Jumat, 13 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Radio: Teman Setia yang Menolak Mati di Tengah Gempuran Algoritma

Redaksi - Friday, 13 February 2026 | 04:00 PM

Background
Radio: Teman Setia yang Menolak Mati di Tengah Gempuran Algoritma
Radio: Teman Setia yang Menolak Mati di Tengah Gempuran Algoritma ( Istimewa/)

Radio: Teman Setia yang Menolak Mati di Tengah Gempuran Algoritma

Pernah nggak sih kalian ngerasa kangen sama suara kresek-kresek yang keluar dari kotak kayu atau plastik tua di sudut kamar nenek? Atau mungkin, kalian pernah ngalamin momen panik luar biasa pas lagu favorit diputer di radio, terus buru-buru neken tombol "record" di kaset tape, tapi malah keganggu suara penyiarnya yang ngoceh di intro? Kalau kalian ngerasain itu, selamat, kita berada di frekuensi yang sama.

Di zaman sekarang, saat Spotify, Apple Music, dan YouTube Music udah jadi penguasa tunggal telinga kita, radio seringkali dianggap kayak artefak purbakala. Banyak yang bilang radio itu "sunset industry". Katanya sih, sebentar lagi bakal tenggelam ditelan zaman digital yang serba cepat dan presisi. Tapi jujurly, prediksi itu kayaknya masih jauh dari kenyataan. Radio punya daya magis yang nggak dimiliki oleh algoritma secanggih apa pun.

Kenangan Indah "Titip Salam" dan Rekues Lagu

Dulu, sebelum ada fitur "Direct Message" di Instagram atau WhatsApp, radio adalah media sosial paling canggih pada masanya. Ingat nggak ritual "titip salam"? Kita rela nungguin berjam-jam cuma buat dengerin nama kita disebut sama penyiar idola. "Salam buat si A di Jalan Melati, dapet salam dari si B, katanya jangan lupa makan ya." Kedengarannya emang cheesy banget kalau dilihat sekarang, tapi sensasi pas nama kita dibacain itu rasanya kayak menang lotre. Ada rasa bangga dan koneksi personal yang nyata.

Radio juga jadi kurator musik paling jujur. Kita nggak milih lagu apa yang mau didengerin, tapi kita "dipaksa" buat dengerin apa yang diputerin. Di sinilah letak seninya. Kadang kita nemu lagu asing yang ternyata enak banget, atau justru lagu yang kita benci tapi lama-lama jadi hafal karena diputer terus tiap pagi. Berbeda sama algoritma Spotify yang cuma nyodorin lagu-lagu yang "mirip" sama selera kita, radio ngasih kejutan. Radio itu kayak kotak cokelat, kita nggak pernah tahu rasa apa yang bakal kita dapet selanjutnya.

Teman Setia di Tengah Macetnya Kota

Coba deh bayangin kalian lagi kejebak macet di jalur protokol Jakarta atau Surabaya pas jam pulang kantor. Hujan deres, perut laper, dan jarak tempuh masih dua jam lagi. Di momen kayak gini, dengerin playlist sendiri kadang malah bikin bosen karena suasananya monoton. Tapi begitu pindah ke frekuensi radio favorit, suasananya langsung beda.

Interaksi antara penyiar yang kocak, dengerin curhatan pendengar lain yang lewat telepon, atau dengerin info lalu lintas yang update, bikin kita ngerasa nggak sendirian di tengah kemacetan itu. Ada perasaan bahwa "Oh, ternyata ada ribuan orang lain yang lagi senasib sama gue sekarang." Radio itu manusiawi. Ada nyawa di balik suara itu, bukan sekadar barisan kode pemrograman yang nentuin lagu mana yang harus main setelah ini.

Adaptasi atau Mati: Wajah Baru Radio Masa Kini

Tentu aja, radio nggak bisa cuma diem doang ngandelin nostalgia. Para pengelola stasiun radio sekarang udah makin pinter. Mereka nggak cuma jualan suara di udara, tapi juga jualan konten di media sosial. Sekarang kita bisa liat penyiar radio favorit kita lewat live streaming YouTube atau potongan-potongan video lucu di TikTok. Istilahnya, radio udah bermutasi jadi entitas multimedia.

Banyak juga yang bilang kalau podcast adalah pembunuh radio. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, podcast itu sebenernya "anak kandung" radio yang lahir di rahim internet. Bedanya cuma pada sifatnya yang on-demand. Banyak penyiar radio yang akhirnya punya podcast sukses karena mereka emang udah punya skill storytelling yang matang. Jadi, alih-alih saling membunuh, keduanya justru saling melengkapi.

Kenapa Kita Masih Butuh Radio?

Ada satu hal yang nggak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun dari radio: local touch atau sentuhan lokal. Radio tahu banget apa yang terjadi di kota kalian. Mereka tahu jalan mana yang lagi diperbaiki, toko roti mana yang lagi diskon, sampe isu politik lokal yang lagi anget-angetnya. Informasi yang sifatnya sangat lokal ini susah didapetin dari platform global.

Selain itu, radio itu gratis. Di saat semua layanan streaming minta biaya langganan bulanan supaya nggak keganggu iklan, radio tetep setia nemenin tanpa minta biaya sepeser pun. Ya, emang sih ada iklannya, tapi seringkali iklan radio itu kreatif dan ikonik banget sampe-sampe kita hafal jingle-nya di luar kepala.

Jadi, apakah radio bakal mati? Kayaknya sih nggak dalam waktu dekat. Selama manusia masih butuh suara yang terasa "dekat", selama orang masih butuh temen ngobrol pas nyetir, dan selama ada orang yang bosen sama saran lagu dari robot, radio bakal tetep eksis. Radio mungkin udah nggak jadi pemain utama di panggung hiburan, tapi dia adalah pemain cadangan abadi yang selalu bisa diandalkan kapan saja.

Buat kalian yang udah lama nggak muter knop radio, coba deh sesekali cari frekuensi yang pas. Siapa tahu, di antara desis sinyal dan suara penyiar yang lagi bercanda, kalian nemuin kembali potongan diri kalian yang dulu sempat hilang di sela-sela kesibukan dunia digital yang terlalu bising ini.