Berusaha Sepenuh Hati, Melepaskan dengan Tawakal
Redaksi - Thursday, 19 February 2026 | 09:00 AM


Seni Menyerah Tanpa Kalah: Kenapa Tawakal Itu Koentji Biar Nggak Gila di Zaman Sekarang
Zaman sekarang, siapa sih yang nggak merasa dikejar-kejar sesuatu? Kalau bukan target KPI di kantor, ya cicilan paylater yang bunganya bikin geleng-geleng kepala. Belum lagi tekanan media sosial yang bikin kita merasa tertinggal jauh dari teman SD yang tiba-tiba sudah jadi CEO atau minimal sering posting foto liburan di Swiss. Efeknya? Kita jadi generasi yang overthinking setengah mati. Kita pengen mengontrol semuanya: masa depan, opini orang lain, sampai algoritma Instagram biar likes kita banyak. Tapi jujur deh, capek nggak sih nyoba jadi sutradara buat seluruh alam semesta?
Di sinilah sebenarnya satu konsep lama yang sering kita dengar di pengajian atau nasihat nenek kita jadi relevan banget. Namanya Tawakal. Kedengarannya mungkin agamis banget, tapi kalau kita bedah pelan-pelan pakai kacamata anak muda zaman sekarang, tawakal itu sebenarnya adalah bentuk "self-care" paling ultimate dan strategi manajemen stres yang paling cerdas.
Bukan Pasrah Tanpa Usaha, Itu Mah Namanya Males
Banyak orang salah kaprah mengartikan tawakal sebagai "ya sudahlah, terserah Tuhan aja." Ini nih yang bikin konsep tawakal sering dicap sebagai mentalitas orang kalah atau pemalas. Padahal, kalau kita mau jujur, tawakal itu baru boleh keluar panggung setelah kita habis-habisan di lapangan. Ada sebuah cerita legendaris soal seseorang yang meninggalkan untanya tanpa diikat karena merasa sudah "tawakal". Lalu diingatkan, "Ikat dulu untamu, baru tawakal."
Kalau dibawa ke konteks hari ini, ya jangan harap dapet kerjaan kalau kamu nggak pernah kirim CV dan cuma rebahan sambil dengerin podcast motivasi. Tawakal itu artinya kamu sudah revisi portofolio sepuluh kali, sudah riset soal perusahaan yang dituju, sudah latihan interview depan cermin sampai mulut berbusa, dan sudah klik tombol 'send'. Setelah semua itu dilakukan, baru deh kamu lepasin kendalinya. Kamu bilang ke diri sendiri, "Gue udah lakuin bagian gue, sisanya biar semesta yang atur."
Bayangin beban di pundakmu kalau kamu merasa hasil akhir 100 persen ada di tanganmu. Pasti berat banget. Tapi dengan tawakal, beban itu dibagi dua. Kamu pegang usahanya, Tuhan pegang hasilnya. Adil, kan?
Tawakal Sebagai Anti-Burnout
Penyebab utama burnout itu biasanya karena kita merasa gagal mengendalikan hasil. Kita merasa sudah kerja 12 jam sehari, tapi kenapa promosi malah jatuh ke tangan rekan kerja yang hobi cari muka? Di situlah ego kita terluka. Kita merasa dunia nggak adil. Tapi orang yang punya "otot" tawakal yang kuat biasanya punya mental yang lebih stabil. Mereka paham kalau hasil itu di luar jangkauan mereka.
Tawakal itu ibarat kamu lagi mesen ojek online. Begitu sudah klik pesen, kamu tahu drivernya lagi jalan. Kamu nggak bakal lari-lari ngejar motornya atau teriak-teriak di pinggir jalan setiap lima detik, kan? Kamu bakal nunggu dengan tenang sambil mungkin dengerin musik atau scroll TikTok. Nah, hidup harusnya kayak gitu. Usaha sudah maksimal, ya tinggal tunggu jemputan takdir datang. Kalaupun yang datang ternyata bukan motor tapi mobil karena di-upgrade, ya syukur. Kalau ternyata dibatalin driver, ya berarti harus cari cara lain. Nggak perlu sampai ngerasa dunia kiamat.
