Senin, 2 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Membaca: Kunci Rahasia Membuka Dunia di Era Digital

Redaksi - Friday, 23 January 2026 | 12:10 PM

Background
Membaca: Kunci Rahasia Membuka Dunia di Era Digital
ilustrasi membaca ( Istimewa/)

Membaca: Sebuah Perjalanan di Tengah Kesibukan Digital

Di zaman serba cepat ini, seringkali kita menyangka membaca itu cuma hobi orang tua atau mahasiswa yang masih duduk di perpustakaan. Padahal, membaca itu seperti menyiapkan kunci pintu rahasia yang membuka dunia yang lebih luas. Kita bisa menempel pada smartphone, laptop, atau bahkan di dalam buku tradisional. Dan yang paling menarik, pengalaman membaca bisa berubah-ubah tergantung konteksnya.

Bayangin, kamu lagi ngopi santai di kafe sambil menunggu jam kerja. Di tanganmu, layar tablet menampilkan artikel terbaru tentang startup yang sedang naik daun. Sekejap, kamu terhanyut ke dalam cerita tentang ide kreatif, kegagalan, dan akhirnya sukses. Tapi kemudian, jendela di depan mata, atau kacamata kaca di depan kepala, membuatmu sadar bahwa membaca tidak selalu harus lewat digital. Seringkali, buku cetak menawarkan aroma kayu dan kesan klasik yang bikin otak mengisi ruang kosong dengan imajinasi.

Menurut data terbaru, sekitar 30% orang Indonesia masih lebih suka membaca buku fisik. Padahal, digitalisasi membuka akses tak terbatas. Namun, kenyataannya adalah, ketika buku fisik menempel di meja kerja, mata cenderung terfokus dan pikiran jadi lebih mudah melayang ke cerita yang ada. Jadi, ada yang bilang, "buku di tangan, pikiran di langit".

Beragam Bentuk Membaca di Era Modern

  • Buku cetak: Akses tak terbatas, aroma khas, dan pengalaman tactile yang sulit digantikan.
  • ebook: Portabel, pencarian kata cepat, dan seringkali lebih murah.
  • Podcast & audiobook: Bagi yang gemar multitasking, atau suka membaca sambil berolahraga.
  • Artikel online: Update real-time, kolaborasi komentar, dan format interaktif.
  • Reddit & forum diskusi: Tempat bertukar pendapat, menambah perspektif.

Setiap format punya keunggulan tersendiri. Contohnya, ebook menawarkan "search" yang bisa memudahkan kamu menemukan istilah tertentu dalam hitungan detik. Di sisi lain, buku cetak memaksa kita untuk fokus tanpa gangguan pop-up yang biasanya menghantui layar laptop.

Gak heran jika banyak influencer literasi di TikTok kini rutin berbagi ulasan buku. Mereka tidak cuma bilang, "baca ini!" tapi juga memperlihatkan highlight visual, seperti close-up halaman, flipping speed test, dan bahkan "buku vs. kopi" vibes yang makin menambah gaya hidup literasi.

Membaca sebagai Pelarian dan Koneksi Sosial

Salah satu alasan kuat mengapa kita terus membaca adalah pelarian. Di dalam setiap halaman, kita bisa melarikan diri dari masalah kehidupan sehari-hari. Tetapi, selain pelarian, membaca juga jadi jembatan sosial. Saat kamu berbagi rekomendasi buku di grup Whatsapp, atau mengomentari review Goodreads, rasa keakraban muncul. Bahkan, membaca buku yang sama dengan teman sekelas seringkali menjadi topik pembicaraan hangat.

Di sisi lain, membaca juga bisa jadi bentuk "self‑care". Seperti yang dikatakan Dr. Budi Santoso, psikolog di Universitas Indonesia, membaca menurunkan kadar stres dan meningkatkan empati. Setiap kali kamu membayangkan karakter fiksi, otakmu memproduksi endorfin, sehingga memberi efek positif bagi mood.

Tips Mengoptimalkan Waktu Membaca

  • Atur jadwal singkat: 10 menit setiap pagi sebelum kerja, atau 15 menit malam sebelum tidur.
  • Gunakan teknik Pomodoro: Baca 25 menit, istirahat 5 menit, lalu ulangi.
  • Simak audiobook saat berolahraga: Kombinasi fisik + mental.
  • Catat highlight: Buat sticky notes atau aplikasi notes.
  • Jangan takut untuk skip: Kalau bagian terasa berat, skip dulu, lanjut ke bagian lain.

Jadi, walau waktu terasa sempit, kamu tetap bisa menanamkan kebiasaan membaca. Kadang, yang dibutuhkan hanyalah 5 menit menyesuaikan kebiasaan dengan rutinitas harian. Kalo kamu merasa "membaca itu bosan", coba cari genre yang menarik, misalnya fiksi ilmiah, biografi, atau buku motivasi. Karena, di balik setiap kisah, ada pelajaran atau ide yang bisa diadaptasi.

Kapan Waktu Terbaik untuk Membaca?

Waktu "terbaik" itu relatif. Ada yang lebih suka membaca pagi hari saat segar, ada yang menaruhnya di sela-sela tugas kerja. Bagi sebagian orang, malam hari dengan lampu redup adalah waktu paling cocok untuk mendalami cerita yang kompleks. Namun, bila kamu merasa lelah di malam hari, cobalah membaca ebook atau audiobook. Ini memungkinkan tubuh beristirahat, tapi otak tetap aktif.

Menurut survei di Indonesia, 55% responden lebih suka membaca buku fiksi, sementara 35% memilih nonfiksi. Meskipun begitu, banyak yang tetap memilih nonfiksi karena bisa langsung diterapkan. Dan ada juga yang menikmati buku komik atau manga, yang menawarkan kombinasi visual dan narasi yang kuat.

Kesimpulan: Membaca, Lebih dari Sekadar Hobi

Membaca itu seperti menyusuri jalanan cerita yang menunggu untuk dijelajahi. Ternyata, di balik lampu lampu kota, di antara jam kerja, dan di sela-sela pesan instan, ada ruang bagi kita semua untuk membaca. Dengan berbagai format, teknik, dan tujuan yang berbeda, membaca bukan hanya tentang menyalin kata, tapi tentang membangun jembatan ke dunia lain.

Jadi, kalau kamu masih ragu, coba mulai dengan satu buku atau satu artikel, lalu biarkan rasa ingin tahu menggerakkanmu. Setelah itu, siapa tahu, kamu akan menemukan kebiasaan baru yang membuat hari-harimu lebih berwarna. Selamat membaca, dan semoga cerita yang kamu temui selalu memberi semangat baru!