Kasus Kekerasan Anak di Sampang Didominasi Persetubuhan
Redaksi - Wednesday, 20 May 2026 | 06:52 AM


salsabilafm.com - Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Sampang terus memperketat penanganan korban serta menggencarkan langkah pencegahan. Upaya ini difokuskan untuk menekan angka kriminalitas perlindungan anak sekaligus menjamin pemulihan trauma para korban.
Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinsos Sampang, Masruhah mengatakan, kasus kekerasan terhadap anak masih menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Berbagai upaya penanganan, pendampingan hingga pencegahan terus dilakukan agar kasus serupa dapat ditekan.
Masruhan memaparkan, sepanjang tahun 2025 tercatat sebanyak 37 kasus kekerasan terhadap anak. Dari jumlah tersebut, kasus persetubuhan menjadi yang tertinggi yakni sebanyak 17 kasus, kemudian pencabulan 3 kasus, penganiayaan 10 kasus, dan 7 kasus lainnya.
"Sementara itu, pada tahun 2026 hingga saat ini tercatat sebanyak 10 kasus kekerasan terhadap perempuan. Rinciannya terdiri dari 4 kasus persetubuhan, 3 kasus pencabulan, 2 kasus penganiayaan, dan 1 kasus lainnya," katanya, Rabu (19/5/2026).
Dia menjelaskan, setiap laporan yang masuk langsung ditindaklanjuti melalui proses pendampingan terhadap korban. Pendampingan dilakukan mulai dari penanganan awal, pemeriksaan kesehatan, pendampingan psikologis, hingga pendampingan hukum apabila kasus berlanjut ke proses peradilan.
"Korban tidak hanya membutuhkan perlindungan secara hukum, tetapi juga pemulihan mental dan psikologis. Karena itu kami bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari kepolisian, tenaga kesehatan, psikolog, hingga lembaga perlindungan perempuan dan anak," jelasnya.
Selain penanganan korban, pihaknya juga terus menggencarkan langkah pencegahan melalui sosialisasi ke sekolah, lingkungan masyarakat, serta kelompok orang tua. Edukasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan terhadap anak serta bahaya kekerasan seksual.
Menurutnya, peran keluarga menjadi faktor paling penting dalam mencegah terjadinya kekerasan. Orang tua diminta lebih aktif mengawasi pergaulan anak, membangun komunikasi yang baik, serta memberikan pemahaman mengenai perlindungan diri sejak dini.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak takut melapor apabila menemukan atau mengalami tindak kekerasan. Semakin cepat ditangani, maka dampak yang ditimbulkan dapat diminimalisir," tambahnya.
"Kami berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan terhadap perempuan maupun anak," pungkasnya. (Mukrim)
Next News

Korban Meninggal Akibat Gempa NTT Bertambah Jadi 83 Orang
12 hours ago

BMKG Catat 4.256 Gempa Susulan di NTT, Terbesar Magnitudo 6,2
12 hours ago

Persiapan Muktamar ke-35 NU Jombang Masuk Tahap Akhir, Panitia: Undangan Sudah Kita Kirim
12 hours ago

Soal Rencana Pabrik China Direlokasi ke Madura, Emil: Saya Cek ke Dinas Penanaman Modal
12 hours ago

Puluhan Motor di Kangean Sumenep Hangus Terbakar Saat Diparkir
12 hours ago

Disnaker Sampang Ingatkan Bahaya Kerja Ilegal di Luar Negeri
12 hours ago

PAD Pelabuhan Tanglok Sampang Baru 53,7 Persen, Target Rp206 Juta Terancam Tak Tercapai
12 hours ago

Sampang Berpotensi Jadi Daerah Penghasil Migas, Ini Sebabnya
8 hours ago

Kandang dan Dapur Warga Ketapang Sampang Terbakar, 2 Sapi Terpanggang
a day ago

Diduga Sopir Mikrosleep, Mobil Ertiga Tabrak Tiang di Jrengik Sampang
2 days ago





