Campak Capai 90 Kasus, Dinkes Sampang Tingkatkan Kewaspadaan dan Sosialisasi
Syabilur Rosyad - Tuesday, 07 April 2026 | 07:43 AM


salsabilafm.com - Penyakit Campak masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Sampang. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 90 kasus yang tersebar di berbagai wilayah.
Berdasarkan data yang dihimpun, dari 22 Puskesmas yang ada, terdapat tiga wilayah yang menjadi lokasi dengan kasus paling tinggi, yaitu wilayah kerja Puskesmas Tambelangan, Banyuanyar, dan Robatal. Masing-masing wilayah tersebut mencatat angka kasus mencapai 12 orang.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Sampang, Syamsul Hidayat, melalui Ketua Tim Survei Imunisasi, Laili Nafila, memaparkan, dari total 90 kasus tersebut, pengambilan sampel dilakukan di 11 kecamatan yang mengarah pada indikasi penyakit Campak.
"Kecuali Puskesmas Tamberuh dan Bunten Barat yang sampai saat ini belum melaporkan adanya kasus," ujar Laili saat ditemui di kantornya, Selasa (7/4/2026).
Menanggapi informasi adanya pasien yang meninggal dunia akibat penyakit campak, Laili membenarkan adanya kasus tersebut. Namun, dia menegaskan, pasien yang meninggal bukan tertular atau sakit saat berada di Sampang.
"Pasien tersebut memang warga Sampang asal Kecamatan Kedungdung, tapi sakitnya mulai dari di Jakarta. Jadi saat mudik kondisinya sudah sakit, tidak sempat pulang ke rumah dan langsung dibawa ke rumah sakit," jelasnya.
Laili menambahkan, faktor utama tingginya angka kasus ini disebabkan oleh rendahnya cakupan imunisasi dasar, sehingga daya tahan tubuh masyarakat terhadap virus campak menjadi lemah. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat kesadaran masyarakat yang masih kurang akan pentingnya imunisasi.
"Penderita Campak biasanya cakupan imunisasinya rendah sehingga daya tahan tubuhnya juga rendah. Ini menjadi faktor yang harus kita benahi," tegasnya.
Untuk menekan penyebaran, pihaknya terus melakukan berbagai upaya preventif. Mulai dari penekanan dan pembinaan terhadap jajaran di Puskesmas dan Posyandu, sosialisasi kepada tokoh agama, hingga memanfaatkan media sosial untuk edukasi masif.
"Kami telah gencar melakukan promosi dan sosialisasi agar masyarakat lebih peduli dan memahami bahaya penyakit ini," pungkas Laili. (Syad)
Next News

Apresiasi Buku Miftahur Rozaq, Bawaslu Jatim: Buku Ini Kawinkan 18 Tahun Pengalaman Mahal Penyelenggara Pemilu
11 hours ago

Meski WFH, ASN Daratan dan Kepulauan di Sumenep Lakukan Kerja Bakti Serentak
11 hours ago

Tolak Wacana Pemilihan Lewat DPRD, Rektor UTM: Esensi Demokrasi Adalah Kedaulatan Rakyat
14 hours ago

Terinspirasi dari Literasi Pesantren, Miftahur Rozaq Launching Buku 'Di Balik Layar Demokrasi'
14 hours ago

Kecelakaan Maut di Camplong Sampang, Seorang Perawat Meninggal Dunia
15 hours ago

ASN WFH di Pamekasan Wajib On Call, 5 Menit Maksimal Respons Telepon
15 hours ago

Mobil Avanza di Bangkalan Tercebur ke Sungai
15 hours ago

Pertamina Patra Niaga Jaga Kesinambungan Suplai LPG Nusantara, STS Kalbut Sebagai Urat Nadi Energi Indonesia
15 hours ago

Harga Melonjak, Pemkab Sumenep Kaji Kemungkinan Bahan Pengganti Plastik
a day ago

Harga Plastik Naik, Pengusaha Tempe di Pamekasan Beralih ke Daun Pisang
a day ago





