Selasa, 27 Januari 2026
Salsabila FM
Life Style

Dampak Kesepian di Tengah Kota Besar

Redaksi - Monday, 26 January 2026 | 09:25 AM

Background
Dampak Kesepian di Tengah Kota Besar
Dampak Kesepian di Tengah Kota Besar ( Istimewa/)

Paradoks Warga Kota: Kesepian di Tengah Keramaian

Di kota-kota besar yang seakan tidak pernah tidur, kita seringkali mendengar bisikan bahwa "lebih banyak orang, lebih sedikit rasa kesepian". Tentu saja, hal itu terdengar logis: bila ada ribuan orang di sekitarmu, siapa yang akan menganggapmu terasing? Namun kenyataannya, kebanyakan penduduk kota justru merasakan ketegangan batin yang sama dengan orang yang tinggal di pinggiran. Paradox itu memang nyata dan, jika diangkat dengan benar, dapat memberi kita wawasan tentang kehidupan modern yang terikat erat dengan teknologi, ekonomi, dan budaya.

Definisi Paradox Kota

Paradox kota adalah situasi di mana kepadatan manusia tidak mengurangi rasa terasing; justru, semakin padat, semakin terasa jarak emosional antar individu. Ini bukan berarti semua kota mengalami kesepian. Tapi yang dipergunakan sebagai contoh adalah Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota lainnya yang menonjolkan fenomena ini. Menurut beberapa psikolog, kebingungan sosial yang timbul karena pertemuan cepat dan bersifat transien membuat individu tidak mampu membangun hubungan yang tahan lama.

Faktor Penyebab Utama

  • Tempo Hidup yang Cepat – Jadwal kerja yang padat, transportasi yang macet, dan tekanan deadline membuat orang hanya punya waktu singkat untuk berinteraksi. "Satu jam kerja, satu jam santai," begitu kutipan yang biasa terdengar di ruang tunggu, namun pada kenyataannya satu jam itu biasanya terpakai menunggu bus.
  • Anonymity dan Teknologi – Dengan smartphone di tangan, orang cenderung berinteraksi lewat pesan singkat, Instagram Stories, atau TikTok daripada bertatap muka. Hasilnya? Kontak cepat, tetapi kedalaman hubungan pun turun drastis.
  • Ketergantungan pada Media Sosial – Melihat kehidupan "ideal" orang lain di platform sosial menciptakan perbandingan yang tidak sehat. "Kamu lebih baik daripada aku, kan?" bukan hanya komentar, tapi perasaan yang terendam di hati setiap individu.
  • Kehidupan Ekonomi Tinggi – Di kota, biaya hidup tinggi mendorong orang bekerja lebih lama, menahan waktu untuk bertemu teman lama atau memulai hubungan baru. Pekerjaan menjadi prioritas utama, sehingga ruang untuk "social life" sempat menguap.
  • Kurangnya Ruang Publik yang Aman – Meskipun ada taman dan pusat perbelanjaan, kurangnya ruang yang terstruktur membuat orang tidak nyaman berbicara dengan orang asing. "Taman cuma tempat ngumpul bareng geng, bukan buat ketemu orang baru," sering kali terdengar.

Contoh Nyata di Lapangan

Jangan kira ini hanya teori. Ada cerita tentang seorang ibu rumah tangga bernama Siti yang tinggal di Jakarta. Setiap pagi, dia melewati ribuan orang yang memakai sepatu hak tinggi atau busana formal, tapi ia hanya terkesan sepi karena ia belum pernah bertemu seseorang yang bisa dia ajak bicara. "Saya duduk di bangku taman, memejamkan mata, berharap ada orang yang ingin memulai percakapan," ujarnya. Begitu pula dengan Andi, seorang karyawan di perusahaan multinasional. "Tapi saya tidak pernah merasa puas hanya karena memiliki banyak kontak di LinkedIn," tambahnya.

Reaksi para Ahli

"Kota adalah tempat di mana manusia berusaha menciptakan jaringan sosial yang luas, namun realitasnya sangat kompleks," kata Dr. Rini Setiawan, seorang sosiolog di Universitas Indonesia. "Setiap interaksi memerlukan waktu dan energi; ketika waktu terkurang, kualitas hubungan pun menurun."

Bagaimana Menanggulangi Paradox Ini?

  • Prioritaskan Waktu Berkualitas – Alihkan fokus dari sekadar bertemu orang lama ke berbagi waktu nyata. "Buka ruang di jadwalmu untuk pertemuan yang bermakna, bukan sekadar status update."
  • Gunakan Teknologi dengan Bijak – Tetapkan batasan waktu penggunaan media sosial. Coba "digital detox" satu hari seminggu, dan gunakan waktunya untuk berjalan-jalan di taman atau kafe lokal.
  • Bangun Komunitas Lokal – Ikut kegiatan komunitas di sekitar kediaman, seperti kelas memasak, senam, atau klub buku. Kegiatan ini membantu orang bertemu dengan orang yang memiliki minat serupa.
  • Berikan Ruang pada Diri Sendiri – Memahami bahwa tidak semua orang perlu memiliki jaringan luas. Memiliki sedikit teman dekat lebih baik daripada banyak kenalan tanpa hubungan yang mendalam.

Kesimpulan: Menemukan Koneksi di Tengah Keramaian

Di akhir hari, paradoks kota tidak selalu harus dipecahkan dengan "menjadi lebih sosial". Seringkali, solusi terbaik adalah menciptakan keseimbangan antara kehidupan digital dan nyata. Memiliki ruang bagi diri sendiri, menaruh hati pada teman dekat, dan membuka mata pada lingkungan sekitar dapat mengubah perasaan kesepian menjadi pengalaman kebersamaan yang bermakna. Seperti yang pernah diungkapkan oleh seorang penulis muda: "Kita tinggal di kota, namun hati kita masih bisa berpetualang di antara orang-orang yang sebenarnya ada di sekitar kita."