Selasa, 27 Januari 2026
Salsabila FM
Life Style

Kenapa Banyak Orang Merasa "Tidak Cukup"

Redaksi - Monday, 26 January 2026 | 09:40 AM

Background
Kenapa Banyak Orang Merasa "Tidak Cukup"
Kenapa Banyak Orang Merasa "Tidak Cukup" ( Istimewa/)

Berkecukupan: Lebih Dari Sekadar Memiliki Cukup

Di zaman serba cepat ini, kata "cukup" seringkali menjadi target yang mudah dicapai: satu paket mie instan, satu jam tidur, satu kali update media sosial. Namun, jika kita benar-benar menyelami makna berkecukupan, kita akan menemukan bahwa itu bukan sekadar milik material, melainkan keseimbangan antara kebutuhan material, emosional, dan spiritual yang terpadu dalam kehidupan sehari‑harinya.

Belum lama ini, sebuah survei nasional mengangkat topik ini. Dari ribuan responden, hanya sekitar 12‑15 % yang mengklaim merasakan "cukup" di semua aspek kehidupan. Angka ini tidak hanya mengejutkan, tapi juga menantang. Kenapa banyak orang yang merasa kurang? Dan bagaimana kita bisa memelihara ketiga dimensi tersebut?

Definisi Berkecukupan: Menyatu dalam Tiga Lapisan

Jika "cukup" hanya berarti memiliki barang atau uang cukup, maka kita sudah selesaikan. Namun, berkecukupan mengandung arti lebih dalam. Berikut tiga lapisan utamanya:

  • Material: Kebutuhan fisik—makan enak, tempat tinggal layak, pakaian bersih. Ini dasar, tapi tidak menyeluruh.
  • Emosional: Hubungan dengan orang terdekat, rasa aman, kebahagiaan dalam menanggapi konflik. Ini yang sering kita abaikan ketika "cukup" diukur lewat saldo bank.
  • Spiritual: Rasa makna, tujuan hidup, kebiasaan introspeksi. Tanpa spiritualitas, material dan emosional terasa kosong.

Menjadi "cukup" berarti kita mengisi ketiga lapisan ini secara seimbang. Bayangkan jika Anda punya semua kebutuhan material, tapi masih merasa sepi di hati; atau sebaliknya, hati bahagia, tapi hidup penuh kesulitan finansial. Kedua situasi itu tidak memenuhi standar keseimbangan.

Statistik: Hanya Beberapa yang Meraih Semua Aspek

Data survei menunjukkan 12‑15 % responden merasa cukup di semua domain. Ini menandakan bahwa mayoritas orang masih berjuang mencapai keseimbangan. Jika kita memecahnya lebih detail, terlihat bahwa sebagian besar yang merasakan cukup material melampaui rata-rata, tetapi rendah di aspek emosional dan spiritual. Kenapa demikian?

Berikut beberapa faktor yang sering muncul di antara responden:

  • Prioritas yang Tergeser: Fokus pada pekerjaan dan karier sering mengorbankan waktu untuk keluarga, teman, dan introspeksi.
  • Tekanan Sosial: Perbandingan sosial melalui media sosial memaksa kita menilai diri lewat standar yang tidak realistis.
  • Kelelahan Digital: Terus terhubung membuat kita kehilangan ruang untuk merenung dan menenangkan pikiran.
  • Kurangnya Pendidikan Emosional: Banyak orang tidak belajar bagaimana menangani emosi atau membangun hubungan sehat.
  • Rendahnya Waktu Praktik Spiritual: Tidak ada ritual atau kebiasaan spiritual yang teratur, sehingga dimensi ini terlupakan.

Dengan mengidentifikasi faktor-faktor ini, kita bisa mulai merancang solusi.

Kenapa Jadi Rendahnya Tingkat Berkecukupan?

Untuk memahami rendahnya tingkat merasa "cukup", kita perlu melihat pola budaya dan ekonomi yang mendasarinya. Pertama, sistem kerja yang menuntut "always on" menurunkan waktu bagi keluarga. Kedua, nilai material yang diangkat dalam iklan membuat kita terus membeli barang baru, padahal kebahagiaan tidak datang dari harta.

Ketiga, pola konsumsi digital membuat kita terjebak dalam "comparison trap" — setiap update foto, cerita, atau status membuat rasa tidak puas. Empat, kurangnya literasi emosional menghambat kemampuan kita menilai kebutuhan batin secara realistis. Dan, terpenting, tidak ada kebijakan yang mendukung waktu istirahat yang cukup, baik bagi pekerja maupun pelajar, sehingga kebiasaan introspeksi menjadi langka.

Solusi: Mengembalikan Keseimbangan

Berikut beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan, baik pada level individu maupun kebijakan sosial:

  • Waktu Offline: Tetapkan "digital detox" harian minimal 30 menit. Coba tidur lebih awal tanpa layar.
  • Jurnal Emosional: Tulis pikiran dan perasaan setidaknya tiga kali seminggu. Ini membantu merinci apa yang sebenarnya membuat Anda bahagia atau stres.
  • Rutinitas Spiritual: Tidak harus agama, bisa meditasi, yoga, atau hanya sekadar berjalan di alam. Konsistensi lebih penting.
  • Evaluasi Prioritas: Seringkali, orang menganggap pekerjaan utama, tapi sebenarnya kebahagiaan berasal dari hubungan. Luangkan waktu untuk orang terdekat.
  • Program Kebijakan: Pemerintah dapat memperkenalkan cuti lebih fleksibel, jam kerja yang lebih manusiawi, serta program kesejahteraan karyawan.

Pesan Akhir: Tidak Ada Rumus Ajaib

"Berkecukupan" bukan tentang memiliki semua, melainkan tentang menciptakan rasa syukur atas apa yang dimiliki. Di dunia yang terus berputar cepat, kita bisa menolak ketidakseimbangan dengan menyadari kebutuhan kita di tiga lapisan. Meskipun hanya 12‑15 % yang merasakan semua dimensi ini saat ini, itu bukan indikator kegagalan, melainkan peluang untuk bertumbuh bersama.

Jika kita bisa memulai dengan satu langkah kecil—misalnya, menulis satu hal yang membuat hari kita lebih baik—kita sudah berada di jalur yang benar. Akhirnya, kehidupan yang "cukup" lebih tentang perjalanan daripada tujuan akhir. Jadi, mulailah hari ini, bukan dengan menunggu "cukup", tapi dengan membuatnya terjadi.