Plot Twist Hidup: Ternyata Kita Cuma Salah Sangka
Redaksi - Thursday, 19 February 2026 | 09:00 AM


Husnuzan: Seni Menjinakkan Overthinking Biar Nggak Dikit-Dikit Baper
Pernah nggak sih kamu lagi asyik scrol-scrol media sosial, terus tiba-tiba lihat postingan temen geng kamu lagi nongkrong di kafe hits, tapi kamunya nggak diajak? Detik itu juga, otak kamu langsung bikin skenario film thriller. "Wah, mereka sengaja nih nggak ngajak gue," atau "Jangan-jangan mereka lagi ngomongin gue di sana." Perasaan sesak mulai muncul, jempol pengen banget ngetik sindiran di Story, dan mood seharian langsung anjlok ke level paling bawah.
Nah, di momen-momen kayak gini lah, sebuah konsep yang sering kita dengar di pelajaran agama dulu sebenarnya punya peran krusial buat menyelamatkan kesehatan mental kita. Namanya Husnuzan. Kedengarannya mungkin sangat "guru agama banget", tapi percayalah, Husnuzan itu adalah life hack paling ampuh buat manusia modern yang hobi banget pelihara overthinking.
Bukan Sekadar Berpikir Positif ala Motivator
Kalau kita bicara soal Husnuzan, banyak orang sering menyamakannya dengan positive thinking. Ya, nggak salah sih, tapi Husnuzan punya kedalaman yang beda. Secara harfiah, Husnuzan artinya "berprasangka baik". Ini bukan cuma soal maksa diri buat senyum saat dunia lagi runtuh, tapi lebih ke arah mengatur mindset supaya nggak gampang terjebak dalam lubang prasangka buruk yang melelahkan.
Bayangkan otak kita itu kayak mesin pencari Google. Kalau kita ngetik kata kunci negatif, yang keluar ya berita-berita buruk. Sebaliknya, Husnuzan itu kayak kita lagi masang filter biar hasil pencariannya tetap adem. Bedanya sama toxic positivity adalah Husnuzan nggak nyuruh kamu mengabaikan fakta. Husnuzan cuma nyuruh kamu buat milih opsi penjelasan yang paling nggak menyakiti hati kamu sendiri selama faktanya belum jelas.
Kenapa Kita Senang Banget Suuzan?
Jujur aja, secara biologis, manusia itu emang agak "disetel" buat lebih waspada sama hal-hal buruk. Zaman dulu, kalau ada semak-semak goyang, nenek moyang kita harus mikir itu harimau (suuzan), biar mereka lari dan selamat. Kalau mereka mikir itu cuma angin (husnuzan) padahal ternyata beneran macan, ya tamatlah riwayat mereka. Jadi, prasangka buruk itu sebenarnya mekanisme bertahan hidup.
Tapi masalahnya, sekarang kita nggak hidup di hutan. "Semak goyang" di zaman sekarang itu bentuknya pesan WhatsApp yang cuma di-read doang, atau gebetan yang tiba-tiba ilang dari radar. Kalau kita tetap pakai mode bertahan hidup ala manusia purba buat ngadepin masalah sepele kayak gitu, yang ada kita bakal capek sendiri. Suuzan itu boros energi, beneran deh. Kamu capek mikirin skenario jahat orang lain, padahal orang yang kamu curigai mungkin lagi sibuk benerin genteng bocor atau ketiduran habis makan seblak.
Husnuzan Kepada Takdir: Menata Hati Saat Rencana Ambyar
Salah satu level tertinggi dari Husnuzan adalah Husnuzan kepada Tuhan atau takdir. Jujur, ini bagian yang paling susah. Gimana mau prasangka baik kalau sudah belajar mati-matian tapi tetep nggak lulus ujian? Atau udah nabung lama buat beli tiket konser, eh malah kepakai buat benerin motor yang tiba-tiba mogok?
Di sinilah seninya. Husnuzan kepada takdir itu kayak kita lagi nonton film yang plot twist-nya banyak banget. Kita mungkin nggak suka sama adegan sedih di tengah-tengah, tapi kita percaya kalau sutradaranya punya ending yang epik. Mengadopsi pemikiran "mungkin ini cara Tuhan buat ngelindungin gue dari sesuatu yang lebih buruk" itu jauh lebih menenangkan daripada ngomel-ngomel sama semesta sambil nangis di bawah pancuran shower.
Tips Biar Nggak Dikit-Dikit "Nethink"
Terus gimana cara melatih otot Husnuzan ini biar makin kuat? Pertama, cobalah terapkan aturan "Mungkin Saja". Setiap kali ada pikiran buruk muncul tentang orang lain, langsung lawan pakai kalimat "mungkin saja".
- "Dia nggak bales chat gue, mungkin saja dia lagi HP-nya mati."
- "Dia tadi lewat nggak nyapa, mungkin saja dia lagi sakit gigi jadi nggak fokus."
- "Bos mukanya ditekuk pas lihat kerjaan gue, mungkin saja dia lagi berantem sama istrinya."
Kedua, kurangi stalking. Media sosial itu sarang paling subur buat numbuhin suuzan. Kita cuma lihat sepotong hidup orang, terus kita bikin narasi sendiri di kepala. Padahal, apa yang kita lihat seringkali cuma permukaan. Dengan mengurangi asupan kepo yang nggak perlu, kita memberikan ruang buat otak kita buat istirahat dari asumsi-asumsi liar.
Husnuzan Itu Bikin Hidup Lebih Ringan
Pada akhirnya, Husnuzan itu manfaatnya bukan buat orang lain, tapi buat diri kita sendiri. Orang yang hobi berprasangka baik itu wajahnya biasanya lebih santai, tidurnya lebih nyenyak, dan hubungannya sama orang lain lebih awet. Kita nggak bakal gampang kesulut emosi cuma gara-gara hal sepele.
Dunia ini udah cukup berisik dan penuh sama konflik. Nggak perlu ditambah lagi dengan drama-drama hasil imajinasi buruk kita sendiri. Jadi, yuk pelan-pelan mulai belajar buat kasih celah di hati kita buat kemungkinan-kemungkinan baik. Kalaupun nantinya ternyata prasangka baik kita salah, setidaknya kita sudah sempat merasa tenang untuk beberapa waktu. Daripada sudah capek-capek suuzan, eh ternyata kita yang salah sangka. Malunya itu lho, awet banget!
Ingat, hidup itu terlalu pendek buat dihabisin cuma buat nebak-nebak keburukan orang lain. Mending waktunya dipakai buat Husnuzan, biar hati adem, pikiran jernih, dan hidup jadi lebih santuy. Chill aja, mungkin emang jalannya harus begini.
Next News

Kholil, Winner Duta Kesehatan Jawa Timur 2026: Gaungkan Gerakan Sya'ban Sehat, Ramadhan Kuat
10 hours ago

Astaghfirullah: Life Hack Paling Murah tapi Paling Ampuh
12 hours ago

Rezeki Nggak Selalu Soal Saldo
12 hours ago

Gacha Kehidupan dan Skenario Langit
12 hours ago

Mencari Hening di Dunia yang Tak Pernah Diam
12 hours ago

Di Tengah Dunia yang Terburu-Buru, Masihkah Kita Bisa Bersabar?
12 hours ago

Berusaha Sepenuh Hati, Melepaskan dengan Tawakal
12 hours ago

Doa Bukan Sekadar Permintaan, Tapi Bentuk Keimanan
11 hours ago

Setiap Detik Akan Ditanya: Sudah Siapkah Kita?
12 hours ago

Ujian Hidup dan Janji Pertolongan Allah
12 hours ago





