Selasa, 27 Januari 2026
Salsabila FM
Life Style

Kenapa Orang Mudah Tersinggung di Era Digital

Redaksi - Monday, 26 January 2026 | 09:35 AM

Background
Kenapa Orang Mudah Tersinggung di Era Digital
Kenapa Orang Mudah Tersinggung di Era Digital ( Istimewa/)

Di zaman sekarang, kita semua hidup dalam jaringan yang tak pernah padam. Dari bangun tidur sampai menutup mata, ponsel kita sudah menjadi jendela utama ke dunia luar. Tapi ada satu kebiasaan yang semakin menjerat pikiran kita: overthinking. Kalian pernah ngerasain nggak, kayak otak terus ngadat nanya-nanya, "Apakah aku cukup baik? Apa yang orang lain pikirkan tentangku?" Nah, itu dia, fenomena overthinking yang makin melekat di era digital.

Mengapa Kita Terjebak dalam Overthinking?

Untuk ngasih gambaran lebih jelas, mari kita bahas tujuh faktor utama yang bikin otak kita terus bekerja tanpa henti. Siap? Let's go.

  • 1. Kelebihan Informasi & Koneksi 24/7
    Setiap klik di media sosial adalah pintu masuk ke ribuan berita, meme, komentar. Ponsel kita udah kayak mesin pencari yang nggak pernah tidur. Hasilnya, otak kita dihadapkan pada data terus-menerus dan harus memprosesnya. Akibatnya, pikiran nggak bisa "ngapung" ke tempat santai; malah terus melacak, menilai, menilai lagi.
  • 2. Budaya Perbandingan Sosial
    Jangan salah, semua orang di Facebook atau Instagram punya "perfect life". Foto liburan eksotik, selfie "just woke up like this", dan caption "happiest day ever". Kita, yang lagi nunggu diskon, terpaksa membandingkan diri. Sadar atau tidak, ini bikin rasa tidak puas dan "fear of missing out" (FOMO). Hasilnya? Otak jadi gonta-ganti memikirkan "bagaimana kalau aku punya itu?".
  • 3. Multitasking Digital
    Kalau kalian pernah ngerasain "I'm in a stream of consciousness" saat scroll, scrolling, scroll lagi, itu karena otak kalian terus switch konteks. Tugas di kantor, pesan dari teman, video TikTok… semuanya bersaing untuk perhatian. Kognitif load naik drastis, dan akhirnya kelelahan mental. Satu-satunya "titik balik" adalah kehabisan energi pikiran.
  • 4. Pengaruh Algoritma
    Algoritma media sosial bukan cuma "bagus" atau "buruk"; mereka cenderung memperkuat pola pikir yang sudah ada. Jadi, kalau kalian suka post tentang politik, algoritma bakal terus nyuratin berita serupa, menciptakan "echo chamber". Otak jadi terjebak mempertahankan satu pandangan, menutup ruang refleksi.
  • 5. Kurangnya Waktu Introspeksi
    Semakin banyak waktu yang dihabiskan online, semakin sedikit ruang untuk "me time". Tanpa waktu bagi diri sendiri, pikiran kerap memaksa diri terjebak di skenario "bagaimana jika". Bayangkan, kalau kita lebih sering nonton film daripada nonton layar kaca, betapa banyaknya perspektif yang kita lewatkan.
  • 6. Dampak Kesehatan Mental
    Semua ini punya efek langsung: kecemasan, depresi, insomnia, dan menurunkan produktivitas. Penelitian sudah mengonfirmasi bahwa pikiran yang terus mengulang masalah memperburuk kondisi psikologis. Jadi, overthinking bukan cuma "mind fog" semata, tapi bisa jadi sinyal serius.
  • 7. Strategi Mengurangi Overthinking
    Ternyata ada jalan keluar. Berikut beberapa strategi yang sudah terbukti membantu:
  • Digital Detox – Atur batas waktu menggunakan gadget. Bisa pakai "screen time" di iOS atau "digital wellbeing" di Android.
  • Mindfulness & Meditasi – Latihan pernapasan, fokus pada "saat ini". Gampang banget, cukup duduk 5 menit sambil memegang otot punggung.
  • Jadwal Offline – Bacalah buku, jalan-jalan di alam, atau ngobrol langsung dengan temen.
  • Kritik Sumber Informasi – Filter berita, jangan otomatis "like" atau "share" setiap komentar.
  • Prioritaskan Tujuan & Nilai Pribadi – Fokus pada hal yang penting, bukan sekadar menandai "likes".

Ngomong-ngomong, Apa Sih Solusi Sehari-Hari?

Selain strategi besar di atas, ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa kamu coba:

  • Gunakan fitur "Do Not Disturb" saat malam hari. Biar ponsel tetap "tidur" dan pikiran tetap "nyenyak".
  • Setel "focus mode" agar hanya menerima notifikasi penting, misalnya dari keluarga.
  • Setiap hari, tulis satu hal yang kamu syukuri. Ini membantu shift mindset dari "apa yang hilang" ke "apa yang dimiliki".
  • Berolahraga minimal 30 menit. Gerakan tubuh bantu atasi stres dan minda gonta-ganti.
  • Gunakan teknik "time blocking" untuk alokasi waktu. Jadi, kamu punya "slot" khusus untuk ngecek media sosial, bukan terus nge-scroll.

Kesimpulan

Overthinking di era digital itu seperti kompor yang selalu nyala. Kecilnya, tapi tetap memanas. Kita memang tidak bisa sepenuhnya mematikan koneksi, tapi kita bisa memilih bagaimana memanaskannya. Jika kamu merasa terjebak, ingatlah bahwa setiap orang punya "self-checkpoint". Sadar akan pola pikir, memanfaatkan strategi, dan mengatur eksposur digital bisa menjadi kunci. Jadikan digital sebagai alat, bukan musuh, dan biarkan pikiranmu beristirahat di luar layar.

Ingat, hidup itu lebih dari likes dan komentar. Jadi, mari kita ambil napas dalam-dalam, mematikan ponsel sejenak, dan menikmati keheningan yang bikin otak kembali fresh. Selamat mencoba, dan semoga hari-hari kalian tidak terlalu penuh overthinking.