Sejarah NU bagian Integral Sejarah Nasional, Ini Penjelasan Ketua Lesbumi PWNU Jatim
Redaksi - Saturday, 25 July 2026 | 05:08 AM


Sejarah Nahdlatul Ulama tak bisa dipinggirkan hanya karena penulisan Sejarah Nasional mengganjilkan dan meminggirkan peran kaum santri dan umat Islam dalam perjuangan bangsa Indonesia.
"Penulisan Sejarah Nasional Indonesia lazimnya bersifat objektif dan fair, mempertimbangkan peran-peran umat Islam, khususnya kaum santri, baik dalam Pergerakan Kemerdekaan, masa Revolusi Nasional Indonesia, hingga pada eksistensi Negara Republik Indonesia alias sejarah kontemporer kita," kata Riadi Ngasiran, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PWNU Jawa Timur, dalam forum Metodologi Riset Penulisan Sejarah yang digelar PC ISNU Kota Mojokerto, di kantor PCNU setempat, Jumat (24/7/2026) malam.
Acara dibuka Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Mojokerto, KH. Moh. Shodiqin Marzuqon, dipandu Ketua PC ISNU setempat Gus Saiful Amin. Diikuti sejumlah kader NU, baik lembaga LTN, maupun banom seperti IPNU, IPPNU, GP Ansor serta perwakilan MWCNU se-Kota Mojokerto.
Menurut sejarawan NU ini, Historiografi Nasional Indonesia, mempertimbangkan adanya sumber sejarah dan sejarah lisan, memoar para tokoh Nahdlatul Ulama dan pejuang Islam, dan kesaksian mereka.
"Peran Sejarah umat Islam, khususnya kaum santri dan Nahdlatul Ulama yang selama ini ditempatkan di pinggiran (peripherial) haruslah digeser ke Tengah Percaturan Peran untuk menghadirkan Sejarah Nasional secara objektif dan utuh. Untuk diperlukan ketersediaan data dan sumber penulisan yang komperehensif, " tutur pengkaji Sejarah Gerakan Bawah Tanah Circle Sjahririan.
Pria yang juga Ketua Tim Kerja Monumen Resolusi Jihad NU itu mengingatkan, dokumen dan arsip Nahdlatul Ulama telah menjadi bagian penting dalam Arsip Nasional, menjadi sumber primer dan utama yang bisa dimanfaatkan untuk Penulisan Sejarah Nasional Indonesia konteporer.
Pentingnya Sejarah Lokal
Pada bagian lain, Riadi Ngasiran menuturkan, penulisan Sejarah Nahdlatul Ulama dalam Konstelasi Sejarah Nasioal Indonesia secara utuh dibutuhkan data yang valid, dari sumber primer dan sumber skunder, dengan memanfaatkan penulisan Sejarah NU di tingkat lokal.
"Penulisan Sejarah NU di tingkat lokal (baik Cabang maupun Wilayah NU), memberikan panorama zaman dan cata pandang dengan pemikiran lateral yang bisa menggambarkan spirit zaman dan suasana yang melatarbelakanginya, " tegas Tim Kreatif Film Dokumenter Moseum Nahdlatul Ulama ini.
Menurutnya, peran tokoh sejarah lokal (baik Cabang maupun Wilayah), berkait dengan perjalanan Sejarah NU secara umum, mendapat porsi perhatian yang penting. Sejarah tidaklah sekadar menghadirkan aktor-aktor besar, melainkan juga peran aktor-aktor pendukungnya di pelbagai tingkatan.
"Di sinilah, ketersediaan dokumen, data, sumber primer dalam penulisan Sejarah Lokal dan Sejarah Nahdlatul Ulama secara Nasional, membuka peluang bagi penulisan Sejarah yang lebih utuh. Demikian pula pentingnya, memerhatikan panorama zaman keterkaitan dengan pergerakan sejarah dunia di kawasan lain selain Indonesia," pungkas Riadi Ngasiran. (*)
Next News

Pria di Pamekasan Diamankan Polisi, Tidak Bayar saat Belanja di Toko Kelontong
13 hours ago

Polisi Tangkap 3 Pengedar Sabu di Sumenep, Barang Bukti 0,62 Gram
13 hours ago

Sumur Bor Keluar Gas, ESDA Sumenep ke Lokasi Ambil Sampel Air
13 hours ago

8.187 KPM di Bangkalan Terindikasi Judi Online, 445 Ajukan Sanggah untuk Reaktivasi
13 hours ago

Prabowo Sebut Pemerintah Pusat Akan Ambil Alih Pengangkatan Guru
13 hours ago

Prabowo Sebut Kebocoran Ekspor Indonesia Capai Rp15.000 Triliun
13 hours ago

Pemuda 20 Tahun Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Kamar Mandi
13 hours ago

Nenek Hilang di Sampang Akhirnya Ditemukan Meninggal
13 hours ago

Prabowo Soroti Birokrat yang Disebut sebagai Deep State
14 hours ago

Alokasi Pupuk Bersubsidi 2026 di Sampang Meningkat
2 days ago





