Selasa, 3 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Ketika Hidup Diukur dari Hidup Orang Lain

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 12:45 PM

Background
Ketika Hidup Diukur dari Hidup Orang Lain
Ketika Hidup Diukur dari Hidup Orang Lain ( Istimewa/)

Dampak Perbandingan Sosial: Lebih Dari Sekadar Harga dan Status

Siapa yang belum pernah ngerasain situasi ketika di ruang kelas atau di kafe, seseorang tiba-tiba ngerasa "kita berbeda"? Perbandingan sosial itu seperti kacamata hitam: satu sisi bisa melindungi, tapi juga bisa membuat pandangan kita kikir di mata dunia. Gak perlu ribet, cukup dengerin kisah beberapa orang di sekitarmu dan coba pahami gimana perbandingan sosial menggerakkan emosi dan tindakan mereka.

Perbandingan Sosial: Apa Sih?

Secara sederhana, perbandingan sosial itu adalah proses membandingkan diri sendiri dengan orang lain—baik dalam hal materi, prestasi, penampilan, atau status sosial. Katanya, manusia itu "sosial", jadi tidak ada yang bisa lari dari rasa ingin tahu atau perbandingan. Kalo dibilang ilmuwan, hal ini berkaitan erat dengan teori "self-evaluation", yang bilang kalo kita sering ngecek diri kita di cermin orang lain.

Contoh Nyata di Media Sosial

  • Instagram – Foto liburan, gadget terbaru, atau outfit eksklusif. Kadang, semua tampak sempurna, tapi di balik layar, biasanya ada cerita "pembelian berulang kali, cicilan, atau bahkan utang".
  • TikTok – Video "challenge" atau "haul" yang menampilkan barang-barang mahal. Banyak yang ngerasa, "Bagaimana kalau aku juga punya?".
  • Facebook – Update pekerjaan, promosi, atau milestone keluarga. Biasanya, orang-orang menganggap mereka semua berada di level yang sama, padahal ada banyak variabel yang tidak terlihat.

Di balik semua ini, perbandingan sosial seringkali mengarah pada dua macam efek: motivasi positif dan perasaan tidak puas yang bisa merusak kesehatan mental.

Efek Positif: Dorong Kita Jadi Lebih Baik

Ternyata, tidak semua perbandingan negatif. Kadang, melihat orang lain yang berhasil bisa menjadi "inspirasi" yang mendorong kita untuk berusaha lebih. Misalnya, mahasiswa yang melihat teman kampus yang berprestasi mungkin akan lebih giat belajar, atau pekerja yang melihat rekan dengan kenaikan gaji akan mencoba menambah skill.

Namun, kunci di sini adalah bagaimana kita memandang hasil tersebut. Kalau kita cuma "mimpi" tentang apa yang orang lain miliki, itu cuma buat ego. Tetapi, kalau kita "tiru" kebiasaan dan strategi, kita bisa berinovasi dan berkembang.

Efek Negatif: Dari Stress ke Depresi

Di sisi lain, perbandingan sosial juga bisa bikin kita stres. Pernah nggak, kamu ngerasa "kita lebih miskin, lebih gagal" karena lihat orang lain yang tampak sukses? Itu namanya "social comparison bias" – kalo kita terus menilai diri lewat kaca mata orang lain, kebahagiaan kita jadi tergantung pada standar yang tidak real.

Studi psikologi menunjukkan bahwa orang yang sering ngerasain perbandingan negatif cenderung mengalami self-esteem rendah, ketidakpuasan hidup, dan bahkan risiko depresi. Dan jangan remehkan kekuatan "social media comparison effect" – setiap scroll bisa bikin otak kita terprogram untuk selalu ngelihat yang lebih baik di luar diri.

Perbandingan Sosial dalam Konteks Budaya Indonesia

Di Indonesia, "tawa, tangis, dan drama" sering dikaitkan dengan budaya "gotong royong" dan "saling bantu". Namun, dalam era digital, perbandingan sosial bisa memecah kebersamaan ini. Misalnya, budaya "jajan bareng" atau "makan bareng" di rumah teman bisa berubah jadi pertempuran status, di mana yang punya barang lebih mahal dianggap "lebih baik".

Namun, ada juga cerita positif: di beberapa komunitas, perbandingan sosial memicu inisiatif sosial, seperti "donasi bareng" atau "tukar barang" yang membantu yang kurang beruntung. Jadi, perbandingan sosial tidak selalu menjadi musuh; tergantung pada bagaimana kita memanfaatkannya.

Tips Mengelola Perbandingan Sosial

  • Fokus pada diri sendiri – Buat daftar tujuan pribadi, bukan perbandingan dengan orang lain. Setiap langkah kecil harus dihargai.
  • Batasi waktu di media sosial – Waktu berlebih di platform tertentu bisa memperparah perasaan tidak puas. Coba pakai timer atau aplikasi pengatur waktu.
  • Bangun jaringan yang mendukung – Teman yang memberi semangat, bukan menekan. Diskusi tentang aspirasi sejalan bisa mengurangi rasa iri.
  • Hargai keunikan diri – Setiap orang punya cerita dan tantangan yang berbeda. Apabila kamu ngerasa "lebih rendah", inget semua orang punya perjalanan yang unik.
  • Berbagi kebaikan – Daripada hanya menilai, cobalah berbagi pengalaman dan belajar bersama. Ini tidak hanya menurunkan tekanan, tapi juga menambah rasa kebersamaan.

Kesimpulan: Perbandingan Sosial, Pilihan Kita

Perbandingan sosial itu seperti dua mata: satu bisa memperlihatkan keindahan, satu lagi bisa menakutkan. Kunci utama adalah bagaimana kita mengendalikannya. Apabila kita biarkan perbandingan memimpin, mungkin kita akan terjebak dalam siklus "lebih baik" dan "lebih buruk". Tetapi, bila kita mengambil alih kendali, perbandingan bisa jadi alat motivasi dan refleksi diri.

Jadi, selamat menelusuri dunia sosial, tapi ingatlah untuk selalu menaruh "self-love" di depan "social comparison". Karena, pada akhirnya, kebahagiaan terbesar bukan di luar, tapi di dalam hati yang terisi rasa syukur dan kepuasan akan perjalanan sendiri.