Sekali Klik Bisa Jadi Masalah
Redaksi - Thursday, 05 February 2026 | 09:00 AM


Etika Screenshot: Lebih Dari Sekadar Klik
Siapa yang belum pernah ngapain "screenshot" saat nonton livestream, scrolling feed IG, atau membaca chat grup? Screenshot jadi senjata ampuh buat ngecapture momen favorit, atau bahkan buat nginformasikan ke temen yang lagi ngga online. Tapi, di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan: "Ngapain sih, si screenshot itu legal? Apakah boleh di-share ke orang lain?"
Masuk ke dunia etika screenshot, kita sebenarnya sedang ngebahas tentang apa yang seharusnya diizinkan, dan apa yang harus kita jaga sebagai hamba teknologi. Dan, bro, ini bukan cuma soal hukum, tapi juga soal rasa hormat, rasa sopan, dan moralitas digital.
1. Kenapa Screenshot Bisa Jadi Sensitif?
- Privasi: Banyak konten yang punya batasan privasi, seperti chat pribadi, postingan eksklusif, atau video tutorial yang belum dipublikasikan.
- Hak Cipta: Konten yang dilindungi hak cipta, misalnya musik, film, atau gambar berlisensi, punya aturan tersendiri ketika disalin.
- Reputasi: Screenshot yang mengandung komentar negatif atau menyalahkan seseorang dapat merusak nama baik. Jadi, hati-hati sebelum diposting.
Berpikir dulu, kalau gue screenshot postingan teman yang bilang, "Hari ini gue udah makan siang di resto terbaik di kota", lalu gue share ke semua teman di grup chat. Padahal, temen itu nggak mau di-share karena dia ingin tetap "sopan" atau "tidak terlalu gila".
2. Aturan Main Screenshot: Kenapa Perlu Perhatikan?
Di Indonesia, hukum masih belum secara spesifik ngatur soal screenshot, tapi ada beberapa prinsip dasar yang bisa dijadikan pedoman.
Perjanjian Pengguna (Terms of Service)
Setiap platform (seperti Instagram, WhatsApp, TikTok) punya ketentuan sendiri. Misalnya, di Instagram, "Satu Foto atau Video yang di-upload di akun pribadi tidak boleh disalin tanpa izin." Jadi, kalau kamu screenshot foto orang, kamu seharusnya minta izin dulu.
Hukum Hak Cipta dan KPU
Jika kamu screenshot karya orang (misalnya meme atau artikel), sebenarnya itu bisa dianggap "pencurian" tanpa izin. Bahkan, di era digital, hukum hak cipta makin ketat. Jadi, kalau mau share, pastikan ada lisensi atau setidaknya kamu mengutip sumbernya.
Etika Sosial
Jangan mainin screenshot sebagai alat "memfitnah". Konten yang menimbulkan fitnah bisa berdampak serius, termasuk tuntutan ganti rugi di pengadilan. Jadi, sebelum memposting, pastikan semuanya jujur dan tidak menyesatkan.
3. Tips Menggunakan Screenshot Dengan Bijak
- Ngga Boleh Sembarangan - Selalu tanya izin sebelum membagikan screenshot yang berisi orang lain, apalagi kalau itu info pribadi.
- Jangan Tambah Gambar - Kalau kamu ingin menambahkan komentar, lakukan di bawah screenshot, bukan pada konten itu sendiri.
- Gunakan Filter - Hapus atau blur bagian yang sensitif (misal nama lengkap, alamat, atau nomor rekening).
- Berikan Credit - Sertakan tagar atau mention aslinya. Ini juga cara menunjukkan rasa hormat.
- Waspada Reaksi - Pikirkan bagaimana orang yang dikumpulkan dalam screenshot akan merespons. Bisa jadi ada yang tidak nyaman.
Ngikutin cara-cara ini, kamu udah mantap nih, kayak yang udah ngehargai privacy temen-temen di era digital.
4. Kapan Screenshot Bisa Menjadi Kontroversial?
Berikut contoh situasi di mana screenshot bisa memicu kontroversi.
- Sosial Media: Screenshot "live" stream yang menampilkan komentar pedas atau komentar negatif tentang seseorang bisa jadi viral dan menimbulkan "cancel culture."
- Polisi dan Pemerintah: Screenshot berita internal, dokumen kepolisian, atau pertemuan politik dapat menimbulkan spekulasi. Kalau nggak resmi, publik mungkin meragukan kebenarannya.
- Bisnis: Screenshot kontrak atau proposal bisnis dapat dianggap pelanggaran kerahasiaan (non-disclosure agreement).
Situasi-situasi ini menambah beban moral. Jadi, sebelum menekan tombol "share", perhitungkan dampaknya.
5. "Screenshot" Dalam Bahasa Gaul
Gak semua orang mengerti istilah "screenshot" secara formal. Di kalangan remaja, kadang disebut "screencap" atau "snip". Satu kata: "Ngablik" is just a slang for "screenshot". Jadi, kalau kamu mau ngejelaskan ke temen yang lebih tua, udah cukup dengan "I made a screenshot".
6. Kesimpulan: Screenshot Seharusnya Lebih Banyak diatur oleh Hati
Berbeda dengan aplikasi atau platform, etika screenshot bukan sesuatu yang bisa ditetapkan lewat hukum. Ini lebih kepada kebijakan pribadi dan kesadaran. Jadi, kalau kamu ngerasa "nggak aman" dengan sharing screenshot, sebaiknya tanya dulu ke pihak yang bersangkutan.
Intinya, screenshot itu bukan "pakaian" yang bisa dipakai sembarangan. Kalau dipakai dengan benar, bisa jadi alat bantu memori atau komunikasi yang efektif. Tapi, kalau dipakai berlebihan atau tanpa memperhatikan batas, bisa jadi bumerang yang malah menimbulkan masalah.
Maka, mari kita jadi pengguna digital yang bijak: ngapainnya dengan penuh tanggung jawab, menghormati privasi, dan menjaga hubungan sosial tetap terjaga. Karena, pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Cara kita pakai alat itu yang menentukan seberapa baik kita hidup di era digital ini.
Next News

Fake Followers: Angka Fantasi di Dunia Sosial Media
a day ago

Algoritma Media Sosial: Seorang Guru di Tengah Dunia Digital
a day ago

Hidup di Dunia Tanpa Tunai
a day ago

Cybercrime: Kejahatan yang Tidak Pernah Tidur
a day ago

Kenapa Password Masih Jadi Pertahanan Utama Kita?
a day ago

Ketika Semua Orang Jadi Kritikus di Internet
a day ago

Apa yang Tertinggal Setelah Kita Scroll?
a day ago

Era Streaming: Cara Baru Menikmati Hiburan dan Berinteraksi
a day ago

Selfie di Era AI: Mengapa Filter Wajah Begitu Digemari?
a day ago

Chatbot dalam Kehidupan Sehari-hari: Peran, Manfaat, dan Tantangannya
a day ago





