SBY Khawatir Konflik Timur Tengah Meluas Jadi Perang Regional hingga Libatkan NATO
Redaksi - Tuesday, 03 March 2026 | 03:43 AM


salsabilafm.com – Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kekhawatiran atas eskalasi konflik di Timur Tengah pascaserangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan SBY dalam dialog bersama Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Demokrat, Rizki Aulia Rahman Natakusumah, seperti dikutip dari akun YouTube resmi SBY, Selasa (3/3/2026).
"Iya, itu juga yang saya khawatirkan kalau peperangan yang ada di Timur Tengah ini meluas, membesar, tentu ada implikasinya kepada kehidupan tidak hanya di kawasan Timur Tengah, tapi juga di banyak tempat di dunia ini," ujarnya.
Menurut SBY, jika mencermati perkembangan dalam tiga hari terakhir, konflik tersebut berpotensi meluas dan bahkan saat ini dinilai sudah mulai melebar. Dia menyoroti perseteruan tajam antara Israel dan Iran, serta Amerika Serikat dengan Iran yang memiliki akar konflik mendalam.
SBY menilai awalnya sejumlah negara Teluk berupaya bersikap netral. Namun, situasi berubah setelah Iran melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer dan kepentingan AS di kawasan.
"Sehingga ini yang tadinya boleh dikatakan tidak ikut-ikutan begitu, dipaksa untuk melibatkan diri," katanya.
Dia menyebut konflik kini telah berubah menjadi perang regional, karena melibatkan sejumlah negara di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Oman.
"Semua itu tentu dia juga menegakkan kedaulatannya, melakukan pembalasan. Ini menjadi dangerous," ujarnya.
SBY yang juga menjabat Chairman of The Yudhoyono Institute menyinggung laporan serangan terhadap pangkalan militer Inggris di Siprus. Dia mempertanyakan apakah hal tersebut dapat memicu penerapan Pasal 5 NATO.
Menurut dia, berdasarkan Pasal 5 NATO, jika satu anggota diserang, maka negara-negara anggota lainnya wajib memberikan dukungan kolektif.
"Jika ada anggota NATO diserang oleh negara tertentu, maka wajib hukumnya negara anggota NATO bersama-sama memerangi negara yang menyerang posisi Inggris itu. Ini kan menjadi lebih berbahaya lagi," ujarnya.
SBY juga mengingatkan kemungkinan keterlibatan negara besar lain seperti Rusia, China, dan Korea Utara apabila konflik semakin meluas.
"Ini menurut saya very, very dangerous. Mudah-mudahan tidak sampai ke situ. Karena kalau itu terjadi maka Timur Tengah menjadi flash point yang bisa mengarah ke peperangan yang lebih besar," tegasnya.
Lebih lanjut, SBY menilai konflik saat ini tidak lagi sekadar antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, tetapi sudah melibatkan lebih banyak negara, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dia menekankan dampak perang bukan hanya dari sisi militer, tetapi juga ekonomi global yang berpotensi mengalami disrupsi besar.
"Menurut saya masalah yang besar dengan sedikit harapan adalah kesadaran baru untuk deeskalasi, kemudian menahan diri, jangan lebih meluas lagi, lebih membesar lagi, lebih memburuk lagi," pungkas SBY. (*)
Next News

Prediksi Musim Hujan Indonesia 2026: Tanggal Akhir Musim Hujan dan Dampaknya
in 6 hours

MPJ Regional Madura Raya Wilayah Sampang Gelar Ngopi Bareng
6 hours ago

Perantau Sumenep Pulang Lebih Awal, Hindari Kepadatan Arus Mudik Lebaran
9 hours ago

Pemkab Siapkan Bus Gratis untuk Pemudik Tujuan Bangkalan, Kouta Dibatasi 200 Orang
a day ago

KPK Naikkan Status Perkara OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq ke Penyidikan
a day ago

Terima 300 Drum Aspal dari Pemprov Jatim, Bupati Sampang Akan Prioritaskan Akses Jalan Pesantren
a day ago

Konflik Meluas, Warga Sampang di Timur Tengah Diminta Segera Merapat ke Kedutaan
a day ago

Soroti Video Asusila Remaja, Mahfud: Perbuatan Tidak Terpuji, Pantas Diberi Hukuman
a day ago

Pemuda Ditemukan Tergeletak di Bawah Jembatan JLS Sampang
20 hours ago

AJI Indonesia Perkuat Kapasitas Jurnalis di Jawa Timur Hadapi Manipulasi Informasi Digital
a day ago





