Jumat, 13 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Ramadhan: Antara Perang Takjil, Wacana Bukber, dan Ujian Menahan Ghibah

Redaksi - Friday, 13 February 2026 | 12:05 PM

Background
Ramadhan: Antara Perang Takjil, Wacana Bukber, dan Ujian Menahan Ghibah
Ramadhan: Antara Perang Takjil, Wacana Bukber, dan Ujian Menahan Ghibah ( Istimewa/)

Ramadhan: Antara Perang Takjil, Wacana Bukber, dan Ujian Menahan Ghibah

Nggak kerasa ya, kita akan balik lagi ke bulan yang auranya selalu beda dari sebelas bulan lainnya. Begitu hilal dinyatakan sah, tiba-tiba dunia terasa berputar sedikit lebih lambat, tapi sekaligus lebih hectic. Ramadan itu kayak tamu tahunan yang selalu bikin kita persiapan heboh, meskipun kita tahu ujung-ujungnya dramanya bakal itu-itu saja. Dari mulai perjuangan mata melek pas sahur, sampai fenomena "war takjil" yang belakangan ini malah jadi ajang pemersatu bangsa yang agak di luar nalar.

Kalau kita bicara soal Ramadan di Indonesia, kita nggak cuma bicara soal ibadah di atas sajadah. Ramadan adalah sebuah subkultur. Ada estetika tersendiri di dalamnya. Bayangkan saja, cuma di bulan ini aroma minyak goreng yang dipadu dengan adonan bakwan bisa terasa lebih wangi daripada parfum mahal di mal-mal Jakarta. Aroma itu seolah punya daya magis yang bisa bikin orang yang tadinya lemas jadi punya energi tambahan buat ikutan antre di pinggir jalan demi dua biji tahu isi dan segelas es buah.

Fenomena War Takjil: Saat Non-is Lebih Gercep

Tahun ini ada yang unik. Kalau biasanya kita cuma fokus sama diri sendiri, belakangan media sosial rame banget sama istilah "War Takjil". Lucunya, para saudara kita yang non-muslim (non-is) ternyata malah jadi saingan terberat dalam urusan berburu gorengan dan kolak. Mereka bahkan sudah stand by di depan lapak takjil dari jam tiga sore, sementara kita yang puasa masih sibuk nahan lapar atau malah lagi rebahan nunggu waktu ashar.

Fenomena ini sebenernya keren sih. Secara nggak langsung, Ramadan jadi momen inklusif di mana semua orang bisa merayakan kegembiraan yang sama: yaitu makan enak di sore hari. Meskipun ada sedikit rasa "ketar-ketir" pas kita sampai di tukang gorengan dan ternyata bakwannya sudah ludes diborong mereka, ya sudahlah. Anggap saja ini ujian kesabaran tambahan. Toh, esensi Ramadan memang soal berbagi, kan? Meskipun berbagi antrean itu kadang butuh stok sabar yang lebih banyak.

Drama Sahur dan Mata yang Enggan Kompromi

Mari kita geser ke waktu subuh, atau lebih tepatnya jam-jam "setengah sadar". Sahur itu bagi sebagian orang adalah sebuah perjuangan heroik. Bunyi alarm yang bersahut-sahutan di HP seringkali cuma dianggap sebagai backsound mimpi. Terus ada suara dari toa masjid yang teriak-teriak "Sahuuur, sahuuur!" dengan nada yang kadang melengking, kadang kayak lagi ngerap.

Momen makan sahur itu sendiri seringkali nggak ada estetikanya sama sekali. Kita makan sambil merem ayam, nyuap nasi tapi pikiran masih di bantal, dan minum air putih sebanyak-banyaknya kayak unta lagi nyetok cadangan buat melintasi gurun Sahara. Di sini jugalah momen di mana mi instan naik kasta menjadi penyelamat umat manusia di saat kita bangun kesiangan sepuluh menit sebelum imsak. Rasanya? Wah, jangan ditanya. Mi instan saat sahur itu punya tingkatan kenikmatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, meskipun setelahnya kita bakal ngerasa haus luar biasa sepanjang hari.

