Kamis, 30 April 2026
Salsabila FM
Kriminal

Kasus Kematian Perempuan di Blega: Luka Mendalam Keluarga Korban dan Tuntutan Keadilan

Ach. Mukrim - Thursday, 30 April 2026 | 09:52 AM

Background
Kasus Kematian Perempuan di Blega: Luka Mendalam Keluarga Korban dan Tuntutan Keadilan
Hariyanto, paman korban. (Salman/Salsa/)

salsabilafm.com - Kematian tragis seorang perempuan yang ditemukan tewas penuh luka sabetan Senjata Tajam (Sajam) di Jalan Raya Desa Lombang Dajah, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, pada Rabu malam (22/4/2026) mulai menemui titik terang. 

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh tim Innafis Satreskrim Polres Bangkalan, identitas korban diketahui bernama Agustina Beta Fatimah. Perempuan berusia sekitar 35 tahun, yang selama ini dikenal sebagai sosok tertutup, namun dekat dengan keluarga.


Hariyanto, paman korban, menuturkan, Beta Fatimah lahir di Kampung Sawah Jati, Dusun Malakah, Desa Komis, Kecamatan Kadungdung, Kabupaten Sampang. Dia merupakan anak tunggal dari kedua orang tuanya yang telah lama meninggal dunia.

Sebagai anak tunggal, korban diketahui mempunyai kepribadian yang ramah, berbakti kepada orang tua. Semasa hidupnya korban sangat sopan kepada semua keluarga dan tetangga.




"Kalau di mata keluarga, korban ini orangnya tertutup. Tapi kalau dengan keluarga dekat, komunikasinya sangat baik," tutur Hariyanto kepada salsabilafm, Kamis (30/4/2026).


Heriyanto menceritakan, sekitar 12 tahun lalu, korban pindah domisili ke Kabupaten Bangkalan lantaran mengikuti suami barunya. Keluarga pun mengetahui bahwa korban telah melangsungkan pernikahan dengan pria asal Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan, yang disebut sebagai suami keduanya. 




Dari pernikahan sebelumnya, lanjut  Heriyanto, korban dikaruniai seorang anak laki-laki yang saat ini berusia sekitar 18 tahun, dan bekerja di daerah Karawang, Jakarta. 


"Saat ini anak korban sedang berada di Surabaya karena ada acara. Anak korban pulang ke Madura ini pasti mendengar ibunya telah tiada," ucapnya dengan suara lirih.


Merantau Karena Himpitan Ekonomi




Sebelum menetap di Madura, Beta Fatimah diketahui merantau ke daerah Karawang dan Jakarta. Namun, dalam dua tahun terakhir, dia tidak lagi kembali ke Jakarta karena alasan merawat mertuanya yang sedang sakit.


Setiap komunikasi dengan keluarga, tutur Hariyanto, korban kerap mengeluhkan persoalan ekonomi. Dia juga sempat bercerita mengenai kebiasaan suaminya yang diduga sering melakukan perkara melanggar hukum, sehingga terus memperburuk kondisi keuangan rumah tangga.




"Korban sering cerita soal himpitan ekonomi. Itu saja yang sering dikeluhkan," kata Hariyanto.


Pamit Mau Kerja di Malaysia


Hariyanto mengungkapkan, komunikasi terakhir korban dengan keluarganya terjadi sebelum Lebaran Idul Fitri 2026, tepatnya pada bulan suci Ramadhan 1447 Hijriyah. Saat itu, korban mengaku tidak bisa pulang kampung karena sedang merawat mertuanya yang sedang mengalami patah tulang.




Dua hari sebelum kejadian, korban kembali berkomunikasi dengan pihak keluarga melalui pesan WhatsApp Grup keluarga. Saat itu, korban berpamitan akan berangkat ke Malaysia untuk bekerja. Dia menyebut faktor ekonomi sebagai alasan utama dirinya ingin merantau ke negeri Jiran.


"Sekitar dua hari sebelum kejadian, korban pamit mau ke Malaysia. Katanya karena faktor ekonomi. Pamitnya di grup WhatsApp keluarga. Jadi keluarga tahu semua terkait itu," jelas Hariyanto.




