Jumat, 29 Mei 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

5 Tahun Tak Serap Garam Rakyat, PT Garam Dikritik Petambak Madura

Ach. Mukrim - Friday, 29 May 2026 | 06:51 AM

Background
5 Tahun Tak Serap Garam Rakyat, PT Garam Dikritik Petambak Madura
Manajer Hubungan Korporasi PT Garam, Wawan Wahyudi Yanto (Mukrim/Salsa/)

salsabilafm.com - Keberadaan PT Garam Unit Camplong dinilai belum memberikan dampak signifikan bagi petambak garam rakyat di Madura. Sebab, selama lima tahun terakhir perusahaan pelat merah tersebut disebut tidak melakukan penyerapan garam rakyat.


Selain itu, PT Garam juga dianggap menjadi pesaing bagi petambak. Sebab, badan usaha milik negara (BUMN) tersebut menjual garam produksinya langsung kepada pedagang maupun pabrikan dengan harga yang dinilai lebih murah.


Manajer Hubungan Korporasi PT Garam, Wawan Wahyudi Yanto, menyampaikan, hingga kini pihaknya memang belum melakukan penyerapan garam rakyat. Menurutnya, perusahaan masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat.




"Kami belum mendapat arahan dan kebijakan dari pemerintah. Jadi kami tetap menunggu arahan apakah sebagai pelaksana atau tidak," Katanya, Jum'at (29/5/2026). 


Dia menjelaskan, saat ini tugas PT Garam hanya melakukan survei harga garam di lapangan. Namun, hasil survei tersebut belum berdampak pada penetapan harga karena mekanisme harga tetap mengikuti pasar.




"Untuk itu saya masih belum bisa berkomentar mengenai keputusan harga," tambahnya.


Di sisi lain, Wakil Ketua Peguyuban Pelopor Petambak dan Pedagang Garam Madura, M Saiful, mengatakan, PT Garam sudah tidak lagi menyerap garam rakyat sejak tahun 2021.


"Semestinya PT Garam jadi ujung tombak kami, tapi belum melakukan penyerapan," katanya.




Menurut Saiful, keberadaan PT Garam saat ini justru dianggap menjadi pesaing petambak garam rakyat. Hal itu karena perusahaan menjual garam krosok kepada pedagang maupun pabrikan dengan harga lebih rendah.


"Malah harga yang ditawarkan lebih murah. Bukan menjadi penolong atau berpihak kepada rakyat, tapi malah jadi pesaing," ujarnya.




Saiful menilai kondisi tersebut membuat petambak kesulitan memperoleh keuntungan. Pedagang disebut lebih memilih garam produksi PT Garam yang kualitasnya dianggap lebih baik dibanding hasil produksi petambak rakyat.


"Selagi PT Garam itu ada, harga standar tidak ada kenaikan. Bahkan, cenderung turun ketika PT Garam mengeluarkan garamnya," ungkapnya.


Saiful berharap PT Garam lebih fokus memproduksi garam untuk kebutuhan sendiri dan tidak menjual langsung ke pabrikan. Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada anjloknya harga garam rakyat di tingkat petambak.




"Jadinya garam rakyat terkesan tidak ada nilainya. Apalagi PT Garam biaya operasionalnya dari pemerintah sehingga hasilnya lebih bagus. Berbeda dengan kami yang terseok-seok," pungkasnya. (Mukrim)