Kamis, 19 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Doa Bukan Sekadar Permintaan, Tapi Bentuk Keimanan

Redaksi - Thursday, 19 February 2026 | 10:00 AM

Background
Doa Bukan Sekadar Permintaan, Tapi Bentuk Keimanan
Doa Bukan Sekadar Permintaan, Tapi Bentuk Keimanan ( Istimewa/)

Seni Mengetuk Pintu Langit: Kenapa Kita Masih Berdoa Meski Sering Merasa Gak Didengar?

Pernah gak sih, pas lagi naik motor terus tiba-tiba mendung gelap, kamu spontan ngebatin, "Aduh Tuhan, tolong jangan hujan dulu, jas hujan saya bolong"? Atau saat lagi nunggu pengumuman tes kerja yang saingannya ribuan orang, tiba-tiba kamu jadi mendadak religius dan janji bakal sedekah kalau lolos? Ya, itulah doa. Sebuah ritual yang katanya sakral, tapi seringkali kita perlakukan seperti pesan WhatsApp ke teman akrab yang isinya penuh dengan permintaan tolong.

Doa itu unik. Ia adalah jembatan antara rasa putus asa manusia dan harapan yang entah datangnya dari mana. Di era yang serba digital dan serba cepat ini, doa masih punya tempat tersendiri. Meski kita sudah punya Google Maps untuk nyari jalan atau ChatGPT buat ngerjain tugas, ada satu ruang kosong di hati manusia yang cuma bisa diisi lewat percakapan "jalur langit". Istilah jalur langit ini belakangan lagi tren banget di kalangan anak muda, seolah-olah doa adalah jalur VIP untuk mendapatkan apa yang mustahil diraih lewat kerja keras semata.

Tapi kalau kita mau jujur-jujuran nih, gaya berdoa kita itu seringkali mirip kayak orang lagi belanja di Shopee. Kita pilih-pilih keinginannya, masukin ke keranjang harapan, terus berharap "paket"-nya sampai besok pagi dengan layanan kilat. Kita sering lupa kalau doa itu bukan sekadar daftar belanjaan. Doa itu, kalau kata orang-orang bijak, adalah seni berkomunikasi. Dan yang namanya komunikasi, harusnya dua arah, kan? Bukan cuma satu arah sambil maksa-maksa Tuhan buat nurutin semua mau kita.

Manifesting vs Doa: Bedanya Tipis atau Sama Saja?

Belakangan, istilah "manifesting" atau "law of attraction" lagi naik daun. Katanya, kalau kita fokus mikirin sesuatu, alam semesta bakal bekerja buat mewujudkannya. Kalau dilihat-lihat, ini sebenarnya mirip banget sama konsep doa. Bedanya, doa punya objek yang jelas: Tuhan. Sementara manifesting kesannya lebih sekuler dan mandiri. Namun, intinya tetap satu: manusia itu makhluk yang lemah dan butuh pegangan. Kita butuh merasa bahwa ada kekuatan yang lebih besar dari diri kita yang bisa membantu mengatur kekacauan di dunia ini.

Lucunya, banyak dari kita yang baru ingat berdoa pas lagi kepepet doang. Istilahnya "doa darurat". Pas lagi senang, lagi banyak uang, atau lagi asyik nongkrong, doa cuma jadi formalitas di akhir ibadah yang kadang kita baca sambil mikirin mau makan apa habis ini. Tapi begitu masalah datang—entah itu putus cinta, tagihan pinjol nunggak, atau skripsi ditolak dosen—wah, tiba-tiba durasi doanya bisa ngalahin durasi nonton Netflix. Kita jadi ahli sastra mendadak, menyusun kata-kata paling puitis supaya Tuhan luluh.

Fenomena ini sebenarnya manusiawi banget. Kita cenderung mencari perlindungan saat merasa terancam. Tapi yang jadi masalah adalah ketika kita merasa "kecewa" sama Tuhan karena doa kita gak dikabulkan tepat waktu. Kita merasa sudah bayar "mahar" berupa ibadah, terus protes kenapa barangnya gak dikirim-kirim. Padahal, mungkin saja permintaannya emang gak cocok buat kita, atau waktunya yang belum pas. Bayangin kalau semua doa manusia dikabulkan saat itu juga, dunia mungkin bakal kacau balau karena keinginan orang itu seringkali tabrakan satu sama lain.

