Jumat, 13 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Seni Menghadapi Emosi: Antara Validasi, Gagal Healing, dan Drama yang Gak Habis-Habis

Redaksi - Friday, 13 February 2026 | 04:15 PM

Background
Seni Menghadapi Emosi: Antara Validasi, Gagal Healing, dan Drama yang Gak Habis-Habis
Seni Menghadapi Emosi: Antara Validasi, Gagal Healing, dan Drama yang Gak Habis-Habis ( Istimewa/)

Seni Menghadapi Emosi: Antara Validasi, Gagal Healing, dan Drama yang Gak Habis-Habis

Pernah gak sih kalian tiba-tiba merasa ingin nangis cuma gara-gara pesanan ojek online dibatalkan padahal sudah lapar banget? Atau mungkin kalian pernah merasa marah banget sama rekan kerja yang cuma telat balas chat lima menit, padahal biasanya kalian orangnya santai banget? Kalau iya, selamat, kalian sedang diingatkan oleh semesta bahwa kalian adalah manusia yang punya emosi, bukan robot vakum yang kerjanya cuma bersih-bersih lantai tanpa perasaan.

Di zaman yang serba cepat ini, emosi seringkali dianggap sebagai "gangguan". Kita dituntut untuk selalu produktif, selalu on fire, dan selalu terlihat bahagia di feeds Instagram. Ada semacam tekanan sosial yang bilang kalau menunjukkan emosi itu tandanya kita lemah atau kurang "stoic". Padahal, emosi itu ibarat bumbu dapur. Tanpanya, hidup ini bakal hambar kayak seblak tanpa kencur. Tapi kalau kebanyakan, ya rasanya jadi berantakan dan bikin pusing tujuh keliling.

Emosi Itu Bukan Musuh, Tapi Sinyal yang Lagi Cari Perhatian

Masalahnya, banyak dari kita yang dididik dengan doktrin "jangan nangis" atau "jangan marah-marah". Alhasil, pas sudah gede, kita jadi bingung sendiri kalau ada perasaan yang mengganjal di dada. Kita malah sibuk scrolling TikTok sampai subuh atau pelarian ke check-out keranjang belanjaan dengan dalih healing. Padahal, itu bukan healing, itu namanya numpuk utang dan numpuk masalah emosional.

Coba deh bayangkan emosi itu seperti notifikasi di HP. Kalau ada notifikasi masuk, biasanya karena ada sesuatu yang penting, kan? Marah biasanya muncul karena ada batasan kita yang dilanggar orang lain. Sedih muncul karena kita merasa kehilangan sesuatu yang berarti. Takut muncul karena ada ancaman terhadap kenyamanan kita. Jadi, bukannya ditekan atau disembunyikan di bawah karpet, emosi itu perlu dibaca pesannya. Gak perlu langsung meledak, cukup diakui dulu: "Oh, gue lagi kesel nih ternyata."

Fenomena Toxic Positivity dan Jebakan "Good Vibes Only"

Nah, ini nih yang sering bikin runyam. Slogan "Good Vibes Only" yang sering kita lihat di kafe-kafe estetik itu sebenarnya agak sedikit menyesatkan. Memaksa diri untuk selalu positif di tengah situasi yang lagi kacau itu justru bikin capek mental. Ini yang namanya toxic positivity. Kita jadi merasa bersalah kalau lagi sedih, merasa berdosa kalau lagi gak semangat. Padahal, gak apa-apa banget buat merasa gak baik-baik saja.

Dunia ini gak selamanya isinya pelangi dan unicorn. Kadang-kadang isinya ya mendung dan macet di jalanan Jakarta. Menolak emosi negatif itu ibarat mencoba menahan bola basket di bawah air. Semakin kuat kita tekan ke bawah, pas kita lepas, dia bakal loncat lebih tinggi dan bisa saja menghantam muka kita sendiri. Jadi, daripada capek nahan-nahan, mending biarkan saja dia mengalir. Kalau mau nangis, ya nangis aja. Kalau mau teriak di bantal, ya silakan. Yang penting jangan teriak di telinga orang lain aja, ya.

Emosi Menular: Mengapa Kita Suka Banget Ikut Emosional?

Kalian sadar gak, kalau teman satu geng lagi galau, biasanya satu sirkel ikutan mendung auranya? Ini namanya penularan emosi atau emotional contagion. Manusia itu punya sel saraf yang namanya mirror neurons. Kita itu secara alami didesain buat bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Makanya kita bisa ikut nangis nonton drakor atau ikut emosi baca berita politik yang gak jelas juntrungannya.

Tapi, ini juga bisa jadi pisau bermata dua. Kalau kita terus-terusan berada di lingkungan yang isinya orang-orang yang hobi mengeluh tanpa solusi atau yang selalu menyebarkan kemarahan, mental kita bakal ikut terkuras. Penting banget buat kita punya "filter" emosi. Kita harus tahu mana emosi yang murni punya kita, dan mana emosi yang cuma "titipan" dari orang lain. Jangan sampai kita jadi keranjang sampah emosional buat semua orang sampai kita lupa cara bahagia buat diri sendiri.

Mengenal Diri Lewat Kecerdasan Emosional (EQ) yang Gak Kaku

Sekarang banyak orang sibuk ngejar IQ tinggi biar sukses karier, tapi sering lupa sama EQ. Padahal, di dunia nyata, orang yang jago ngatur emosi biasanya lebih "selamat" daripada yang cuma pinter teori tapi gampang meledak-ledak. Kecerdasan emosional itu bukan berarti kita jadi orang yang dingin dan gak punya perasaan. Justru sebaliknya, itu artinya kita tahu kapan harus gas, kapan harus ngerem.

Cara melatihnya gimana? Mulai dari hal kecil, yaitu menamai emosi. Alih-alih bilang "Gue gak tahu kenapa, pokoknya kesel!", coba bedah lagi. Apakah itu rasa kecewa? Rasa cemburu? Atau mungkin cuma laper (hangry)? Dengan memberi nama pada emosi, otak kita bakal lebih tenang karena merasa situasi sudah terkendali. Ini trik psikologi sederhana tapi efeknya dahsyat banget buat kesehatan mental jangka panjang.

Kesimpulan: Berdamai dengan Si "Ribet" yang Bikin Hidup Berwarna

Pada akhirnya, emosi adalah bagian tak terpisahkan dari petualangan kita sebagai manusia. Gak perlu takut dicap baperan atau lebay selama kita tahu cara menempatkannya dengan benar. Hidup tanpa emosi itu datar, tapi hidup yang disetir penuh oleh emosi juga melelahkan. Kuncinya adalah keseimbangan.

Jadi, kalau besok-besok kalian merasa perasaan lagi campur aduk gak karuan, jangan langsung panik. Ambil napas dalam-dalam, minum air putih, dan tanya ke diri sendiri: "Lagi mau ngomong apa sih hati gue?" Validasi perasaan kalian sendiri sebelum minta divalidasi orang lain. Karena pada dasarnya, orang yang paling mengerti apa yang kalian rasakan ya cuma kalian sendiri. Jangan lupa buat tetap baik sama diri sendiri, karena emosi itu valid, tapi cara kita bereaksi itu pilihan.