Pegang Teguh Ajaran Al-Ghazali, Ratusan Warga di Bangkalan Gelar Salat Lailatul Qadar Berjamaah
Ach. Mukrim - Sunday, 15 March 2026 | 09:20 AM


salsabilafm.com - Ratusan warga Dusun Dumas, Desa Kajjan, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, menggelar salat sunnah Lailatul Qadar berjamaah pada malam ke-25 Ramadan 1447 Hijriyah di Masjid Darul Faizin, Sabtu (14/3/2026). Ritual ibadah ini merupakan tradisi turun-temurun yang merujuk pada amaliyah serta tarekat Imam Al-Ghazali.
Tokoh masyarakat Desa Kajjan, Dasuki, menjelaskan, pelaksanaan salat pada malam ke-25 ini didasarkan pada perhitungan yang tertuang dalam kitab monumental karya Imam Al-Ghazali, yakni Kitab Ihya Ulumuddin. Dalam literatur tersebut, hari dimulainya awal puasa menjadi indikator kuat untuk memprediksi jatuhnya malam kemuliaan.
"Kami mengikuti amaliyah Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumuddin. Sesuai rumusnya, jika awal bulan puasa jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar diprediksi jatuh pada malam tanggal 25 Ramadan. Inilah yang menjadi dasar kami melaksanakan ibadah secara kolektif malam ini," katanya, Sabtu (14/3/2026) malam.
Dia mengungkapkan, berdasarkan kaidah dalam Kitab Ihya Ulumuddin, terdapat rumus untuk memprediksi jatuhnya malam Lailatul Qadar berdasarkan hari pertama Ramadan. Jika awal Ramadan hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25. Jika awal Ramadan hari Sabtu, maka jatuh pada malam ke-23.
"Jika awal Ramadan hari Selasa atau Jumat, maka jatuh pada malam ke-27. Jika awal Ramadan hari Minggu atau Rabu, maka jatuh pada malam ke-29.
Jika awal Ramadan hari Senin, maka jatuh pada malam ke-21," ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, selain ibadah fisik, Dasuki juga memberikan edukasi spiritual mengenai fase kemuliaan Ramadan yang terbagi dalam tiga dasar. 10 hari pertama sebagai fase Rahmat, 10 hari kedua fase Ampunan (Maghfirah), dan 10 hari ketiga sebagai fase Pembebasan dari Api Neraka (Itqum Minan Nar).
"Ibadah salat Lailatul Qadar di wilayah ini dilaksanakan sebanyak empat rakaat secara berjamaah. Hal ini, sesuai dengan ajaran Imam Al Ghazali," lanjutnya.
Baidhowi, tokoh masyarakat Desa Kajjan lainnya, menegaskan, ritual ini merupakan warisan spiritual dari para guru dan ulama pendahulu yang tetap dijaga kelestariannya hingga kini. Dalam kesempatan ini masyarakat berbondong-bondong meramaikan masjid melakukan ibadah-ibadah guna mengharap malam mulia Lailatul Qadar.
"Ini kegiatan tahunan yang kami lakukan secara turun-temurun. Kami mengikuti garis haliyah atau tarekat dari Imam Al-Ghazali sebagaimana diajarkan oleh guru-guru kami sebelumnya," tegasnya.
Menurutnya, rangkaian ibadah tidak berhenti pada salat empat rakaat saja. Usai salam, ratusan jemaah melanjutkan kegiatan dengan pembacaan istighfar massal, selawat nabi, hingga zikir tasbih. Acara ditutup dengan ritual Khotmil Qur'an yang dilanjutkan dengan doa selamatan serta makan bersama.
"Tradisi makan bersama ini menjadi simbol syukur sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga Desa Kajjan yang selalu memadati area ibadah setiap tahunnya," ucapnya.
"Semoga masih bisa melaksanakan ibadah bulan suci Ramadan yang tahun yang akan datang," pungkasnya. (Mukrim)
Next News

DWP Bapenda Sumenep Tampil Aktif dalam Rangkaian Semarak HUT Ke-81 RI
14 hours ago

Polisi Rekomendasikan Tes Urine Random di RSUD dr. Mohammad Zyn
14 hours ago

Pemkab Sampang Anggarkan Rp22 Juta untuk Pengadaan Mesin Pemotong Rumput
14 hours ago

Disnaker Sampang Latih Keterampilan Puluhan Peserta, Dorong Manfaatkan Peluang Kerja Resmi
14 hours ago

Bupati Sampang Dorong Pulau Mandangin Jadi Destinasi Wisata dan Sentra Ekonomi Warga
14 hours ago

Harga Cabai Rawit Naik Jelang Perayaan Maulid Nabi, Bawang dan Telur Stabil
19 hours ago

Geger, Ibu di Pamekasan Bunuh Anak Kandung Berusia 10 Tahun
19 hours ago

BASSRA Bantah Tolak Rencana Industri di Bangkalan
19 hours ago

Diusulkan Jadi Kabupaten Kepulauan Sumenep, Ini Alasan Bupati Fauzi
19 hours ago

Dishub Sampang Catat 5 Titik Parkir Berpotensi Tambah PAD
11 hours ago





