Selasa, 27 Januari 2026
Salsabila FM
Life Style

Tradisi Gotong Royong yang Mulai Menghilang

Redaksi - Monday, 26 January 2026 | 09:35 AM

Background
Tradisi Gotong Royong yang Mulai Menghilang
Tradisi Gotong Royong yang Mulai Menghilang ( Istimewa/)

Di tengah riuhnya kota yang tak henti henti berdenyut, ada satu tradisi yang perlahan saja meredup: gotong‑royong. Seperti bayangan lama yang mulai memudar di antara lampu neon dan layar smartphone, gotong‑royong—yang dulu jadi tulang punggung sosial di Indonesia—sedang mengalami penurunan drastis.

Berapa lama saja, gotong‑royong masih terjaga?

Berawal dari desa, gotong‑royong adalah aktivitas bersama yang tidak hanya sekadar "tangan membantu" tapi juga simbol kepercayaan, solidaritas, dan rasa kebersamaan. Namun, data terbaru dari IDFOS (Institut Data dan Sosial) menunjukkan penurunan partisipasi sekitar 30 % dalam dekade terakhir. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan cermin bagi kita semua: seberapa banyak warga yang masih berdiri bersama saat badai datang?

Alasan di balik "kecerobohan" gotong‑royong

  • Urbanisasi: Kota menjadi panggung bagi impian, tapi juga menekan ruang sosial. Ketika orang berlarian mencari kerja, waktu untuk menatap tetangga tersisa sangat terbatas.
  • Nilai individualistik: Generasi muda kini lebih fokus pada "self‑care" dan pencapaian pribadi. Konsep "kita" seringkali tersamakan dengan "saya".
  • Ketergantungan pada lembaga formal: Pemerintah, perusahaan, dan lembaga lainnya lebih sering menjadi penggerak solusi sosial. Ketika bantuan datang lewat angkutan logistik formal, maka jaringan informal terasa tidak dibutuhkan.
  • Teknologi digital: Media sosial memang memudahkan komunikasi, tapi seringkali menurunkan interaksi tatap muka. Satu "like" tidak bisa menggantikan tepukan tangan di atas bukit atau cangkir kopi panas di balai desa.

Semua faktor ini bekerja secara sinergis, memengaruhi pola kebiasaan yang selama ini menjadi jantung kehidupan sosial. Tanpa gotong‑royong, masyarakat menjadi lebih "kaku" dalam menghadapi permasalahan, karena tidak ada mekanisme solidaritas yang spontan.

Ketika gotong‑royong hilang, apa yang terangkat?

Ketika masyarakat kehilangan tradisi ini, tercipta ketidakpercayaan antara warga. Tanpa saling membantu, rasa takut "tidak ada orang lain yang ada di samping" menjadi lebih nyata. Ketahanan sosial pun menurun: pandemi COVID‑19 menunjukkan betapa pentingnya jaringan informal. Sementara pemerintah menyediakan vaksin, banyak desa yang masih bergantung pada tenaga relawan yang bekerja bersama. Tanpa gotong‑royong, respons cepat itu sulit terjadi.

Begitu juga saat bencana alam datang. Dalam situasi darurat, gotong‑royong memungkinkan pasokan makanan, air, dan pertolongan medis tersalurkan lebih cepat. Tanpa semangat kolektif, respon komunitas menjadi lebih lambat, dan korban bisa lebih banyak.

Menangkap "semangat" yang tersisa

Meskipun statistik menakutkan, masih ada contoh nyata gotong‑royong yang bersemi di beberapa daerah. Di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, misalnya, warga rutin berkumpul di ruang balai untuk merancang program kebersihan lingkungan. Mereka memadukan teknologi, seperti aplikasi grup WhatsApp, dengan praktik tradisional, menciptakan "gotong‑royong digital" yang relevan dengan zaman.

Di kota, ada kelompok "NGO street cleanup" yang bekerja setiap akhir pekan, menolak "kita butuh bantuan profesional". Mereka memanfaatkan keahlian komunitas, dari pengemudi truk hingga seniman jalanan, untuk memulai gerakan kebersihan yang seru dan kreatif.

Langkah kecil, dampak besar

Berikut beberapa langkah yang bisa diambil, baik individu maupun komunitas, untuk menghidupkan kembali semangat gotong‑royong:

  • Mulailah dengan aksi kecil: bantu tetangga menyiapkan makanan, beri saran kebersihan, atau ajak mereka bertukar kawan.
  • Gunakan media sosial sebagai platform untuk menginformasikan rencana gotong‑royong, bukan sekadar memposting foto.
  • Bangun "tim" kecil di lingkungan sekitar, misalnya kelompok petugas kebersihan atau pengurus sampah.
  • Libatkan generasi muda dalam proyek sosial, sehingga mereka melihat manfaat langsungnya.

Semua ini bukan hanya tentang menyeimbangkan tradisi, tetapi juga memelihara "hati" komunitas. Dalam era di mana segala sesuatu terasa cepat, kita perlu memperlambat diri dan menyadari bahwa kebersamaan masih menjadi kunci ketahanan sosial.

Kesimpulan

Gotong‑royong bukan sekadar ritual lama. Ia adalah pola pikir yang menanamkan rasa saling menghargai dan tanggung jawab. Penurunan 30 % dalam satu dekade menunjukkan bahwa perubahan sosial bukan semata-mata tentang teknologi atau urbanisasi, melainkan tentang bagaimana kita menilai nilai-nilai kebersamaan. Jika kita ingin tetap kuat menghadapi pandemi, bencana, atau tantangan sosial lainnya, kita harus belajar kembali cara bergotong‑royong—dari yang tradisional hingga yang modern.

Terima kasih telah membaca. Mari kita ciptakan komunitas yang lebih kuat, satu tangan membantu satu tangan lain, dan satu hati bersatu.