantian". Seolah dia berkata, "aku lagi menunggu waktu melewati masa perjuangan ini untuk menjadi manusia sempurna".
Tidaklah tampak apa yang mau diraihnya, apakah sebuah cita-cita yang terpendam ataukah hanya sebuah keindahan gambar dengan dua warna dominan yang dipilih. Hitam dan putih, matanya terlihat suram, berat akan beban tujuan yang dinanti.

Sampai di Titik Ini
Ini gambaran mata yang memancarkan kebahagiaan. Ada toga sebagai lambang telah diraihnya sebuah babak perjalanan. Berbunga-bunga hatinya. Ada banyak kebahagiaan disana.
Sebuah metamorfose dari perubahan diri yang divisualkan dengan kupu-kupu. Apakah ini yang selama ini dinantikan?. Perlu berapa tahunkah untuk ungkapkan ini dalam sebuah karya?.
Sebenarnya lukisan ini pernah kulihat dalam stand pameran pada acara Pekan Literasi ang diselenggaran oleh Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Sampang. Tapi dengan menampilkan tiga lukisan pada objek yang sama, itu seolah otobiografi dalam kanvas.

Kebahagiaan
Kali ini, lukisan mata tidak tampil di pusat kanvas. Ia diposisi kiri dengan bunga-bunga yang berwarna tegas. Mata menjadi "pot" tumbuhnya keindahan.
Kita diajak untuk hanya melihat kebaikan, harapan yang terpenuhi dan semangat dalam berkarya

Periode metafora penglihatan, menunjukkan konsistensi pada satu objek. Ghina berhasil membawa sebuah cerita alur waktu perjalanan karyanya. Entah ada beberapa lukisan ber-objek mata yang telah dilukisnya. Atau ada beberapa yang masih disimpannya. Inilah tanda bahwa gina sangat matang dalam mengolah tema.
Next News

Filosofi Kamar Mandi: Antara Ruang Meditasi, Sumber Ide, dan Cerminan Kebersihan Diri
18 days ago

Dari Bau Warnet ke Panggung Megah: Evolusi Esports yang Bikin Geleng-Geleng Kepala
a month ago

Jadi Laki-Laki di Era Sekarang: Antara Tanggung Jawab dan Tekanan
a month ago

Inspirasi Outfit Streetwear Simpel untuk Aktivitas Sehari-hari
a month ago

Laki-Laki dan Emosi: Kenapa Sering Dipendam Sendiri?
a month ago

Gen Z dan Dunia Digital: Hidup Tanpa Batas atau Tanpa Arah?
a month ago

Hidup Lagi Capek-Capeknya? Mungkin Kamu Cuma Butuh Rebahan Tanpa Rasa Bersalah
a month ago

Teman Banyak, Tapi Kok Tetap Ngerasa Sepi?
a month ago

Dompet Tipis di Akhir Bulan: Drama yang Selalu Terulang
a month ago

Bangun Pagi Itu Susah, Tapi Mimpi Besar Nggak Bisa Ditunda
a month ago