Doa Sebagai Medium Curhat Paling Aman

Satu hal yang paling keren dari doa adalah fungsinya sebagai katarsis mental. Di dunia di mana kesehatan mental jadi isu penting, doa sebenarnya adalah bentuk "self-healing" paling murah dan efektif. Pas kita berdoa, kita sebenarnya lagi ngobrol sama diri sendiri sekaligus sama Pencipta. Kita mengeluarkan beban yang gak bisa kita ceritain ke teman, bahkan ke sahabat paling dekat sekalipun. Kenapa? Karena Tuhan gak bakal nge-judge kita, gak bakal bocorin rahasia kita ke akun gosip, dan gak bakal bilang "Halah, gitu doang kok sedih."

Ada kelegaan yang luar biasa setelah kita menumpahkan air mata di atas sajadah atau di sudut gereja yang sepi. Secara psikologis, ini memberikan rasa tenang karena kita merasa beban itu sudah "diserahkan" ke pihak yang lebih berkuasa. Kita jadi punya harapan baru buat menjalani hari esok. Doa mengubah rasa takut menjadi rasa percaya. Meskipun keadaan mungkin belum berubah, tapi perspektif kita terhadap masalah itulah yang biasanya bergeser duluan.

Makanya, gak heran kalau banyak orang yang tetap rajin berdoa meski secara logika permintaannya sulit terwujud. Karena bagi mereka, hasil akhir itu nomor dua. Yang utama adalah proses koneksi itu sendiri. Merasa didengarkan oleh Penguasa Alam Semesta itu adalah privilege yang gak bisa dibeli pakai kartu kredit manapun.

Gaya Berdoa Anak Zaman Sekarang

Kalau kita perhatikan, gaya doa anak muda sekarang juga mulai bergeser. Gak selalu harus pakai bahasa Arab yang kaku atau bahasa Indonesia yang baku banget kayak lagi baca UUD 45. Banyak yang doanya pakai bahasa gaul, campur-campur bahasa Inggris, atau bahkan cuma sekadar ngomong dalam hati sambil dengerin lagu galau. "Tuhan, jujurly aku capek banget hari ini, tolong dong dikasih sign kalau aku harus lanjut atau berhenti." Gaya santai begini justru bikin hubungan sama Tuhan terasa lebih personal dan gak berjarak.

Bahkan di media sosial, doa jadi konten. Kita sering lihat status "Doakan ya guys semoga lancar" atau "Jalur langit emang gak pernah gagal." Meskipun kadang terkesan pamer kesalehan, tapi ini menunjukkan kalau doa sudah jadi bagian dari lifestyle. Kita ingin melibatkan spiritualitas dalam setiap jengkal kehidupan kita, termasuk di dunia maya. Selama niatnya bukan buat pansos doang, ya sah-sah saja sih.

Kesimpulan: Doa Adalah Energi

Pada akhirnya, doa itu bukan cuma soal meminta. Ia adalah soal mengakui bahwa kita ini bukan siapa-siapa tanpa bantuan kekuatan lain. Doa adalah pengingat agar kita tetap rendah hati saat di atas, dan tetap punya harapan saat di bawah. Doa adalah energi yang membuat kita tetap waras di tengah dunia yang makin gila ini.

Jadi, jangan berhenti mengetuk pintu langit. Meskipun kadang pintunya kerasa kayak lagi dikunci rapat-rapat, atau Tuhan lagi "read" doang tapi gak kunjung balas, tetaplah berkomunikasi. Siapa tahu, Tuhan bukan gak mau mengabulkan, tapi Dia lagi nyiapin skenario yang jauh lebih plot twist dan keren daripada yang kita bayangkan. Lagipula, apa sih ruginya ngobrol sama Tuhan? Pulsa gak habis, kuota gak kepotong, dan hati jadi lebih tenang. Itu sudah lebih dari cukup, kan?