Pada saat itu, semua keluarga korban mengaku sama sekali tidak mempunyai firasat apapun, atau tidak merasakan tanda-tanda yang mencurigakan akan terjadinya peristiwa itu.


"Keluarga tidak ada firasat apapun baik dari perilaku maupun dari kata-kata," jelasnya.


Terungkap dari Media Sosial




Keluarga korban pertama kali mengetahui identitas perempuan yang tewas di desa Lombang Dajah, Blega, Bangkalan melalui unggahan di media sosial. Kecurigaan muncul dari tanda fisik berupa tahi lalat di pipi kanan korban.


"Dari situ kami curiga itu ponakan kami. Besoknya kami ke Polres Bangkalan untuk memastikan," ungkap Hariyanto.




Didampingi aparat kepolisian, keluarga korban kemudian menuju rumah sakit tempat jenazah berada. Setelah proses identifikasi, dipastikan bahwa korban adalah Agustina Beta Fatimah.


Keluarga Korban Menuntut Keadilan


Kematian korban meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Mereka sangat terpukul melihat kondisi korban yang diduga mengalami penganiayaan sebelum meninggal dunia.




"Kami sangat terluka. Ini bukan binatang, ini manusia. Kami hanya minta keadilan," tegas Hariyanto dengan suara gemetar sambil meneteskan air mata.


Keluarga pun mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus ini. Mereka meyakini bahwa pelaku tidak hanya satu orang, namun ada pihak lain yang terlibat dalam kasus perencanaan pembunuhan itu.




"Tidak mungkin hanya satu pelaku. Pasti ada yang merencanakan. Kami minta diusut tuntas," katanya.


Karena itu, keluarga berharap pelaku mendapatkan hukuman maksimal sesuai ketentuan hukum yang berlaku, termasuk kemungkinan hukuman seumur hidup atau hukuman mati.





Tepis Isu Liar


Di tengah kematian korban, muncul berbagai isu liar dan motif yang spekulatif, termasuk dugaan perselingkuhan. Sebab itu, pihak keluarga menilai motif tersebut masih belum jelas dan janggal.


"Kalau memang isu perselingkuhan, biasanya kejadiannya tidak seperti ini. Ini terjadi di tempat umum. Itu yang membuat kami merasa ada kejanggalan," ujar Hariyanto.




Untuk menepis isu liar tersebut, keluarga korban berharap kepolisian dapat mengungkap motif sebenarnya di balik pembunuhan ini. Hal ini untuk memastikan semua pihak yang terlibat mendapatkan hukuman setimpal.



Pendampingan dari Pemerintah Desa 




Pemerintah Desa Komis, Kecamatan Kedungdung menyatakan kesiapannya untuk mendampingi keluarga korban dalam mencari keadilan. Tak hanya moral namun juga administratif. 


"Kami dari pemerintah desa akan terus mendampingi keluarga sampai kasus ini selesai," tegas Sekretaris Desa Komis, Fathur Rozi. 




Rozi menilai kasus ini bukan sekadar kriminal biasa. Namun, ada rasa keadilan masyarakat yang harus ditegakkan, apalagi  motif pembunuhan yang belum jelas.


"Kami tidak terima dengan adanya penganiayaan ini. Apalagi sampai menghilangkan nyawa. Motifnya juga belum jelas. Itu yang membuat kami sangat menyayangkan," ujarnya. 


Bagi Rozi, kasus ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keselamatan warganya (korban), meski telah berpindah domisili. Karena itu, pihak desa akan terus berkoordinasi dengan aparat penegak hukum serta memastikan keluarga korban mendapatkan akses informasi yang jelas dan transparan.




Selain itu, pemerintah desa juga terus berupaya menjaga kondusivitas di lingkungan asal korban agar tidak muncul konflik atau kesalahpahaman akibat berbagai isu yang beredar.


"Kami ingin semuanya jelas. Siapa pelaku, apa motifnya. Harus dibuka seterang-terangnya agar tidak muncul isu-isu liar di masyarakat," pungkasnya. (Mukrim)