Plastik Mahal dan Langka, Pengrajin Tempe di Sampang Gunakan Daun Pisang
Ach. Mukrim - Saturday, 18 April 2026 | 07:48 AM


salsabilafm.com - Kenaikan harga plastik dalam beberapa bulan terakhir mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kabupaten Sampang. Para pedagang tempe kini beralih menggunakan daun pisang sebagai pembungkus untuk menekan biaya produksi yang terus meningkat.
Salah satu pedagang tempe di Pasar Srimangunan, Sampang, Abdul Karim (47), mengaku sudah dua bulan terakhir meninggalkan kemasan plastik dan beralih ke bahan alami. Menurutnya, perubahan ini bukan hanya soal harga saja, tetapi juga ketersediaan bahan.
"Sekarang harga plastik mahal sekali, bisa naik hampir dua kali lipat. Kalau tetap pakai plastik, keuntungan kami makin tipis," ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
"Plastik sekarang susah didapat dan mahal. Kalau daun pisang masih banyak di sekitar sini, jadi lebih mudah," imbuhnya.
Karim menjelaskan, penggunaan daun pisang justru memberikan nilai tambah pada produknya. Selain lebih murah, tempe yang dibungkus daun memiliki aroma khas dan lebih diminati pelanggan.
"Pembeli malah bilang lebih enak, lebih wangi. Jadi sekalian saja kami pakai daun pisang terus," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Koperasi dan Usaha Mikro Diskopindag Kabupaten Sampang, Ermeni Wati, mengatakan, kenaikan harga plastik dipicu oleh kelangkaan bahan baku.
"Memang benar, saat ini harga biji plastik atau nafta sedang langka. Bahan ini banyak dipasok dari Timur Tengah, sementara kondisi di sana sedang konflik, sehingga berdampak pada distribusi dan harga," kata Ermeni.
Menurutnya, peralihan penggunaan plastik polypropylene ke daun pisang oleh para pengrajin tempe menunjukkan kemampuan adaptasi pelaku usaha kecil dalam menghadapi tekanan biaya produksi. Pihaknya akan terus melakukan pendampingan agar pelaku usaha dapat bertahan di tengah fluktuasi harga bahan baku
"Pelaku UMKM cukup responsif terhadap perubahan harga bahan baku. Penggunaan daun pisang menjadi solusi yang tidak hanya lebih ekonomis, tetapi juga memiliki nilai tambah dari sisi kualitas dan ramah lingkungan," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sampang, Mahfud menilai pemerintah daerah perlu mengambil langkah konkret untuk membantu pelaku usaha kecil.
"Kenaikan harga bahan baku seperti plastik tidak bisa dibiarkan. Harus ada intervensi, baik melalui subsidi, pelatihan, maupun akses bahan alternatif," tegasnya.
Menurutnya, fenomena ini bisa menjadi momentum untuk mendorong penggunaan kemasan tradisional yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.
"Peralihan pedagang tempe di Sampang ke daun pisang menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dapat memicu inovasi sederhana, sekaligus menghidupkan kembali praktik tradisional yang lebih ramah lingkungan," pungkas Mahfudz. (Mukrim)
Next News

Tinjau Wisata Capak, Bupati Pamekasan: Para Tokoh Belum Sepakat, Harus Dialog Terbuka
17 hours ago

Curi Tiga Poin di Surabaya, Madura United Menjauh dari Degradasi
17 hours ago

Suntik Rp228 Juta, Diskan Sampang Pacu Produksi Perikanan Air Tawar
18 hours ago

Polisi Kejar Penyebar Video 'Pamekasan Viral'
2 days ago

Perda Desa Wisata Disahkan, Sampang Bidik Tren 'Satisfaction Tourism'
2 days ago

KDKMP Sampang Siap Beroperasi Agustus, Diproyeksikan Jadi Mitra SPPG
2 days ago

Warga Pamekasan Diringkus Polisi di Sampang, Diduga Tipu Lansia Rp11 Juta
3 days ago

2 Kades di Bangkalan Diperiksa KPK, Diduga Terkait Korupsi Dana Hibah Pokmas Jatim
3 days ago

Kemenhaj Pamekasan Ingatkan Jamaah Haji Tidak Jualan Rokok di Tanah Suci
3 days ago

Harga Air Minum Dalam Kemasan Melonjak Imbas Kenaikan Plastik
3 days ago




