Kamis, 19 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Setiap Detik Akan Ditanya: Sudah Siapkah Kita?

Redaksi - Thursday, 19 February 2026 | 09:00 AM

Background
Setiap Detik Akan Ditanya: Sudah Siapkah Kita?
Setiap Detik Akan Ditanya: Sudah Siapkah Kita? ( Istimewa/)

Waktu dalam Islam: Lebih dari Sekadar Putaran Jarum Jam dan Drama Deadline

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau sehari itu kayaknya cepet banget lewat? Baru juga merem bentar sehabis Subuh, eh tahu-tahu udah denger suara azan Zuhur. Belum kelar kerjaan satu, eh udah Ashar. Tiba-tiba Maghrib, Isya, terus kita rebahan lagi sambil scroll TikTok sampai jam dua pagi. Gitu terus siklusnya sampai kita tersadar kalau umur sudah kepala tiga, tapi pencapaian masih gini-gini aja. Di titik ini, kita biasanya baru kepikiran: "Gue ngapain aja ya selama ini?"

Dalam Islam, urusan waktu itu bukan perkara sepele. Serius, ini bukan cuma soal biar nggak telat ngantor atau sekadar ngejar deadline tugas kuliah yang dosennya galak. Kalau kita buka Al-Qur'an, Tuhan tuh sering banget bersumpah pakai waktu. Ada Wal-Ashr (demi masa), Wal-Lail (demi malam), Wadh-Dhuha (demi waktu dhuha), sampai Wal-Fajr (demi waktu fajar). Ibaratnya nih, kalau Tuhan sampai bersumpah pakai sesuatu, berarti sesuatu itu krusial banget. Kayak kalau temen kamu bilang "Sumpah demi apa pun," biasanya infonya valid dan penting, kan?

Barakah: Misteri Waktu yang Nggak Bisa Dihitung Pakai Kalkulator

Ada satu konsep dalam Islam yang mungkin nggak bakal kalian temuin di buku manajemen waktu ala Silicon Valley, namanya Barakah atau berkah. Pernah nggak kalian lihat ada orang yang sibuknya minta ampun, anaknya banyak, kerjaannya numpuk, tapi dia masih sempat ngaji, sempat olahraga, bahkan sempat bantuin tetangga? Sebaliknya, ada orang yang pengangguran premium, waktunya luang banget, tapi disuruh mandi aja malesnya nauzubillah. Nah, di situlah letak bedanya waktu yang berkah sama yang nggak.

Waktu yang berkah itu bukan berarti jumlah jamnya nambah jadi 30 jam sehari. Jamnya tetap 24, tapi "kualitas" di dalamnya itu padat banget. Dalam perspektif Islam, waktu itu modal utama manusia. Kalau uang hilang, kita bisa cari lagi lewat side hustle atau jualan preloved. Tapi kalau waktu hilang satu detik aja, mau dibayar pakai emas seberat Monas pun nggak bakal balik. Makanya, kalau kita ngerasa waktu kita habis cuma buat hal-hal yang nggak jelas alias unfaedah, mungkin kita perlu recheck lagi, jangan-jangan keberkahannya lagi "disita" karena kita terlalu sibuk sama urusan duniawi yang nggak ada ujungnya.

Ritme Ibadah: Pomodoro Versi Syariat

Sekarang lagi ngetren yang namanya teknik Pomodoro buat produktivitas, di mana kita kerja 25 menit terus istirahat 5 menit. Padahal, Islam udah punya sistem manajemen waktu yang jauh lebih paten sejak 1400 tahun lalu lewat salat lima waktu. Kalau dipikir-pikir, salat itu kayak checkpoint dalam game. Kita kerja dari pagi, terus "dipaksa" berhenti pas Zuhur buat recharge mental dan spiritual. Terus lanjut lagi sampai Ashar, berhenti lagi. Begitu seterusnya.

Sistem ini sebenarnya jenius banget buat ngejaga kesehatan mental kita biar nggak gampang burnout. Salat itu momen buat narik napas dari hiruk-pikuk dunia yang toxic ini. Sayangnya, kita sering anggep salat itu beban atau pengganggu waktu kerja. Padahal, kalau kita bisa nyesuain ritme hidup sama waktu salat, hidup tuh kerasa lebih teratur. Kita jadi punya target-target jangka pendek: "Oke, kerjaan ini harus kelar sebelum Ashar." Secara nggak sadar, itu melatih disiplin yang lebih tinggi daripada sekadar pasang alarm di HP.

Penyakit "Nanti-Nanti" dan Jebakan Taswif

Ada satu istilah yang sering disebut sama para ulama, namanya Taswif. Artinya itu hobi bilang "nanti saja" atau "entar dulu deh." Ini nih penyakit kronis kaum muda zaman sekarang, termasuk saya juga sih kadang-kadang. Kita sering ngerasa kalau umur kita masih panjang. "Ah, masih muda ini, puas-puasin main dulu, tobatnya ntar aja kalau udah ubanan." Padahal, siapa yang bisa jamin kita bakal sampai ke hari esok? Di dalam Islam, menunda kebaikan itu dianggap sebagai salah satu tipu daya setan yang paling halus.

Dunia ini ibarat ladang, dan akhirat itu masa panennya. Kalau kita nggak nanem apa-apa sekarang karena keasyikan main hape, ya jangan kaget kalau pas masa panen kita cuma dapet rumput liar. Mengelola waktu dalam Islam itu intinya adalah kesadaran bahwa setiap detik kita bakal dimintai pertanggungjawabannya. Bukan buat nakut-nakutin sih, tapi lebih ke biar kita punya sense of urgency. Biar kita nggak jadi manusia yang masuk kategori "rugi" seperti yang disebut di surat Al-Ashr tadi.

Kesimpulan: Menjadi Tuan Atas Waktumu Sendiri

Jadi, gimana caranya biar kita nggak terus-terusan jadi budak waktu yang dikejar-kejar rasa bersalah? Jawabannya ya balik lagi ke prioritas. Islam ngajarin kita buat membagi waktu jadi beberapa porsi: waktu buat Tuhan, waktu buat diri sendiri (termasuk istirahat dan kesehatan), dan waktu buat sesama manusia. Kalau porsinya pas, hidup bakal kerasa lebih seimbang.

Nggak perlu ambisius langsung pengen berubah jadi manusia paling produktif dalam semalam. Mulai aja dari hal kecil, kayak nggak nunda salat atau ngurangin durasi doomscrolling di media sosial. Ingat, waktu itu kayak pedang; kalau kamu nggak bisa gunainnya dengan bener, malah kamu yang bakal tertebas sendiri. Yuk, mulai hargai waktu kita sebelum waktu benar-benar ninggalin kita dalam penyesalan yang nggak ada obatnya.