Beras Naik Tak Menentu, Pedagang di Sumenep Bingung Tentukan Harga Jual
Redaksi - Wednesday, 20 May 2026 | 07:07 AM


salsabilafm.com - Kenaikan harga beras di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, membingungkan pedagang pasar. Sebab, harga berubah cepat dan tidak menentu, meski pengiriman barang masih berasal dari wilayah yang sama.
Pedagang beras di Pasar Tradisional Anom Sumenep, Roni, mengatakan, dalam dua pekan terakhir dirinya sudah menerima tiga kali pengiriman beras dari wilayah Jawa. Namun, setiap pengiriman memiliki pola kenaikan harga berbeda.
"Kadang saat barang datang belum naik, tapi besoknya ada kabar harga naik lagi," kata Roni, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, kenaikan harga juga tidak seragam setiap merek beras. Padahal, kualitas beras yang dijual relatif sama. Akibatnya, pedagang kesulitan menentukan harga jual kepada pembeli.
Saat ini, harga beras kemasan 5 kilogram mencapai Rp76.000 dari sebelumnya Rp 73.000. Sedangkan kemasan 10 kilogram naik menjadi Rp155.000 dari sebelumnya sekitar Rp150.000.
Roni menduga, kenaikan harga terjadi akibat persaingan antar-distributor besar. Namun, dia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab utama perubahan harga tersebut.
"Kalau dugaan kami mungkin ada persaingan atau permainan distributor besar. Tapi itu cuma dugaan," tambahnya.
Kepala Bulog Madura, Ahmad Rofi'i, mengatakan, pihaknya masih belum menerima informasi detail terkait penyebab kenaikan harga beras di Sumenep
Meski begitu, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) periode Maret-April, komoditas beras justru masih tercatat sebagai penyumbang deflasi secara month to month.
"Kalau kenaikan masih belum terinfo. Tapi untuk laporan BPS periode month to month Maret-April, sepertinya masih menjadi penyumbang deflasi," ungkap Rofi'i.
Dia memastikan, Bulog tetap menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), terutama di Pasar Anom yang menjadi pasar pencatatan harga di Sumenep.
Bulog Madura juga bekerja sama dengan Dinas Perdagangan, bagian perekonomian pemerintah kabupaten, dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga pangan.
"Selain beras SPHP, distribusi Minyakita juga dilakukan melalui Toko Inflasi milik Pemerintah Kabupaten Sumenep di area Pasar Anom," pungkasnya. (*)
Next News

Desa Terdampak Kekeringan di Pamekasan Diprediksi Bertambah, BPBD: Tunggu SK dari Bupati
16 hours ago

Sempat Hilang Dicuri Maling, Motor Milik Warga Pamekasan Akhirnya Kembali
16 hours ago

Kecam Pelecehan Seksual terhadap Anak, KOPRI PMII Sampang Desak Pelaku Dihukum Berat
17 hours ago

SPBU Arahkan Pengguna Jeriken Urus Rekomendasi, Disperta KP: Kalau Diperjualbelikan Kembali Kami Tolak
20 hours ago

Dinsos PPA Sampang Dampingi Korban Rudapaksa 27 Orang, Pastikan Hak Pendidikan Terpenuhi
20 hours ago

Pemkab Sampang Tunggu Petunjuk ESDM Jatim Tangani Sumur Bor Diduga Mengandung Gas
20 hours ago

Kantor Imigrasi Pamekasan Deportasi 5 WNA Asal Malaysia dan Pakistan
12 hours ago

Lahan Tembakau di Pamekasan Dirusak OTK, Petani Rugi Rp6,5 Juta
12 hours ago

Desak Polisi Tangkap 27 Pelaku Rudapaksa Anak, DPRD Sampang: Itu Tindakan Biadab
12 hours ago

Gerakan Indonesia Asri 2026 Diluncurkan di Sampang, Dorong Lingkungan Bersih dan Berkelanjutan
2 days ago





