Senin, 2 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Takotsubo Cardiomyopathy: Saat Stres Bisa Melumpuhkan Jantung

Redaksi - Monday, 26 January 2026 | 09:05 AM

Background
Takotsubo Cardiomyopathy: Saat Stres Bisa Melumpuhkan Jantung
Takotsubo Cardiomyopathy: Saat Stres Bisa Melumpuhkan Jantung ( Istimewa/)

Misteri Medis Patah Hati: Menelusuri Takotsubo Cardiomyopathy

Bayangkan kamu sedang berada di sebuah restoran favorit, tiba-tiba saja napas kamu terhenti, dada terasa asam, dan hatimu berdegup kencang. Saat itu, pikiran yang muncul biasanya langsung menyebutkan "serangan jantung". Namun, bayangkan kalau yang terjadi sebenarnya tidak karena arteri tersumbat, melainkan karena stres—tapi stres itu cukup "parah" hingga memicu kondisi jantung yang dinamakan Takotsubo Cardiomyopathy, atau lebih dikenal dengan "broken heart syndrome".

Takotsubo, singkatnya, adalah kondisi jantung sementara yang menyerupai serangan jantung, tapi tanpa penyumbatan arteri koroner. Nama "Takotsubo" sendiri berasal dari mangkuk potong ikan Jepang yang bentuknya mirip dengan ventrikel kiri yang melemahnya. Kondisi ini seringkali mengintip di balik wajah wanita paruh baya yang tampak "sehat" di luar. Tetapi, jangan pernah menilai dulu! Karena Takotsubo bisa menempel di pria juga, meski lebih jarang.

Siapa yang Rentan? Apalagi yang Perlu Diwaspadai?

Statistiknya bilang: hampir 80% kasus Takotsubo terjadi pada wanita berusia 50 tahun ke atas. Kenapa? Hormone estrogen yang menurun seiring bertambahnya usia mungkin memberi kelemahan pada dinding jantung, sehingga lebih mudah "goyang" saat hormon adrenalin melonjak. Tetapi, jangan terlalu menakutkan—kita bisa meminimalkan risiko dengan mengelola stres. Meskipun begitu, ada situasi lain yang bisa memicu kondisi ini:

  • Kepergian orang terkasih
  • Operasi besar atau prosedur medis yang menegangkan
  • Penyakit berat yang memaksa tubuh berjuang
  • Situasi darurat medis lain, seperti luka serius atau kegagalan organ

Intinya, stres—baik emosional maupun fisik—adalah pemicu utama. Dan ini bukan tentang "cinta yang hilang" saja. Jika kamu pernah mengalami lapar darah atau operasi di rumah sakit, ingatlah bahwa tubuhmu sedang melewati fase yang sangat intens, termasuk puncak hormon adrenalin.

Gejala: Apakah Kita Bisa Merasakannya?

Jika kamu mengalami gejala berikut, segeralah pergi ke rumah sakit:

  • Denyut jantung tak teratur atau terasa "kembung"
  • Nyeri dada yang terasa seperti terbakar atau tertekan
  • Sesak napas, seakan tidak bisa menghirup napas dalam-dalam
  • Pusing, mual, bahkan muntah

Semua ini memang mirip dengan serangan jantung, sehingga diagnosis awal biasanya diambil sebagai "heart attack". Namun, perbedaan utama terletak pada tes darah dan pemeriksaan jantung. Troponin, protein yang biasanya naik ketika jantung terluka, hanya sedikit naik di Takotsubo. Sementara itu, angiografi koroner—yang menilai arteri jantung—biasanya menunjukkan arteri tetap normal.

Bagaimana Dokter Menemukan "Hula-Hoop" Jantung?

Diagnosa utama dilakukan lewat ekokardiografi. Jika kamu mendengarkan, ini dia momen "hula-hoop" jantung: ventrikel kiri bagian atas melemahnya, membuatnya tampak seperti selongsong. Dinding jantung di bawahnya tetap kuat, sehingga terlihat seperti sebuah keranjang hula-hoop yang tersentak. Keterlambatan dalam pengenalan kondisi ini seringkali menambah kerusakan, jadi penting bagi dokter dan pasien untuk segera melakukan pemeriksaan lengkap.

Pengobatan: Terapi yang Membantu dan Menyelamatkan

Berbeda dari serangan jantung biasa, Takotsubo tidak memerlukan prosedur bypass atau pembukaan arteri. Pengobatan lebih bersifat suportif, dengan beberapa langkah berikut:

  • Pemberian beta-blocker, yang membantu menenangkan sistem saraf simpatik dan menurunkan denyut jantung
  • ACE-inhibitor untuk membantu memfasilitasi fungsi jantung dan mengurangi tekanan pada dinding jantung
  • Terapi hemodinamika—seperti cairan IV atau obat-obatan penurun tekanan darah—jika kondisi pasien memburuk

Secara umum, fungsi jantung biasanya pulih dalam satu sampai tiga minggu. Tetapi, ini bukan tanpa risiko. Sekitar 4% pasien mengalami komplikasi fatal, seperti gagal jantung, fibrilasi ventrikel, atau bahkan perdarahan di dalam jantung.

Waspada, Tapi Jangan Takut!

Kalau kamu atau orang terdekatmu pernah mengalami episode stres berat—baik yang emosional maupun fisik—jangan menunda pergi ke dokter. Banyak kasus Takotsubo yang terdiagnosis terlambat karena dianggap "hanya saja" stres biasa. Mencari diagnosis yang tepat bisa menyelamatkan nyawa, dan menghindari komplikasi yang lebih serius.

Berbagai media, mulai dari Mojok hingga Vice Indonesia, sering membahas topik ini dengan nada ringan tapi informatif. Kita semua pernah mendengar "serangan jantung" di radio atau di obrolan santai, jadi penting untuk membedakan fakta dan mitos. Jika kamu masih penasaran, cobalah berdiskusi dengan dokter spesialis jantung—mereka biasanya punya pengetahuan yang lebih dalam dan siap membantu.

Kesimpulan: Buka Mata, Jantungmu Pantas Dipelihara

Takotsubo Cardiomyopathy, atau broken heart syndrome, bukan sekadar mitos romantis tentang hati yang patah. Ia adalah kondisi medis nyata yang mengingatkan kita akan pentingnya manajemen stres dan kesehatan jantung. Dari wanita paruh baya yang mengalami "dendam" setelah kehilangan orang tercinta, hingga pria yang pulih setelah operasi besar—kita semua bisa terkena. Jadi, tetap jaga tubuh, dengarkan suara jantungmu, dan jangan ragu mencari pertolongan medis jika dirasa perlu. Karena, meski sementara, jantungmu layak mendapatkan perlindungan terbaik.