Selasa, 3 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Stigma Terhadap Kesehatan Mental: Kerap Mengunci Jiwa Kita

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 12:35 PM

Background
Stigma Terhadap Kesehatan Mental: Kerap Mengunci Jiwa Kita
Stigma Terhadap Kesehatan Mental: Kerap Mengunci Jiwa Kita ( Istimewa/)

Stigma Terhadap Kesehatan Mental: Kerap Mengunci Jiwa Kita

Bayangkan kamu sedang menunggu bus di halte malam. Lampu lampu lampu berkelip, lalu ada sekelompok orang yang saling berbicara sambil tertawa. Di tengah riuhnya suara, satu orang duduk sendirian, menahan napas sejenak. Itu adalah gambaran sederhana dari stigma kesehatan mental – di mana seseorang yang membutuhkan dukungan terjebak dalam bayang-bayang kesalahpahaman.

Mengapa Stigma Masih Begitu Besar?

Stigma tidak hanya muncul karena ketidaktahuan. Ia juga dipupuk oleh kebiasaan lama, stereotip media, dan keyakinan bahwa "kita harus kuat" – seolah-olah masalah mental hanya soal kekuatan pribadi. Ada pula cerita-cerita yang beredar, misalnya "orang itu takut mati," atau "dia gampang marah." Begitulah cara orang mengeliminasi perbedaan tanpa seharusnya.

Di balik itu, ada fakta yang sering terlupakan: gangguan mental bukan pilihan. Bahkan, sekitar 1 dari 4 orang di dunia akan mengalami masalah psikologis pada masa hidupnya. Dan semua itu, pada dasarnya, hanyalah kondisi tubuh yang memerlukan perawatan.

Stigma Sehari-hari: Dari Sekolah Hingga Tempat Kerja

Ketika Maya, seorang mahasiswa jurusan psikologi, mencoba membuka diri tentang depresi di ruang rapat teman-temannya, ia malah dihadapkan pada tatapan cemberut. "Ah, iya, kan sih," bisik salah satu temannya. "Kamu tetap aja stres." Maya pun terdiam. Ia merasa seperti sedang berada di tempat yang tidak aman.

  • Di Sekolah: Guru menganggap murid yang sering absen karena masalah emosional "kekurangan motivasi".
  • Di Tempat Kerja: Manajer mengira karyawan yang meminta cuti psikologis "menghindar" dari pekerjaan.
  • Di Sosial Media: Posting tentang kesehatan mental sering ditanggapi dengan komentar "kamu butuh lebih banyak semangat."

Stigma memampatkan ruang bagi orang-orang ini untuk mencari bantuan. Mereka merasa takut, "Kalau orang tahu apa yang sedang kulalui, nanti mereka menganggapku lemah."

Bagaimana Kita Bisa Menolong?

Jika kita mulai mengubah narasi, kita bisa membuat ruang yang lebih terbuka. Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat kita ambil:

  • Berbagi Cerita: Menulis atau menyuarakan pengalaman pribadi membuka jalan bagi orang lain untuk merasa tidak sendirian.
  • Belajar Membedakan: Pahami perbedaan antara reaksi normal dan gangguan mental. Misalnya, cemas adalah respons tubuh terhadap stres; sedangkan kecemasan kronis menimbulkan gejala yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
  • Gunakan Bahasa yang Ramah: Ganti "galak" dengan "stres," "luka hati" dengan "perasaan sedih."
  • Dukung Organisasi: Ikut serta di acara penggalangan dana atau penyuluhan kesehatan mental.

Menurutku, perubahan budaya ini tak akan terjadi overnight. Tetapi setiap cerita yang diceritakan, setiap kata empati yang diucapkan, semuanya menambah lapisan kehangatan bagi mereka yang sedang bergelut.

Media dan Kesehatan Mental: Peran yang Ganda

Media memang memiliki kekuatan besar. Dalam satu sisi, film atau seri drama bisa memotret kondisi mental dengan akurat, memberi ruang untuk diskusi. Tapi di sisi lain, sensasi "drama" yang berlebihan sering mengakar stereotip. Jadi, bagi kreator konten, tantangan besar adalah menemukan keseimbangan antara hiburan dan akurasi.

Salah satu contoh positif adalah serial "Lupin" di Netflix, yang menampilkan karakter yang melawan trauma masa kecil dengan cara yang realistis. Atau "Sister, I'm Happy," sebuah film pendek yang menyentuh tentang kesepian di kota besar. Mereka memberi pesan: "Tidak ada salahnya memohon bantuan."

Apakah Kita Siap Mengakui Kelemahan?

Konsep "kekuatan" sering dianggap mutlak, dan ini jadi hambatan dalam membicarakan kesehatan mental. Namun, sebenarnya "kekuatan" lebih berarti ketulusan untuk memperbaiki diri. Saat Maya akhirnya berbicara dengan konselor, dia tidak menunjukkan diri yang lemah; melainkan menunjukkan keberanian untuk bertindak.

Di sinilah perbedaan utama: rasa takut menutupi diri seringkali lebih merusak daripada ketegasan dalam mencari solusi. Jadi, mari kita belajar mengubah "kekuatan" menjadi "keberanian."

Kesimpulan: Mari Bangun Komunitas yang Lebih Empatik

Stigma kesehatan mental bukan sekadar masalah individu. Ia memengaruhi keluarga, sekolah, tempat kerja, bahkan komunitas online. Menyingkirkan stigma memerlukan kerja keras bersama: edukasi, diskusi terbuka, dan kebiasaan memaafkan kesalahan. Dengan begitu, kita bisa menciptakan lingkungan di mana setiap orang merasa aman untuk mengakui, berbagi, dan mendapatkan bantuan.

Jadi, apakah kita sudah siap melangkah? Setiap langkah kecil—mendengarkan teman, berbagi cerita, atau bahkan membaca satu artikel tentang kesehatan mental—adalah kontribusi besar bagi perubahan. Karena pada akhirnya, kesehatan mental bukanlah masalah pribadi, melainkan isu sosial yang memerlukan perhatian kita semua.