Ujian Hidup dan Janji Pertolongan Allah
Redaksi - Thursday, 19 February 2026 | 09:00 AM


Selamat Datang di Fase Hidup yang Isinya Cuma "Sabar" dan "Ya Sudahlah"
Pernah nggak sih kamu bangun pagi, baru buka mata, terus hal pertama yang muncul di otak bukan "Alhamdulillah masih hidup," tapi malah "Apalagi nih hari ini?" Kalau pernah, selamat, kamu resmi jadi peserta tetap di universitas kehidupan yang kurikulumnya nggak pernah jelas tapi ujiannya datang tiap hari. Ujian hidup itu emang nggak ada jadwal pastinya, nggak kayak UTS atau UAS yang bisa kita antisipasi pakai Sistem Kebut Semalam (SKS). Dia datangnya random banget, kayak tagihan paylater yang tiba-tiba jatuh tempo padahal perasaan baru kemarin belanja.
Lucunya, standar ujian hidup tiap orang itu beda-beda banget. Ada yang lagi pusing karena dompetnya lebih tipis dari tisu wajah, ada yang lagi nangis-nangis di pojokan karena diputusin pas lagi sayang-sayangnya, sampai ada yang stres cuma gara-gara bingung mau pesan makan siang apa lewat ojek online. Semuanya sah-sah saja disebut ujian. Masalahnya, kadang masyarakat kita hobi banget membanding-bandingkan penderitaan. "Halah, baru gitu aja sedih, liat tuh si itu lebih parah." Kalimat-kalimat macam ini bukannya bikin semangat, malah bikin kita makin merasa bersalah karena sedih. Padahal ya, kapasitas tangki emosi orang kan beda-beda, Bos.
Ujian yang Namanya Quarter-Life Crisis
Buat kita yang ada di rentang usia 20-an sampai awal 30-an, ujian hidup itu punya nama keren: Quarter-Life Crisis. Di fase ini, tiba-tiba dunia terasa kayak perlombaan lari yang kita lupa daftar tapi dipaksa ikut. Lihat Instagram, teman sebaya sudah ada yang jadi manajer, ada yang beli rumah hasil keringat sendiri, atau minimal sudah ada yang posting foto USG anak pertama. Sementara kita? Masih sibuk mikirin gimana caranya biar gaji nggak cuma numpang lewat di tanggal 5 setiap bulannya.
Efeknya apa? Overthinking parah. Kita mulai meragukan segala keputusan yang sudah kita ambil. "Gue salah ambil jurusan nggak sih?" atau "Kenapa ya gue nggak seberuntung dia?" Pertanyaan-pertanyaan ini kayak kaset rusak yang muter terus di kepala pas malam-malam sebelum tidur. Padahal kalau dipikir-pikir, apa yang kita lihat di media sosial itu kan cuma highlight reel-nya doang. Kita nggak pernah tahu berapa kali mereka nangis di kamar mandi kantor atau berapa banyak cicilan yang harus mereka tutup tiap bulannya. Ujian hidup itu seringkali nggak kelihatan dari luar, dia rapi tersembunyi di balik filter Instagram Story yang estetik.
Antara Toxic Positivity dan Realita yang Pahit
Di tengah gempuran ujian yang nggak habis-habis, munculah tren "healing" dan "self-reward". Katanya sih buat menjaga kesehatan mental. Tapi jujur deh, kadang self-reward kita itu sebenarnya cuma mekanisme pelarian yang bikin kantong makin boncos. Lagi pusing kerjaan, eh malah check-out keranjang belanjaan. Akhirnya apa? Masalah lama belum selesai, masalah baru (utang) malah nambah. Ini yang namanya lingkaran setan yang dibungkus dengan narasi "mencintai diri sendiri".
