Minggu, 1 November 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Melihat Sampang dari Seberang Jalan: Menggugat Pendidikan dan Ruang Perempuan Lewat Diskusi Literasi

Syabilur Rosyad - Sunday, 01 November 2026 | 07:21 AM

Background
Melihat Sampang dari Seberang Jalan: Menggugat Pendidikan dan Ruang Perempuan Lewat Diskusi Literasi
Komunitas Literasi Ajhar Embongan berkolaborasi dengan Forum Mahajana saat menggelar Pekan Literasi, Sabtu (Rosyad/Salsa/)

salsabilafm.com – Persoalan pendidikan dan keterbatasan ruang perempuan menjadi bagian dari refleksi kritis dalam Pekan Literasi bertajuk "Melihat Sampang dari Seberang Jalan" yang diselenggarakan Forum Mahajana berkolaborasi dengan Komunitas Literasi Ajhar Embongan di Halaman Perpusda Kabupaten Sampang, Sabtu (31/10/2026) malam. 


Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi pertemuan pegiat literasi, tetapi juga ruang pertukaran gagasan untuk membaca realitas sosial Sampang melalui pendekatan akademik, pengalaman organisasi, dan perspektif masyarakat.


Founder Ajhar Embongan, Moh. Iklil Kamil, menjelaskan, tema "Melihat Sampang dari Seberang Jalan" dipilih sebagai ajakan untuk melihat daerah dari perspektif yang lebih objektif dan kritis.




Menurutnya, melihat Sampang dari seberang jalan berarti mengambil jarak dari cara pandang yang selama ini dianggap biasa, sehingga berbagai persoalan yang berkembang di masyarakat dapat dibaca secara lebih mendalam.


"Literasi tidak boleh berhenti pada aktivitas membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi harus menjadi instrumen untuk membangun kesadaran kritis, membaca realitas sosial, serta melahirkan keberanian untuk mempertanyakan berbagai persoalan di lingkungan kita," katanya kepada salsabilafm.com, Minggu (1/10/2026). 




Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah pendidikan. Dalam perspektif pembangunan daerah, pendidikan tidak semestinya hanya diukur melalui angka partisipasi sekolah atau ketersediaan sarana dan prasarana. Lebih jauh, kualitas pendidikan juga berkaitan dengan pemerataan akses pengetahuan, kebebasan berpikir, serta kemampuan masyarakat membangun kesadaran kritis.


"Persoalan tersebut menjadi relevan untuk dibicarakan di Sampang, terutama dalam melihat bagaimana pendidikan dapat menjadi instrumen mobilitas sosial dan memutus reproduksi ketimpangan di tengah masyarakat," jelas Kamil.


Selain pendidikan, ruang perempuan juga menjadi bagian penting dalam pembacaan realitas sosial. Keterlibatan perempuan dalam pendidikan, organisasi, ruang intelektual, dan pengambilan keputusan merupakan indikator penting dalam melihat sejauh mana kesetaraan sosial benar-benar mendapatkan tempat.




"Perempuan tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai objek dalam pembicaraan pembangunan. Mereka harus memiliki ruang yang setara untuk memproduksi pengetahuan, menyampaikan pandangan, dan terlibat dalam menentukan arah kehidupan sosial," ujarnya.


Dalam konteks tersebut, literasi memiliki peran strategis untuk membongkar konstruksi sosial yang membatasi partisipasi kelompok tertentu. Sebab, pembangunan yang inklusif tidak akan tercapai apabila sebagian masyarakat masih mengalami keterbatasan dalam memperoleh akses dan ruang partisipasi.




Kamil juga menekankan pentingnya mempertemukan berbagai latar belakang akademik, organisasi, dan pengalaman dalam satu ruang dialog. Keberagaman perspektif dinilai dapat memperkaya cara masyarakat memahami persoalan daerah sekaligus menghasilkan gagasan yang lebih komprehensif.


"Yang ingin dibangun bukan sekadar forum berkumpul, melainkan ekosistem pengetahuan. Sampang membutuhkan lebih banyak ruang dialog yang memungkinkan perbedaan perspektif bertemu, diuji, dan kemudian dirumuskan menjadi gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat," tuturnya.


Pekan Literasi tersebut turut dimeriahkan dengan sejumlah pertunjukan seni, mulai dari tari kontemporer, pembacaan puisi, hingga monolog. Melalui kegiatan ini, Forum Mahajana dan Komunitas Literasi Ajhar Embongan berupaya menghadirkan ruang alternatif bagi tumbuhnya tradisi intelektual di Sampang. (Syad)