Data SUPAS 2025, Bondowoso dan Bangkalan Tercatat Angka Kematian Bayi Tertinggi di Jatim
Redaksi - Saturday, 06 June 2026 | 07:09 AM


salsabilafm.com – Angka kematian bayi dan balita
di Jawa Timur (Jatim) menunjukkan tren penurunan berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Kondisi tersebut menjadi indikator membaiknya derajat kesehatan masyarakat di provinsi ini.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim, Ir. Herum Fajarwati, mengatakan, hasil SUPAS 2025 mencatat Angka Kematian Kasar atau Crude Death Rate (CDR) Jatim sebesar 7,88 per 1.000 penduduk.
"CDR sebesar 7,88 mengindikasikan bahwa terdapat sekitar tujuh hingga delapan kematian per 1.000 penduduk Jatim dalam periode tertentu," ujar Herum, Sabtu (6/6/2026).
Selain itu, BPS juga mencatat perbaikan pada indikator kematian penduduk usia dini yang meliputi Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate/IMR), Angka Kematian Anak (Child Mortality Rate/CMR), dan Angka Kematian Balita (Under Five Mortality Rate/U5MR).
Menurut Herum, IMR Jatim pada SUPAS 2025 tercatat sebesar 11,84 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup. Angka tersebut mengalami penurunan signifikan dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010 yang mencapai 24,13.
"Penurunan ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak serta membaiknya kondisi kesehatan masyarakat secara umum," katanya.
Meski demikian, Herum mengungkapkan, masih terdapat disparitas angka kematian bayi antarwilayah di Jatim. Kota Surabaya mencatat IMR terendah sebesar 9,95, sedangkan Kabupaten Bondowoso menjadi daerah dengan IMR tertinggi, yakni 16,74.
Di wilayah Pulau Madura, Kabupaten Bangkalan tercatat memiliki IMR tertinggi sebesar 16,10, sementara Kabupaten Sumenep menjadi yang terendah dengan angka 15,28.
"Sebanyak sembilan kabupaten di Jatim telah mencatatkan IMR di bawah rata-rata nasional yang sebesar 14,12. Ini menjadi capaian yang cukup baik, namun tetap perlu upaya berkelanjutan untuk menekan angka kematian bayi di seluruh daerah," ujarnya.
Sementara itu, Angka Kematian Anak (CMR) juga mengalami penurunan. Hasil SUPAS 2025 menunjukkan CMR sebesar 1,87, lebih rendah dibandingkan hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 yang mencapai 2,15.
Adapun Angka Kematian Balita (U5MR) Jatim pada 2025 tercatat sebesar 13,71. Angka ini turun 1,93 poin dibandingkan hasil Long Form SP2020.
Herum menjelaskan, U5MR merupakan salah satu indikator penting untuk mengukur kondisi kesehatan dan kesejahteraan anak di suatu wilayah. Penurunan angka tersebut menunjukkan semakin baiknya kualitas layanan kesehatan, gizi, dan perlindungan terhadap anak.
"Tren penurunan angka kematian bayi, anak, dan balita menjadi sinyal positif bagi pembangunan kesehatan di Jatim. Ke depan, upaya peningkatan akses layanan kesehatan dan perbaikan kualitas hidup masyarakat perlu terus diperkuat agar capaian ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan," pungkasnya. (*)
Next News

26 Dapur MBG di Sampang Disetop Sementara, BGN Temukan Ketidakberesan Laporan Dana
6 hours ago

Gerebek Pulau Mandangin, Polisi Amankan 3 Terduga Pengedar Narkoba
6 hours ago

Pohon Tumbang Timpa Sepeda Motor dan Tutup Akses Jalan di Robatal Sampang
6 hours ago

Perkuat Ekonomi Lokal, Pemkab Sampang Gandeng Indomaret Pasarkan Produk UMKM
6 hours ago

Lepas Sambut, Letkol Herru: Saya Merasa Terhormat Jadi Bagian dari Kodim 0828/Sampang
6 hours ago

Pembalut Masih Dikenai PPN, DJP: Beban Pajak Efektif Setara 11 Persen
10 hours ago

Luar Biasa! Gita Nada Idaman AL-Munawarah Borong 6 Piala di WMC Season 5 Se-Jawa Timur
a day ago

Balap Liar di JLS Sampang, 36 Sepeda Motor Diamankan Polisi
a day ago

Melihat Sampang dari Seberang Jalan: Menggugat Pendidikan dan Ruang Perempuan Lewat Diskusi Literasi
a day ago

MUI dan HMI Bangkalan Gelar Bedah Buku Etika Pengolahan Air Limbah
a day ago





