Pola Asuh Dulu vs Sekarang: Antara Tradisi, Teknologi, dan Perubahan Sosial
Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 10:15 AM


Pola Asuh Dulu vs Sekarang: Dari Nya'ah ke Ngetop
Bayangkan kalau satu hari kamu nonton film retro tentang keluarga Indonesia pada era 1970-an. Rumah itu masih terbuat dari kayu, suara gong mengiringi doa pagi, dan ayah biasanya lebih ketat di meja makan. Sekarang, kalau nonton video tentang keluarga muda di Jakarta, lebih banyak laptop, smartphone, dan "mompreneur" yang lagi nge-Instagram. Gampang sekali, kan, kalau kita bilang: pola asuh dulu beda banget sama sekarang? Tapi, jangan buru-buru ngeklasifikasikan "dulu" sebagai 'lebih baik' atau 'lebih buruk'. Di balik setiap pergeseran ada sejarah, teknologi, dan, yang paling penting, perubahan cara orang memandang dunia dan peran mereka sebagai orang tua.
1. Siapa Sih yang Berpikir?
Pada era dulu, peran orang tua (utama laki-laki) dipandang sebagai penguasa keluarga. Mereka adalah penentu aturan, pengelola rumah tangga, dan guru utama. "Anak harus disiplin!" menjadi mantra, dan setiap pelanggaran dianggap ancaman terhadap reputasi keluarga. Sedangkan pada era sekarang, tatanan keluarga seringkali lebih "flat". Anak muda dianggap punya hak untuk memilih, berdiskusi, dan bahkan kadang-kadang diundang ke meja makan untuk membahas kebijakan rumah. Siapa yang "berpikir" jadi bukan hanya orang tua saja, tapi juga anak, saudara, dan terkadang "guru" online yang membekali mereka dengan ilmu.
2. Pendidikan: Dari Kertas ke Kode
Jadi, dulu orang tua mengajarkan nilai melalui cerita turun-temurun, doa, dan contoh langsung. "Belajar dari pengalaman," sering menjadi saran. Sekarang, selain nilai moral, orang tua lebih menekankan "skill" praktis. Coding, desain grafis, bahkan bahasa asing lewat aplikasi. Anak-anak lebih suka belajar sambil bermain game, bukan sambil duduk di meja belajar. Gitu, jadi belajar itu gak selalu harus serius, tapi masih punya nilai.
Berikut beberapa perbedaan utama:
- Materi: Dulu fokus pada bacaan tradisional, sekarang mencakup digital literacy.
- Metode: Dulu ceramah dan soal, sekarang proyek berbasis aplikasi.
- Evaluasi: Dulu nilai ujian, sekarang portofolio proyek.
3. Penggunaan Teknologi: Dari TV CRT ke Smartphone
Berpikirnya, dulu orang tua lebih cemas tentang "kualitas waktu" yang dihabiskan di depan layar. TV adalah hiburan utama. Sekarang, gadget hampir menempati semua ruang di rumah. Anak-anak bisa mengakses internet setiap waktu. Hal ini memaksa orang tua untuk memikirkan kebijakan yang lebih fleksibel: "Waktu offline" tetap penting, tapi di mana? Di ruang keluarga, di kafe, bahkan di kamar tidur! Sering kali orang tua yang dulu ketinggalan zaman, sekarang harus belajar "manage digital life" bersamaan dengan mengatur hidup nyata.
4. Komunikasi: Dari Monolog ke Dialog
Gak jarang di masa lalu, komunikasi antara orang tua dan anak lebih bersifat satu arah. Ayah mengucapkan "lakukan seperti ini!" atau "jangan sekali lagi!" Sedangkan sekarang, "We are co-parents" jadi slogan. Anak diajak berdiskusi, menyuarakan pendapat, dan kadang malah memberi masukan kepada orang tua. Konsep "family meeting" di rumah modern sering kali melibatkan semua pihak, termasuk anak yang bisa mengajak ngobrol di platform video conference. Gak hanya "mendengar", tapi juga "memberi tanggung jawab" bersama.
5. Nilai-nilai: Konsistensi vs Adaptasi
Pada era dulu, nilai "kebajikan" (tolong-menolong, bersih, disiplin) tetap dijaga. Nilai-nilai itu dikeluarkan melalui contoh, ritual, dan ketetapan. Sekarang, nilai "kreativitas", "kewirausahaan", dan "keterbukaan" juga jadi penting. Ada yang bilang, "Nilai lama tetap ada, tapi dibalut dengan nilai baru." Jadi, orang tua sekarang harus menyeimbangkan antara mempertahankan budaya tradisional dan merangkul perubahan yang tak terhindarkan.
6. Perubahan Sosial: Meningkatnya Peran Perempuan
Di masa lalu, perempuan biasanya ditugaskan sebagai ibu rumah tangga. Saat ini, perempuan (termasuk ibu) lebih aktif di dunia kerja, jadi mereka juga harus menyeimbangkan peran. Keluarga kini seringkali memanfaatkan teknologi (misalnya, aplikasi jadwal rumah) untuk memudahkan koordinasi antara pekerjaan dan pengasuhan. Konsep "work-life balance" menjadi topik hangat di rumah tangga modern.
Kesimpulan: Apakah Ada "Yang Lebih Baik"?
Berpikir lebih jernih, pola asuh bukan tentang menilai "baik" atau "buruk". Setiap generasi punya tantangan dan kesempatan unik. Tentu, ada pelajaran berharga dari masa lalu: pentingnya disiplin, rasa tanggung jawab, dan rasa syukur. Di sisi lain, era sekarang mengajarkan kita fleksibilitas, adaptasi, dan pentingnya memanfaatkan teknologi. Jadi, yang terbaik adalah mencampur keduanya: tetap menghargai nilai lama, tapi juga terbuka terhadap cara baru yang bisa membuat anak lebih siap menghadapi dunia yang semakin cepat.
Berakhirnya, kalau kamu merasa kaget melihat betapa cepatnya pola asuh berubah, ingatlah bahwa inti dari setiap pola asuh adalah satu hal: mencintai dan merawat anak. Dan, jika satu generasi bisa belajar dari generasi lain, mungkin masa depan keluarga Indonesia akan jadi lebih kreatif, lebih seimbang, dan tentu saja, lebih "fun".
Next News

Ketika Hidup Diukur dari Hidup Orang Lain
in 6 hours

Krisis Kepercayaan Publik: Ketika Transparansi Kalah oleh Kepentingan
in 6 hours

Mengapa Kita Takut Gagal? Antara Budaya Prestasi dan Pola Pikir Negatif
in 6 hours

Stigma Terhadap Kesehatan Mental: Kerap Mengunci Jiwa Kita
in 6 hours

Overthinking: Apa Itu dan Kenapa Kita Terjebak?
in 6 hours

Budaya Kerja Keras vs Work-Life Balance: Siapa yang Beruntung?
in 6 hours

Perubahan Nilai Moral: Dari Tradisi ke Era Digital
in 5 hours

Melihat dengan Cara yang Berbeda: Tentang Disabilitas dan Kemanusiaan
in 5 hours

Kenapa Sahabat Itu Penting? Karena Hidup Tidak Bisa Dijalani Sendirian
in 5 hours

Toxic Relationship pada Remaja dan Dewasa Muda: Perspektif Psikologis dan Sosial
in 5 hours





