AJI Jakarta dan AJI Surabaya Gelar Nobar Film 'Di Balik Ilusi Tembakau', Soroti Industri Rokok
Redaksi - Wednesday, 20 May 2026 | 06:47 AM


salsabilafm.com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya berkolaborasi dengan AJI Jakarta menyelenggarakan Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Film 'Di Balik Ilusi Tembakau' pada Selasa (19/5/2026) di Universitas Katolik Widya Mandala (UKWMS) Surabaya. Film dokumenter ini menunjukkan potret tentang paradoks industri rokok di Indonesia.
Sutradara Film Di Balik Ilusi Tembakau, Irvan Imamsyah menjelaskan, film ini membongkar bagaimana industri tembakau membangun citra kesejahteraan sambil meninggalkan jejak utang, penyakit, dan ketergantungan di banyak kehidupan.
Dalam film ini juga diperlihatkan kisah-kisah korban industri tembakau. Seperti petani tembakau yang tak kunjung sejahtera, penyintas yang berjuang merebut hidupnya kembali, keluarga yang kehilangan orang tercinta, hingga generasi muda yang terus menjadi target pasar.
"Di balik pencitraan industri tembakau, kami ingin menunjukkan bahwa ada kenyataan yang selama ini sengaja dibuat kabur. Terlihat bahwa industri ini 'silent killer' karena ujungnya pasti berat. Ada penyakit yang mengintai, ada buruh yang mulai tidak percaya industri," ucap Irvan.
Irvan menyatakan, film ini tidak hanya sekedar menjadi edukasi bagi perokok aktif maupun pasif. Tapi juga ruang diskusi bagi berbagai elemen seperti masyarakat sipil, pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, maupun industri tembakau.
Usai mengikuti agenda Nobar, Program Manager Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Nina Samidi menyatakan, film ini menunjukkan kenyataan bahwa regulasi Indonesia soal rokok dan industri tembakau terkesan mandek. Sebabnya, belum ada aturan jelas untuk melindungi masyarakat dari perilaku anti rokok.
"Contohnya, masih banyak anak-anak yang bandel merokok meski orang tuanya melarang. Itu terjadi karena mereka masih mudah menemukan rokok di warung, iklan rokok, dan lingkungan yang banyak perokok," paparnya.
Nina menambahkan, film ini menunjukkan bahwa industri tembakau tidak menunjukkan kepeduliannya terhadap buruh dan korban rokok. Menurut dia, ini tidak sekedar masalah kesehatan, tapi juga politik karena pembuat regulasi juga kerap dipengaruhi oleh pengusaha.
Sementara itu, dosen Psikologi Universitas Airlangga, Valina Khiarin Nisa mengatakan, film ini sangat komprehensif karena memperlihatkan masalah kesehatan, ekonomi, bahkan trauma psikis karena rokok. Film ini juga menunjukkan bahwa rasa nyaman dan fokus saat merokok yang selama ini dipercaya merupakan perasaan yang belum bisa teruji.
"Merokok bikin fokus itu kan hanya keyakinan para perokok. Tapi kan mereka belum menguji itu fakta atau bukan," jelasnya.
Valina juga berharap pemerintah bisa lebih tegas menerapkan sanksi bagi pelanggar aturan KTR. Sebab, aturan tersebut dinilai hanya sekedar slogan.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, dr Billy Daniel Messakh mengatakan, film ini sangat bagus untuk membantu pemerintah dalam mempromosikan hal-hal negatif soal rokok. Terlebih, regulasi yang dibuat oleh pemerintah daerah hanya bisa menekan masyarakat di satu sisi. Tekanan itu akan semakin lengkap jika dibantu dengan promosi film semacam ini.
Menurut dia, Surabaya harus semakin mengetatkan aturan terkait KTR. Misalnya, ada batasan yang jelas terkait pemasangan iklan rokok di dekat sekolah dan rumah sakit.
"Sekarang kita juga mengetatkan di kawasan perbelanjaan. Nantinya, ada larangan merokok di kawasan itu," jelasnya.
Selain itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah dr Mohamad Soewandhie itu juga menekankan, edukasi terbaik bagi anak-anak adalah di lingkungan keluarga. Dia berharap para orang tua semakin menekankan bahaya merokok kepada anak-anak.
Agenda ini juga disambut antusias peserta diskusi, salah satunya Inez asal Surabaya. Dia mengatakan film ini memberinya pengetahuan baru soal kesejahteraan petani tembakau, industri yang hanya menguntungkan para pemilik modal, dan kurangnya peran pemerintah dalam meregulasi distribusi rokok.
"Aku juga baru tercerahkan soal pengaruh desain kemasan dan iklan terhadap persepsi anak-anak untuk terjebak dalam candu rokok yang juga dikonfirmasi oleh salah satu narasumber dalam film," ucapnya.
Sebagai informasi, Surabaya dipilh sebagai kota pertama untuk roadshow perdana Film 'Di Balik Ilusi Tembakau'. Nantinya, ada lima kota lain yang dipilih untuk pemutaran film dan diskusi. (*)
Next News

Beras Naik Tak Menentu, Pedagang di Sumenep Bingung Tentukan Harga Jual
8 hours ago

3 Kambing Terindikasi Menderita Penyakit Orf, Ditemukan di Lapak Kurban Sumenep
8 hours ago

Dukung Pembangunan Yonif TP, Bupati Pamekasan: Ini Akan Berdampak Positif
9 hours ago

Kontrak Pengolahan TPST Berakhir, Sampah di Bangkalan Kembali Menggunung
9 hours ago

Permintaan Tinggi, Harga Sapi di Bangkalan Naik Jelang lduladha
9 hours ago

Kendala Anggaran, Kerusakan Fasilitas Air Mancur di Alun-alun Trunojoyo Sampang Dilakukan Bertahap
9 hours ago

Kasus Kekerasan Anak di Sampang Didominasi Persetubuhan
9 hours ago

Pemerintah RI Akui Masih Sulit Dapat Informasi 9 WNI Relawan Gaza yang Ditahan Israel
3 hours ago

451 Anggota DPR Hadiri Paripurna Perdana Bersama Prabowo
3 hours ago

Berjalan Kaki dari Bali, 57 Biksu Doa Bersama di Makam Gus Dur.
a day ago