Bukber: Antara Reuni dan Wacana Abadi

Nah, ini dia "monster" sebenarnya di bulan Ramadan: Buka Bersama atau Bukber. Bukber itu konsepnya simpel, tapi eksekusinya seringkali lebih rumit daripada ngurus birokrasi pindah alamat. Biasanya, di minggu pertama, grup WhatsApp bakal ramai sama ajakan reuni. Dari grup SD, SMP, SMA, sampai grup mantan rekan kerja, semuanya seolah punya agenda yang sama.

Tapi kita semua tahu polanya. Ada satu orang yang semangat banget ngajak, lalu yang lain jawab "Ayok!", "Gas!", "Ikut!". Tapi begitu ditanya tanggal berapa dan di mana, tiba-tiba grup langsung sunyi senyap kayak kuburan. Ujung-ujungnya? Bukber cuma jadi wacana abadi yang bakal dibahas lagi tahun depan. Kalaupun jadi, biasanya malah berakhir dengan agenda main HP masing-masing di meja makan sambil nunggu makanan datang yang lamanya minta ampun karena restorannya lagi overload.

Belum lagi soal urusan dompet. Ramadan yang harusnya bikin kita hemat karena frekuensi makan berkurang, malah seringkali bikin boncos gara-gara agenda bukber di kafe atau resto yang harganya nggak santai. Tapi ya sudahlah, mungkin itu harga yang harus dibayar demi menjaga silaturahmi—atau sekadar demi konten Instagram Story dengan caption "Alhamdulillah, masih bisa kumpul".

Puasa dari Ghibah, Tantangan Sesungguhnya

Jujur saja, menahan lapar dan haus itu levelnya masih "beginner". Level "pro" di bulan Ramadan adalah menahan diri buat nggak julid atau ghibah. Apalagi di zaman sekarang, di mana godaan buat ngetik komentar pedas di media sosial itu gede banget. Kadang tangan ini gatal kalau lihat sesuatu yang sedikit melenceng dari selera kita.

Padahal, inti dari puasa itu kan menahan nafsu dalam arti luas. Puasa dari benci, puasa dari prasangka buruk, dan puasa dari ngomongin urusan orang lain yang nggak ada hubungannya sama hidup kita. Emang berat sih, apalagi kalau lagi kumpul bareng teman pas nunggu buka puasa. Topik pembicaraan kalau nggak soal kerjaan, ya pasti geser ke "si anu sekarang begini ya?". Di sinilah integritas kita sebagai manusia yang sedang berproses diuji. Bisakah kita cuma fokus sama diri sendiri dan jadi versi yang lebih baik?

Ramadan Adalah Maraton, Bukan Sprint

Pada akhirnya, Ramadan itu kayak lari maraton. Semangat di awal itu biasa, tapi yang paling penting adalah gimana kita bisa konsisten sampai garis finish di hari kemenangan nanti. Jangan sampai di awal-awal kita semangat ibadah sampai lupa waktu, eh begitu masuk minggu kedua dan ketiga, kita malah tumbang atau "puasanya" cuma sisa formalitas belaka karena sudah sibuk mikirin baju lebaran dan mudik.

Mari kita nikmati setiap detik di bulan ini dengan cara yang paling manusiawi. Nggak perlu terlalu kaku, nggak perlu terlalu merasa paling suci juga. Nikmati saja prosesnya, dari kantuknya sahur, serunya war takjil, sampai hangatnya kumpul keluarga. Karena bagaimanapun juga, atmosfer Ramadan itu mahal harganya dan belum tentu bisa kita temui lagi dengan rasa yang sama di tahun depan. Jadi, selamat menjalankan ibadah, tetap santuy, dan jangan lupa: gorengan itu enak, tapi ingat kolesterol juga, ya!