Belum lagi kalau kita curhat ke orang, terus jawabannya cuma "Sabar ya, semua akan indah pada waktunya." Wah, rasanya pengen banget ngasih tahu kalau kita tuh butuh solusi atau minimal didengerin, bukan butuh quotes motivasi yang ada di kalender meja. Toxic positivity ini kadang bikin ujian hidup terasa lebih berat karena kita dipaksa buat selalu kelihatan oke-oke aja. Padahal nggak apa-apa banget kok kalau sesekali kita ngerasa nggak sanggup. Hidup itu bukan film Hollywood yang durasinya cuma dua jam dan selalu berakhir happy ending dengan adegan pelukan di bawah matahari terbenam. Hidup itu maraton panjang yang rutenya penuh lobang dan kerikil tajam.
Menemukan Makna di Balik Gempuran Cobaan
Katanya sih, manusia itu nggak bakal dikasih ujian yang melebihi batas kemampuannya. Kalimat ini sering banget kita dengar, tapi pas lagi kena masalah, rasanya pengen protes: "Tuhan, kayaknya Engkau salah nilai limit kemampuan saya deh." Namun, kalau kita tarik napas dalam-dalam dan coba melihat ke belakang, ternyata banyak ujian yang dulu kita anggap "kiamat", sekarang cuma jadi cerita lucu pas lagi nongkrong di warkop. Dulu pas putus cinta rasanya dunia mau runtuh, sekarang malah ketawa lihat foto mantan yang ternyata pilihannya makin aneh-aneh.
Ujian hidup itu sebenarnya cara alam semesta buat nge-upgrade kapasitas diri kita. Tanpa ada gesekan, kita nggak akan pernah jadi permata yang berkilau (ciee, agak puitis dikit). Orang yang hidupnya lempeng-lempeng aja biasanya bakal kaget pas kena senggol dikit. Tapi mereka yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan, biasanya punya mental yang lebih "badak". Mereka tahu kalau badai pasti berlalu, walaupun pas badainya datang ya tetap aja harus basah-basahan dan kedinginan.
Jadi, kalau hari ini kamu merasa beban hidup lagi berat-beratnya, coba deh istirahat sebentar. Nggak perlu ambisius buat nyelesaiin semuanya hari ini juga. Hidup itu bukan balapan siapa paling cepat sampai garis finish, karena garis finish kita semua itu sama: tanah berukuran satu kali dua meter. Yang penting itu gimana kita menikmati perjalanannya, lengkap dengan segala drama, air mata, dan tawa-tawa kecil di sela-sela kesedihan.
Terakhir, jangan lupa buat selalu berbuat baik sama diri sendiri. Kalau dunia sudah cukup jahat sama kamu, jangan ikut-ikutan menjahati diri sendiri dengan pikiran-pikiran buruk. Tarik napas, minum kopi (atau boba, terserah), dan bilang ke diri sendiri: "Oke, hari ini berat, tapi gue hebat karena masih bertahan." Karena pada akhirnya, lulus atau nggaknya kita dari ujian hidup bukan ditentukan oleh seberapa sukses kita secara materi, tapi seberapa mampu kita menjaga kewarasan dan kemanusiaan kita di tengah dunia yang makin gila ini.
Next News

Kholil, Winner Duta Kesehatan Jawa Timur 2026: Gaungkan Gerakan Sya'ban Sehat, Ramadhan Kuat
11 hours ago

Astaghfirullah: Life Hack Paling Murah tapi Paling Ampuh
14 hours ago

Rezeki Nggak Selalu Soal Saldo
14 hours ago

Gacha Kehidupan dan Skenario Langit
14 hours ago

Mencari Hening di Dunia yang Tak Pernah Diam
14 hours ago

Plot Twist Hidup: Ternyata Kita Cuma Salah Sangka
14 hours ago

Di Tengah Dunia yang Terburu-Buru, Masihkah Kita Bisa Bersabar?
14 hours ago

Berusaha Sepenuh Hati, Melepaskan dengan Tawakal
14 hours ago

Doa Bukan Sekadar Permintaan, Tapi Bentuk Keimanan
13 hours ago

Setiap Detik Akan Ditanya: Sudah Siapkah Kita?
14 hours ago





