Senin, 12 Oktober 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

PMI Asal Sampang Diduga Disiksa di Libya, Disnaker Teruskan Kasus ke Kemenlu dan BP2MI

Syabilur Rosyad - Monday, 12 October 2026 | 05:47 AM

Background
PMI Asal Sampang Diduga Disiksa di Libya, Disnaker Teruskan Kasus ke Kemenlu dan BP2MI
Nurul Hasanah, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jalan Pemuda Baru, Kelurahan Rongtengah, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. (Tangkap Layar/)

salsabilafm.com – Nasib pilu dialami Nurul Hasanah, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jalan Pemuda Baru, Kelurahan Rongtengah, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur. Dia mengaku mengalami kekerasan selama bekerja di Libya setelah awalnya dijanjikan bekerja di Dubai, Senin (12/10/2026).


Dalam video yang beredar di media sosial, Nurul menceritakan bahwa dirinya diberangkatkan ke luar negeri melalui seorang sponsor bernama Bakholis. Namun, negara tujuan yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan.


"Saya awalnya dijanjikan kerja di Dubai oleh sponsor Bakholis, tapi kenyataannya saya malah dibuang dan dipekerjakan di Libya," ungkap Nurul dalam rekaman video tersebut.




Penderitaan Nurul semakin berat setelah mengalami kecelakaan kerja yang mengakibatkan tulang tangannya patah. Meski dalam kondisi cedera, dia mengaku tetap dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga majikannya.


"Tangan saya patah dan sakit-sakitan, tapi tetap dipaksa bekerja," katanya.




Tak hanya itu, Nurul juga mengaku kerap mendapatkan perlakuan kasar selama bekerja. Dia menyebut dirinya beberapa kali dipukul dan hanya diberi makan satu kali dalam sehari.


"Saya juga sering dipukul dan cuma dikasih makan sehari sekali oleh majikan," tuturnya.


Kondisi tersebut membuat Nurul merasa keselamatan dirinya terancam. Ia kemudian berupaya meminta pertolongan melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).




Namun, menurut pengakuannya, upaya untuk pulang ke Indonesia terkendala permintaan pembayaran ganti rugi pemutusan kontrak sebesar 7.000 dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp110 juta.


"Saya sudah lapor ke KBRI tapi malah disuruh bayar ganti rugi 7.000 dolar kalau mau pulang, padahal saya tidak punya uang sebanyak itu," ujarnya.




Besarnya biaya yang disebutkan tersebut membuat Nurul mengaku tidak mampu memenuhi persyaratan untuk kembali ke Tanah Air. Di tengah kondisi fisik yang melemah, dia berharap pemerintah Indonesia segera memberikan bantuan dan perlindungan.


Nurul secara khusus meminta perhatian Bupati Sampang, Gubernur Jawa Timur, serta pemerintah pusat agar segera mengambil langkah untuk memulangkannya.


"Tolong bantu saya Pak Bupati, Ibu Gubernur, dan Pemerintah Indonesia, saya ingin pulang ke Madura," pintanya.




Dia mengaku terus dihantui ketakutan karena berada jauh dari keluarga dalam kondisi yang menurutnya tidak aman.


"Saya sangat takut tidak bisa bertemu keluarga lagi kalau meninggal di sini," ungkapnya.




Sementara itu, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sampang menyatakan telah menindaklanjuti informasi mengenai kondisi Nurul yang viral di media sosial.


Kepala Bidang Penempatan, Perluasan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Disnaker Sampang, Uriantono Triwibowo, mengonfirmasi bahwa pihak keluarga korban telah mendatangi kantor Disnaker untuk melengkapi berkas administrasi.


"Pihak keluarga sudah datang ke kantor kami untuk melengkapi berkas administrasi yang diperlukan. Selanjutnya, kasus ini telah kami teruskan kepada Kementerian Luar Negeri dan BP2MI agar dapat ditindaklanjuti sesuai kewenangan masing-masing," katanya saat dikonfirmasi, Senin (12/10/2026). 




Dia berharap koordinasi lintas instansi tersebut dapat membantu mempercepat penanganan kasus yang menimpa Nurul Hasanah.


"Kami berharap proses penanganan ini bisa segera mendapatkan tindak lanjut, sehingga yang bersangkutan dapat memperoleh perlindungan dan kejelasan terkait upaya pemulangannya ke Indonesia," pungkasnya. (Syad)