Selasa, 3 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Melihat dengan Cara yang Berbeda: Tentang Disabilitas dan Kemanusiaan

Redaksi - Tuesday, 03 February 2026 | 12:15 PM

Background
Melihat dengan Cara yang Berbeda: Tentang Disabilitas dan Kemanusiaan
Melihat dengan Cara yang Berbeda: Tentang Disabilitas dan Kemanusiaan

Kesadaran Disabilitas di Masyarakat: Lebih Dari Sekadar Statistik

Di balik statistik yang memaku, angka-angka mengenai disabilitas di Indonesia seringkali dianggap sebagai data yang kaku. Tapi, di dunia nyata, disabilitas itu bukan hanya tentang angka. Ia adalah kisah, perjuangan, dan semangat yang tak terhitung. Kalau pernah nonton film "The Intouchables" atau "Laskar Pelangi", pasti kamu merasa ada pesan tersendiri di balik layar. Begitulah rasa yang ingin saya bagikan dalam artikel ini, dengan gaya santai tapi tetap penuh makna.

Gambar Sebuah Hari Pagi di Kawasan Perkotaan

Pagi itu, aku berdiri di depan sebuah gerobak kopi di pinggir jalan. Seorang anak laki‑laki dengan tongkat berjalan melaju, senyum lebar di wajahnya. Aku pernah bertanya kepadanya, "Gimana rasanya naik taksi kalau belum bisa berjalan?" Dia tersenyum, lalu jawab, "Gak, yang penting ada rintangan yang mau diatasi." Rangkuman singkat: anak itu, bernama Adi, memiliki paraplegia sejak lahir. Tapi yang paling menginspirasi adalah semangatnya, yang menantang stereotip bahwa orang dengan disabilitas tidak bisa beraktivitas secara normal.

Di sana, aku menemukan sekelompok orang lain: ibu-ibu yang memelihara anjing peliharaan mereka dengan rasa cinta yang tulus, seorang pengusaha muda yang memanfaatkan teknologi untuk memudahkan komunikasi, dan bahkan seorang influencer yang memposting video "day in the life" kehidupan sehari-hari dengan disabilitas. Dari semua itu, satu hal yang jelas: disabilitas sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia, namun masih ada banyak kesenjangan antara apa yang terjadi di lapangan dan apa yang diakui secara resmi.

Mengapa Kita Perlu Mengangkat Kesadaran?

Statistik mengungkapkan bahwa sekitar 3,4% penduduk Indonesia memiliki disabilitas, namun angka ini masih jauh lebih tinggi jika dilihat dari segi kebutuhan akses dan partisipasi. Menurut data Pusat Data Statistik, hanya 20% gedung publik yang dilengkapi dengan fasilitas ramah disabilitas. Dan bila kita masuk ke tingkat pendidikan, lebih dari setengah anak muda dengan disabilitas belum mendapatkan akses pendidikan yang memadai.

  • Kurangnya fasilitas fisik, seperti ramp dan elevator.
  • Rasa takut dan stigma yang masih melekat di masyarakat.
  • Kurangnya pelatihan bagi pendidik dan tenaga kesehatan dalam menangani kebutuhan khusus.
  • Kesulitan dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai.

Semua ini menandakan bahwa kesadaran masih sangat terbatas. Namun, ini bukan berarti "tidak ada upaya." Karena di balik statistik tersebut, ada cerita-cerita yang ingin diceritakan dan solusi-solusi yang menunggu di pojok yang belum dijelajahi.

Perjalanan Kita Menuju Komunitas yang Lebih Inklusif

Berawal dari sebuah program pelatihan di sekolah menengah, di mana siswa diajarkan tentang keterbatasan dan cara membantu teman sekelas yang memiliki kebutuhan khusus. Program ini kemudian berkembang menjadi "Sahabat Disabilitas", sebuah komunitas yang berfokus pada penyediaan aksesibilitas di sekolah dan lingkungan sekitar. Sejak bergabung, aku melihat banyak perubahan: pintu masuk sekolah kini dilengkapi ramp, guru lebih terbuka untuk menjawab pertanyaan, dan teman-teman sekamars itu tidak lagi merasa "berasingan."

Selain di lingkungan pendidikan, di dunia kerja juga semakin banyak perusahaan yang mengadopsi kebijakan inklusif. Sebuah perusahaan teknologi di Jakarta, misalnya, mengimplementasikan program "Inclusive Design" untuk memastikan produk mereka dapat diakses oleh semua kalangan, termasuk pengguna dengan disabilitas visual atau motorik. Mereka bahkan menyediakan pelatihan bagi karyawan mengenai cara menciptakan solusi yang ramah pengguna.

Namun, masih ada titik-titik yang harus diatasi. Saat aku menanyakan pengalaman karyawan dengan disabilitas di perusahaan tersebut, mereka menyebutkan hambatan dalam proses rekrutmen. "Iya, masih ada fase seleksi yang terlalu menekankan fisik." Ada yang mengatakan, "Saya merasa lebih tertutup ketika menanyakan aksesibilitas di kantor." Ini menandakan bahwa kesadaran belum merata, bahkan di kalangan perusahaan yang sudah berkomitmen pada inklusi.

Inilah Solusi Sederhana yang Bisa Kita Lakukan

Berikut beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kesadaran disabilitas di masyarakat:

  • Berbagi pengalaman. Posting cerita pribadi di media sosial tentang interaksi dengan orang berdisabilitas, dan bagaimana kamu membantu.
  • Aktivitas sukarela. Ikut organisasi yang fokus pada penyediaan fasilitas bagi orang berdisabilitas.
  • Edukasional. Baca dan bagikan buku, artikel, atau film tentang disabilitas untuk memperluas wawasan.
  • Melakukan advokasi. Berpartisipasi dalam kampanye hak asasi manusia, terutama untuk hak aksesibilitas.
  • Berpikir desain inklusif. Saat mendesain produk atau layanan, pertimbangkan perspektif semua pengguna.

Semua langkah tersebut terkesan kecil, tapi mereka dapat berkontribusi pada perubahan budaya. Kita tidak perlu menjadi "hero" yang memecahkan semua masalah. Cukup, kita menjadi bagian dari gerakan kecil yang mendukung inklusi.

Kesimpulan: Masyarakat, Kita Semua Ada Peran

Kesadaran disabilitas di masyarakat bukan sekadar soal mematuhi regulasi. Ini tentang menghargai keberagaman, menciptakan ruang yang aman bagi semua orang, dan mengakui bahwa setiap individu, terlepas dari keterbatasan fisik atau mental, berhak mendapatkan peluang yang sama. Jadi, mari kita ubah perspektif dari "apa yang tidak bisa" menjadi "apa yang bisa." Ketika kita membuka pintu, semua orang—termasuk mereka yang memiliki disabilitas—akan merasakan ketulusan dan kebersamaan yang lebih kuat.

Berakhirnya hari ini, aku menunggu di gerobak kopi dan melihat Adi melaju dengan tongkatnya, melintasi jalanan. Aku merasa bersyukur bisa menjadi saksi kisah yang sederhana namun penuh makna. Dan saya yakin, dengan sedikit kesadaran lebih, Indonesia akan semakin inklusif—bukan hanya di mata angka, tapi di hati semua orang.