Rabu, 9 September 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Wilayah Madura Jadi Kawasan Terdampak Kekeringan Terparah di Jatim

Redaksi - Wednesday, 09 September 2026 | 04:46 AM

Background
Wilayah Madura Jadi Kawasan Terdampak Kekeringan Terparah di Jatim
Ilustrasi kekeringan warga membawa jerigen untuk mengambil air (Istimewa/)

salsabilafm.com  - Wilayah Madura jadi kawasan dengan dampak kekeringan cukup parah pada musim kemarau ini. Ribuan kepala keluarga (KK) telah terdampak kekeringan.


"Untuk kekeringan hingga hari ini masih sama jumlah daerah yang telah mengeluarkan status siaga darurat maupun tanggap darurat itu ada 24 kabupaten/kota. Yang menjadi perhatian dan yang terdampak terbanyak wilayah Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan," kata Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto saat dikonfirmasi detikJatim, Selasa (8/9/2026).


Gatot mengatakan, wilayah dengan dampak kekeringan terbanyak ada di Pamekasan. Di mana terdapat 5.994 KK yang terdampak kekeringan di wilayah tersebut.




"Kami sudah dropping air bersih di Pamekasan 160 ribu Liter. Pamekasan menjadi salah satu wilayah dengan potensi kekeringan terbesar, di mana ada 18.631 KK yang berpotensi terdampak," jelasnya.


Selain itu, Gatot menyebut Bangkalan menjadi salah satu wilayah yang juga terdampak kekeringan. Total ada 4.763 KK yang sudah terdampak.




"Di Bangkalan potensinya bisa mencapai 17.623 KK, dan saat ini sudah 4.763 KK terdampak. Di Bangkalan sudah dilakukan distribusi air bersih sebanyak 129 ribu Liter menggunakan APBD Pemkab Bangkalan," jelasnya.


Sementara untuk Sumenep, masih dilakukan pendataan untuk jumlah KK yang terdampak kekeringan saat ini.


"Kalau angka potensi tahun 2026 ini Sumenep ada sebanyak 58.400 KK, namun ini masih potensi. Data KK yang terdampak saat ini masih kita hitung," jelasnya.




Terkait upaya operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Madura, Gatot menyebut akan dilakukan apabila sudah ada awan penghujan yang bisa segera dimatangkan.


"OMC dilakukan apabila sudah dirasa ada potensi awan hujan. Kalau tanpa awan hujan, tidak mungkin dilakukan OMC. Sehingga kami terus berkoordinasi dengan BMKG untuk mengetahui apakah pergerakan awan dan anginnya menuju ke suatu wilayah yang dirasa pantas untuk dilakukan OMC, baru dilakukan OMC. Termasuk di wilayah utara belum dilakukan OMC karena memang posisinya kosong awan hujannya," tambahnya.




Gatot menambahkan BPBD Jatim menyiapkan 5.410 Ritase air bersih, di mana per satu Ritase berisi 5.000 Liter air bersih. "Kami juga siapkan tandon, tandon lipat, serta terpal dalam proses pendistribusian," tandasnya. (*)