Kamis, 19 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Di Tengah Dunia yang Terburu-Buru, Masihkah Kita Bisa Bersabar?

Redaksi - Thursday, 19 February 2026 | 09:00 AM

Background
Di Tengah Dunia yang Terburu-Buru, Masihkah Kita Bisa Bersabar?
Di Tengah Dunia yang Terburu-Buru, Masihkah Kita Bisa Bersabar? ( Istimewa/)

Seni Menjadi Sabar di Tengah Gempuran Dunia yang Serba Sat-Set

Pernah nggak sih kalian ngerasa kalau dunia ini lagi lomba lari, tapi kalian malah kejebak macet di lampu merah yang durasinya kayak nunggu kepastian dari gebetan? Di satu sisi, kita dituntut buat serba cepat—balas chat harus detik itu juga, pesen ojol maunya langsung nyampe depan pintu, sampai urusan karier pun pengennya langsung jadi CEO di usia 23 tahun. Istilah kerennya, kita hidup di era "instan". Kalau ada yang lambat dikit, bawaannya pengen ngamuk atau minimal update status sambat di Twitter atau Threads.

Nah, di tengah keriuhan dunia yang serba sat-set ini, ada satu kata sakti yang sering banget dilempar ke kita pas lagi apes: "Sabar ya." Masalahnya, kata sabar ini sering banget jadi bumerang. Alih-alih bikin tenang, kadang denger kata itu malah bikin tensi naik. Kenapa? Karena selama ini kita sering salah kaprah mengartikan apa itu sabar. Kita mikir sabar itu ya diam saja, terima nasib, atau jadi keset kaki yang rela diinjek-injek orang lain. Padahal, sabar itu punya level yang jauh lebih keren dari sekadar diam.

Sabar Bukan Berarti Pasif, Bro!

Mari kita luruskan satu hal: sabar itu bukan pasif. Sabar itu adalah sebuah tindakan aktif untuk mengelola emosi dan ekspektasi. Bayangin kalian lagi antre kopi kekinian yang antreannya sepanjang ular naga. Kalian punya dua pilihan: ngedumel sepanjang waktu sambil bikin muka ditekuk yang bikin barista makin grogi, atau nunggu dengan tenang sambil dengerin podcast atau baca buku. Hasilnya sama, kopinya bakal tetep jadi di waktu yang sama. Tapi, kondisi mental kalian bakal beda banget.

Sabar itu sebenarnya adalah otot. Semakin sering dilatih, semakin kuat. Tapi ya namanya otot, kalau dipaksa terus tanpa jeda juga bisa kram. Makanya, wajar banget kalau sesekali kita ngerasa "stok" sabar kita lagi tipis atau bahkan habis. Apalagi kalau ujiannya datang bertubi-tubi, mulai dari dapet revisi revisi dari bos pas mau offside kerja, sampai kena tumpahan kuah bakso pas lagi pakai baju putih. Di momen-momen begini, sabar itu jadi high-level skill yang nggak semua orang punya sertifikatnya.

Kenapa Sabar Itu Sekarang Jadi Barang Mewah?

Kalau kita perhatiin, kenapa sih orang jaman dulu kayaknya lebih selow dibanding kita sekarang? Jawabannya sederhana: teknologi. Dulu, kalau mau kirim surat harus nunggu berminggu-minggu. Sekarang? Chat "P" doang nggak dibales lima menit aja udah bikin kita overthinking mikir apakah kita punya salah atau si dia lagi selingkuh. Kita udah terbiasa dengan dopamine hit yang instan. Algoritma media sosial bikin kita pengen semua hal terjadi secepat scroll jempol.

Efek sampingnya, toleransi kita terhadap ketidaknyamanan jadi rendah banget. Kita jadi gampang trigger. Padahal, dalam hidup ini, banyak hal yang emang nggak bisa dipaksa cepat. Tanaman butuh waktu buat tumbuh, luka butuh waktu buat sembuh, dan kesuksesan butuh waktu buat dipupuk. Kalau kita nggak punya stok sabar, kita bakal terus-terusan ngerasa jadi korban keadaan. Kita bakal capek sendiri karena mencoba mengontrol hal-hal yang di luar kendali kita.

Sabar vs. Toxic Positivity

Tapi jujur ya, kita juga harus hati-hati. Ada garis tipis antara sabar yang sehat sama terjebak dalam toxic positivity. Sabar bukan berarti kalian harus terus tersenyum pas lagi dizalimi. Sabar bukan berarti kalian nggak boleh marah kalau hak kalian dirampas. Kalau kalian lagi diselingkuhin berkali-kali terus temen kalian bilang "sabar ya, mungkin dia cuma khilaf," itu bukan sabar, itu namanya membiarkan diri sendiri masuk ke jurang toxic.

Sabar yang beneran itu adalah saat kita tahu kapan harus menunggu dan kapan harus bertindak. Sabar itu tentang menahan diri dari reaksi impulsif yang bakal kita sesali nanti. Kayak pas lagi berantem sama pasangan, sabar itu bukan diam aja dipojokkan, tapi menahan diri buat nggak ngeluarin kata-kata kasar yang bisa ngerusak hubungan permanen. Sabar itu memberikan ruang buat logika untuk bekerja sebelum emosi mengambil alih kemudi.

Gimana Caranya Biar Nggak Gampang Emosian?

Terus gimana cara melatihnya? Pertama, coba zoom out. Pas kalian lagi marah gara-gara internet lemot, coba tanya ke diri sendiri: "Apakah masalah ini bakal berasa penting 5 tahun lagi?" Kalau jawabannya nggak, ya udah, nggak usah ditaruh di hati banget. Kebanyakan hal yang bikin kita nggak sabaran itu sebenarnya cuma kerikil kecil yang kita anggap sebagai batu meteor.

Kedua, kurangi banding-bandingin hidup sama orang lain di Instagram. Seringkali kita nggak sabar pengen sukses karena ngelihat temen SMA kita udah flexing mobil baru atau jalan-jalan ke luar negeri. Padahal, tiap orang punya timeline masing-masing. Hidup itu bukan balapan lari, tapi lebih kayak jalan santai sambil nikmatin pemandangan. Ngapain buru-buru nyampe garis finish kalau sepanjang jalan kita malah stres dan nggak bahagia?

Sabar Sebagai Investasi Mental

Pada akhirnya, belajar sabar itu adalah bentuk self-care yang paling hakiki. Dengan menjadi lebih sabar, kita sebenarnya lagi ngasih hadiah ke diri sendiri berupa kedamaian pikiran. Kita nggak gampang kesulut api yang diciptakan orang lain. Kita jadi punya kontrol penuh atas gimana kita bereaksi terhadap dunia.

Jadi, buat kalian yang hari ini lagi ngerasa dunianya lagi lambat banget, atau yang lagi nunggu jawaban yang nggak kunjung datang, coba tarik napas dalam-dalam. Sabar itu bukan berarti kalah. Sabar itu justru cara kita buat menang melawan ego diri sendiri. Lagian, bukankah hal-hal terbaik dalam hidup ini biasanya datang kepada mereka yang mau menunggu sedikit lebih lama? Jadi, yuk, pelan-pelan aja. Dunia nggak bakal kiamat kok kalau kamu telat dikit atau nggak dapet apa yang kamu mau hari ini.

Semangat ya, pejuang sabar! Ingat, batu permata pun butuh tekanan dan waktu yang lama buat jadi indah. Mungkin kamu sekarang lagi dalam proses "tekanan" itu, biar nanti pas waktunya tiba, kamu bakal bersinar lebih terang dari yang lain.