Selasa, 3 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Toxic Relationship pada Remaja dan Dewasa Muda: Perspektif Psikologis dan Sosial

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 12:05 PM

Background
Toxic Relationship pada Remaja dan Dewasa Muda: Perspektif Psikologis dan Sosial
Toxic Relationship pada Remaja dan Dewasa Muda: Perspektif Psikologis dan Sosial ( Istimewa/)

Fenomena Toxic Relationship: Apa Sih Itu dan Kenapa Kita Kalian Beda Jadi Terjebak?

Setiap orang pasti pernah denger istilah "toxic relationship" itu. Tapi, bagi sebagian dari kita, istilahnya masih kayak istilah asing yang belum tentu kapi. Di sini, kita akan coba luruskan apa sih sebenarnya "toxic relationship", kenapa orang sering terjebak, dan gimana cara supaya bisa keluar dari siklus buruk itu tanpa harus merasa takut atau malu.

Gak Selalu Keren, Justru Beda Diri

Gak heran kalau hubungan yang penuh drama, cemburu berlebihan, atau kontrol berlebihan selalu bikin orang mikir, "Ini jodoh? Bukan?!" Karena seringkali, apa yang terlihat di permukaan hanyalah "cinta" aja. Namun, kalau ditelusuri lebih dalam, itu biasanya dipenuhi konflik, manipulasi, dan ketidaksetaraan. Di Indonesia, khususnya di kalangan remaja dan dewasa muda, "toxic relationship" sudah sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Seringkali, orang-orang ini terjebak karena masih bingung, takut gagal, atau karena tekanan sosial.

Menurut para ahli, hubungan yang berfungsi (healthy relationship) biasanya didukung oleh dua hal penting: rasa saling menghormati dan komunikasi terbuka. Kalau salah satu unsur itu hilang, hubungan bisa dengan cepat berubah menjadi "toxic". Jadi, kalau kalian merasa teman, pasangan, atau keluarga kalian "kekasih" sepertinya lebih suka ngebatik, malah lebih sering ngerusak, mungkin itu sudah masuk kategori toxic.

Simbol-Simbol Toxic yang Bisa Kamu Kenali

  • Kontrol Berlebihan: Seperti "Kenapa kamu pakai baju ini? Kok kamu tidak suka? Gak boleh keluar malam? Kalau kamu keluar, siapa yang akan jaga kamu?"
  • Manipulasi Emosional: "Kalo kamu tidak senang, maka aku tidak mau jalan-jalan. Aku akan menangis."
  • Perilaku Cemburu Ekstrem: "Kamu kan ga boleh berteman sama orang lain? Kalo ada yang suka kamu, kabarin aku!"
  • Kurangnya Komunikasi: Kalau masalahnya selalu terendam, tidak pernah dibicarakan secara terbuka, atau setiap kali kalian bicarakan, malah berakhir dengan marah.
  • Penghinaan dan Penghargaan Pasif: "Kamu memang malas. Gak mau ngelakuin apapun. Gak punya tujuan hidup."

Ya, ini bukan daftar yang lengkap, tapi cukup untuk memberi gambaran kalau hubungan yang sehat tidak boleh berisi unsur negatif ini. Kalau ada satu atau dua di atas, jangan anggap remeh. Kalau semua ada, ya, segala-galanya bisa jadi "toxic".

Pernah Ngerasain?

Siapa yang gak pernah ngerasa cemburu? Tapi kalau cemburu itu berkembang jadi kebiasaan yang menekan, kayak "kalo kamu ngelihat foto teman, aku mau tanya siapa dia." Dan apa lagi, ada yang pernah ngerasa "kalo pasangan kamu nanya tentang pekerjaan, aku harus kasih jawaban tepat." Semua ini, kalau terus terjadi, bisa jadi titik awal hubungan yang tidak sehat.

Masih ada cerita lucu? "Eh, aku mau nonton sinetron bareng. Kamu? Kalo kamu ngerekam, ya udah, saya tau, tidak masalah." Biarpun cenderung absurd, tapi contoh seperti ini biasanya menunjukkan pola perilaku yang mengganggu kebebasan pribadi.

Mengapa Kita Kadang Terjebak di Sini?

Kenapa banyak orang masih tetap berada di situ? Salah satu penyebabnya adalah "fear of being alone" (takut sendirian). Kalau kamu merasa sendirian, kamu cenderung mau menahan hubungan yang tidak sehat. Kalau kamu masih muda, mungkin kamu percaya bahwa cinta seharusnya "berjalan dengan segala rasa sakit". Tentu saja, hal ini bukan cara yang tepat. Ada pula "social pressure" (tekanan sosial). Misalnya, di kalangan teman sebaya, ada "norm" bahwa pasangan harus ada, jadi kalau kamu sendirian, teman-teman mungkin akan menanyakan, "Kapan kamu menikah?" Dan kamu bisa merasa dipaksa untuk menemukan pasangan, padahal belum siap.

Alasan lain adalah "lack of awareness" (kekurangan pemahaman). Banyak orang tidak punya referensi atau contoh hubungan sehat. Mereka mungkin hanya melihat drama di TV atau film, sehingga mereka terinspirasi untuk meniru pola hubungan yang tampak dramatis.

Bagaimana Cara Keluar?

1. Kenali Batasanmu: Ini berarti tahu apa yang kamu anggap wajar, dan apa yang tidak. Jika pasangan menolak untuk menghormati batasan ini, mungkin waktunya untuk mengevaluasi kembali.

2. Berkomunikasi Tanpa Blame: Alih-alih memanggil "mu" dalam konteks kritik, coba gunakan "saya" – "saya merasa…". Ini membantu mengurangi pertahanan dan meningkatkan pemahaman.

3. Jangan takut memisahkan diri: Kalau hubungan terlalu toxic, pertimbangkan jarak minimal. Ini bukan akhir segalanya, tapi bisa jadi ruang bagi keduanya untuk menilai kembali.

4. Gunakan Sosial Support: Teman atau keluarga dapat menjadi tempat yang aman bagi kamu untuk curhat dan mendapatkan perspektif yang lebih objektif.

5. Buka diri ke profesional: Terapis atau konselor relationship dapat membantu mengevaluasi pola-pola negatif dan menemukan cara-cara yang lebih sehat.

Kesimpulan: Jangan Biarkan "Toxic" Jadi Bagian dari Hidupmu

Hingga akhir-akhir ini, masih banyak orang yang masih terjebak dalam hubungan toxic karena alasan takut sendirian atau karena tidak sadar akan dampaknya. Namun, dengan pengetahuan tentang apa yang menandakan hubungan toxic dan strategi untuk keluar, semua orang dapat meraih hubungan yang lebih sehat, bahagia, dan penuh rasa hormat.

Jadi, untuk kalian yang masih berada di situ, jangan takut mencari perubahan. Coba kenali tanda-tanda toxic, dan perlakukan diri sendiri dengan cara yang sama yang kamu perlakukan orang yang kamu sayangi: dengan cinta, penghargaan, dan kebebasan. Akhirnya, hubungan yang sehat itu seperti pizza – kalau semua bahan terpasang dengan benar, rasanya pun enak. Selamat mencoba!