Selasa, 27 Januari 2026
Salsabila FM
Life Style

Budaya Sopan Santun yang Mulai Luntur

Redaksi - Monday, 26 January 2026 | 09:35 AM

Background
Budaya Sopan Santun yang Mulai Luntur
Budaya Sopan Santun yang Mulai Luntur ( Istimewa/)

Mengenang Sopan Santun: Warisan Budaya yang Kian Tergerus Era Digital

Setiap kali saya menelusuri galeri foto keluarga di media sosial, seringkali muncul potongan-potongan senyum manis saat orang tua berbalut batik, sambil mengucapkan "Selamat pagi" yang lembut kepada tetangga. Itulah contoh sederhana dari budaya sopan santun yang selama ini menjadi fondasi identitas bangsa. Namun, di balik ketenangan itu, ada sebuah pertanyaan: apakah budaya ini masih bisa bertahan di tengah arus zaman yang terus memutar dan berubah?

Siapa Penerusnya? Generasi Muda dan Tanggung Jawab Bersama

Penulis artikel ini memulai perjalanan narasinya dengan menyoroti pentingnya sikap hormat, bahasa yang sopan, dan penghargaan terhadap adat serta tradisi. Ia menyebut bahwa semua nilai ini merupakan "tali pengikat" yang menautkan satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, di balik kutipan-kutipan penuh makna, terlihat betapa mudahnya generasi muda terkendala oleh kemudahan berkomunikasi di dunia maya.

Bayangkan, teman-teman, saat ini hampir semua interaksi kita bermula di aplikasi chatting atau sosial media. Satu tombol "send" bisa membawa pesan cepat, namun tak jarang menghilangkan nuansa sopan yang dulu kita pelajari di ruang kelas atau saat berkunjung ke rumah nenek. "Hai, bro!" atau "Gue lagi sibuk" cukup untuk menunjukkan ketidaksopanan yang terkandung di dalamnya, meskipun mungkin tak disadari oleh pengirim.

Kenapa Ini Masalah?

  • Penggunaan bahasa yang kurang formal atau kerap menggunakan singkatan bisa merusak cara berbicara yang penuh hormat.

  • Tandaan sopan santun, seperti menunggu giliran bicara atau memberi hormat kepada orang yang lebih tua, menjadi semakin jarang.

  • Budaya ini bukan hanya tentang "budi pekerti"; ia mempengaruhi nilai persatuan, rasa hormat terhadap kebudayaan, dan solidaritas sosial.

Di sinilah peran media sosial menjadi paradoks. Di satu sisi, ia memperluas jaringan dan mempermudah berbagi pesan, namun di sisi lain, ia menekan kita untuk selalu cepat, singkat, dan kadang tidak memikirkan kesopanan.

Solusi: Pendidikan Karakter dan Contoh Positif

Menulis ini tidak bisa dianggap sekadar "membaca" atau "menulis". Penulis menyarankan langkah-langkah konkret untuk memelihara sopan santun. Pertama, pendidikan karakter di sekolah harus lebih terstruktur. Guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tapi juga mengajarkan "etika digital" yang meliputi penggunaan bahasa, cara menanggapi kritik, dan kebiasaan menuliskan ucapan terima kasih.

Selanjutnya, contoh positif dari orang tua dan tokoh masyarakat sangat berperan. Satu contoh sederhana, ketika ibu mengucapkan "Terima kasih" sebelum meminum kopi di warung, akan memberikan sinyal positif bagi anak-anak di sekitar. Mereka belajar bahwa sopan santun bukan sekadar ritual, tapi merupakan kebiasaan yang menambah kualitas hubungan antar manusia.

Platform Digital: Menjembatani Keterhubungan dan Keterbukaan

Yang tak kalah penting adalah memanfaatkan platform digital sebagai sarana penyebaran pesan sopan santun. Ini tidak berarti "menggantikan" nilai-nilai lama, melainkan menyesuaikan dengan cara hidup modern. Misalnya, membuat challenge #SopanSantunDigital, di mana setiap partisipan berbagi cerita tentang bagaimana mereka menepati norma sopan dalam situasi online. Atau, menggunakan caption Instagram yang menggugah untuk mengingatkan pengikut tentang pentingnya menghargai satu sama lain.

Ingat, teknologi tidak bisa menggantikan perasaan manusia. Namun, jika dikarahkan dengan bijak, ia bisa menjadi alat yang memperluas dampak positif sopan santun.

Kesimpulan: Kebersamaan Menjadi Kunci

Setelah menelusuri semua aspek, satu hal yang jelas: pelestarian budaya sopan santun bukanlah tugas satu orang, tapi "tugas kolektif" yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan tentu saja, generasi muda. Kita harus sadar bahwa setiap kata, setiap gesture, dapat menjadi "suaranya" dalam menjaga warisan budaya.

Jadi, kapan terakhir kali Anda mengucapkan "Terima kasih" kepada seseorang yang mungkin tidak Anda kenal? Atau, kapan terakhir kali Anda mempersilakan orang lain berbicara terlebih dahulu? Mari kita berikan contoh nyata bahwa sopan santun masih relevan, bahkan dalam era digital. Karena, bila kita semua berusaha, mungkin suatu hari nanti, budaya sopan santun akan tetap bersinar, tidak hanya di balik foto keluarga atau ucapan di media sosial, tetapi juga dalam setiap interaksi nyata yang terjadi di sekitar kita.