Menghadapi "Uncertainty" dengan Kepala Tegak
Ketidakpastian itu nakutin, beneran. Kita takut nggak dapat pasangan, takut tabungan nggak cukup buat masa tua, atau takut tiba-tiba ada pandemi lagi (amit-amit, ya). Tapi tawakal itu mengajarkan kita buat "berteman" dengan ketidakpastian. Daripada sibuk memprediksi hal-hal buruk yang belum tentu terjadi, tawakal ngajak kita fokus ke apa yang bisa kita kendalikan hari ini.
Ada beberapa poin kenapa tawakal bikin hidup lebih enteng:
- Mengurangi Overthinking: Kamu berhenti memikirkan skenario "gimana kalau..." yang jumlahnya jutaan itu. Fokusmu cuma satu: "Apa yang bisa gue lakuin sekarang?"
- Menjaga Kesehatan Mental: Kamu nggak gampang depresi saat gagal, karena kamu sadar bahwa kegagalan bukan berarti usahamu sia-sia, tapi memang jalannya lagi ditutup buat kebaikanmu sendiri.
- Bikin Lebih Ikhlas: Kalau hasilnya nggak sesuai ekspektasi, kamu nggak bakal nyalahin diri sendiri secara berlebihan. Kamu bakal mikir, "Oh, mungkin emang belum waktunya atau ada yang lebih oke lagi nanti."
Gimana Cara Mulai Tawakal di Dunia yang Berisik Ini?
Menerapkan tawakal itu nggak kayak membalikkan telapak tangan. Ini soal latihan mental. Mulailah dari hal-hal kecil. Misalnya, pas kamu lagi macet total di jalan padahal ada janji penting. Kamu sudah berusaha berangkat pagi, sudah cari rute alternatif di Google Maps, tapi ternyata ada kecelakaan yang bikin jalanan stag. Daripada maki-maki stir mobil atau klakson nggak jelas yang malah bikin darah tinggi, coba deh praktikkan tawakal.
Bilang ke diri sendiri, "Gue udah usaha lewat jalan ini, sekarang macet ya udah di luar kuasa gue. Mungkin ini momen gue buat dengerin satu album musik yang dari kemarin belum sempet gue dengerin." Rasakan bedanya. Hati jadi lebih plong dan kamu nggak bakal sampai di tempat tujuan dengan muka ditekuk.
Pada akhirnya, tawakal adalah tentang mengakui keterbatasan kita sebagai manusia. Kita ini cuma makhluk kecil di galaksi yang luas banget ini. Merasa bisa mengatur segalanya itu sebenarnya bentuk kesombongan halus yang malah bikin kita stres sendiri. Jadi, yuk pelan-pelan kita belajar buat "melepaskan". Berusaha sekuat tenaga, lalu biarkan doa dan takdir melakukan keajaibannya. Percayalah, rencana Tuhan itu seringkali lebih plot twist dan jauh lebih indah daripada skenario yang kita bikin capek-capek di kepala kita sendiri.
Stay sane, stay ikhtiar, dan jangan lupa tawakal. Karena di akhir hari, yang kita butuhkan bukan cuma kesuksesan, tapi juga ketenangan batin. Ya nggak?
Next News

Mengenal Hormon: Si Kurir Kimia yang Mengatur Mood, Stres, hingga Urusan Cinta
4 days ago

Kenapa Kita Masih Butuh Festival Budaya di Era FYP dan Media Sosial?
5 days ago

Pentingnya Festival Budaya di Era Digital dan Media Sosial
5 days ago

Gen Z dan Tradisi Daerah: Kolot atau Justru Keren?
5 days ago

Thrifting, Mix and Match, dan Capsule Wardrobe: Strategi Fashion Hemat
5 days ago

Dari Pasar Senen ke Instagram: Evolusi Tren Thrifting di Indonesia
5 days ago

Psikologi di Balik Hobi Koleksi: Kenapa Kita Suka Mengumpulkan Barang yang Tak Masuk Akal?
5 days ago

Seni Menjaga Hati dan Dompet Saat Jatuh Cinta di Era Modern
7 days ago

Tips Memilih Kurma Terbaik Saat Jadi Tren di Bulan Ramadan
7 days ago

Kenapa Badan Terasa Lowbat Setiap Hari? Ini Penjelasannya
8 days ago





