Jumat, 6 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Cybercrime: Kejahatan yang Tidak Pernah Tidur

Redaksi - Thursday, 05 February 2026 | 09:00 AM

Background
Cybercrime: Kejahatan yang Tidak Pernah Tidur
Cybercrime: Kejahatan yang Tidak Pernah Tidur ( Istimewa/)

Cybercrime: Ancaman Bintang 24/7 di Era Digital

Bayangkan sedang santai di kafe, scrolling Instagram, tiba-tiba layar komputermu berdering dengan notifikasi "Akun kamu sudah di-hack!"—itulah sekilas gambaran apa yang orang muda sebut "cybercrime" atau kejahatan siber. Bukan cuma cerita fiksi ilmiah, tapi kenyataan yang semakin meresap di setiap sudut kehidupan kita yang terhubung. Mungkin kamu masih pikir cybercrime hanya tentang hacker misterius yang mencuri data pribadi. Tapi, di balik layar, ada banyak lapisan yang lebih kompleks, dan tak sedikit yang masih belum mereka sadari.

Siapa saja Pahlawan Cybercrime?

Di dunia maya, "pahlawan" tidak selalu memakai jubah. Ada tiga karakter penting yang sering muncul:

  • Penjahat (Crackers) – mereka yang menciptakan software jahat atau mengeksploitasi kelemahan sistem. Pikirkan malware, ransomware, atau phishing. Biasanya, motivasi mereka antara uang, ideologi, atau sekadar ingin menebak rasa puas.
  • Penegak (Cybersecurity Professionals) – orang-orang ini bekerja di perusahaan, lembaga pemerintah, atau bahkan startup kecil, selalu mencoba menahan serangan sebelum terjadi. Mereka kayak mantan penjaga gerbang, tapi di dunia digital.
  • Pengguna (End-Users) – semua orang yang aktif online. Dari mahasiswa yang ngecek email sampai pebisnis yang mengelola transaksi e-commerce. Mereka sering kali menjadi target karena kebiasaan yang kurang aman.

Kasus Terkenal yang Menggeger Sosial Media

1. Cambridge Analytica – data ribuan pengguna Facebook dicuri dan digunakan untuk kampanye politik. Ini bukan hanya soal data, tapi tentang cara manipulasi opini publik.

2. Yahoo! Data Breach 2013-2014 – lebih dari 3 miliar akun yang bocor. Ini menunjukkan betapa besar risiko bagi perusahaan besar sekalipun.

3. Petya/NotPetya – serangan ransomware yang menghujani perusahaan-perusahaan multinasional pada 2017, menyebabkan kerugian miliaran dolar. Ini menandai era baru kejahatan siber yang lebih terorganisir dan berorientasi pada destruksi ekonomi.

Mengapa Kita Sering Tidak Paham Risiko?

Alasannya sederhana: dunia digital punya dua sisi, satu dengan kemudahan, satu dengan ketidakpastian. Di sisi lain, "kejahatan" di internet terdengar lebih seperti film aksi, bukan fakta. Padahal, di balik layar, ada banyak titik lemah yang menunggu. Berikut beberapa alasan kenapa kita sering "tidak terfokus":

  • Kebiasaan "Click Once" – kita terbiasa mengeklik tautan tanpa berpikir. Satu klik bisa membuka pintu bagi malware.
  • Kepercayaan Berlebih – banyak pengguna percaya kalau "situs resmi" tak akan menipu. Padahal, clone site (salinan website palsu) kini semakin canggih.
  • Informasi yang Terbatas – banyak edukasi cybersecurity masih berada di level teori. Praktik sehari-hari, seperti mengelola kata sandi, jarang diajarkan secara mendalam.

Bagaimana Melindungi Diri dengan Cara yang Enggak Membosankan?

Berikut beberapa langkah yang bisa dipraktekkan tanpa harus jadi "siber nerd":

  • Gunakan Password Manager – aplikasi seperti LastPass atau 1Password membantu menyimpan password yang kuat dan unik. Satu password tidak lagi menjadi "serangkap" bagi semua akun.
  • Aktifkan Two-Factor Authentication (2FA) – walaupun bisa terasa ribet, 2FA memberi lapisan keamanan ekstra. Pilih aplikasi autentikator atau pesan teks.
  • Waspada Pada Email Phishing – biasanya, ada tanda-tanda seperti "kamu harus update akun" atau "panggilan penting". Cek linknya sebelum mengklik, dan jika ragu, langsung hubungi pihak resmi.
  • Update Sistem Operasi dan Aplikasi – patch keamanan sering disediakan oleh produsen. Satu update saja bisa menutup celah yang dieksploitasi hacker.
  • Hindari Jaringan Wi‑Fi Publik Tanpa VPN – jaringan publik sering menjadi hotspot bagi penjahat yang ingin menangkap data. Gunakan VPN untuk mengenkripsi lalu lintas.

Peran Pemerintah dan Korporasi

Ketika kecelakaan cybermenjadi bencana besar, pemerintah biasanya turun tangan. Misalnya, Peraturan Perlindungan Data Pribadi (PDPA) di Indonesia, yang mewajibkan perusahaan untuk melaporkan pelanggaran data. Namun, masih banyak tantangan: keterbatasan sumber daya manusia, regulasi yang belum selaras dengan teknologi terkini, dan tentu saja, kebutuhan untuk membangun budaya keamanan di seluruh sektor.

Di sisi korporasi, banyak perusahaan yang kini menempatkan "Chief Information Security Officer" (CISO) di jajaran manajemen puncak. Ini menandakan pemahaman bahwa keamanan siber bukan lagi topik "hacker" semata, tapi investasi strategis yang berdampak langsung pada profitabilitas dan reputasi.

Gaya Hidup "Digital Detox" sebagai Cara Mencegah

Selain teknologi, ada solusi yang lebih sederhana: digital detox. Seringkali, orang terjebak dalam "scroll endlessly" yang membuat mereka tidak sadar akan kebersihan digital mereka. Coba alokasikan waktu di luar layar: olahraga, membaca buku fisik, atau bahkan ngobrol dengan teman secara tatap muka. Ini tidak hanya menurunkan stres, tapi juga memberi kesempatan bagi pikiran untuk memproses informasi yang seringkali "spam" di dunia maya.

Kesimpulan: Cybercrime Adalah Game dengan Satu Poin Skor Tinggi

Jika cybercrime diibaratkan sebagai permainan, maka setiap pengguna adalah "pemain" yang bisa memicu kemenangan atau kekalahan. Tanggung jawab? Tanggung jawab. Namun, jangan biarkan rasa takut membuat hidup menjadi "offline" total. Yang penting adalah tetap bijak, selalu update, dan yang terpenting, sadar bahwa keamanan data kita adalah aset berharga. Jadi, yuk, jangan remehkan setiap klik; karena di baliknya, ada dunia yang siap menahan setiap "serangan" dengan cara yang tak terduga.

Jangan biarkan diri terjebak dalam "cyber doom" yang kerap kita dengar. Dengan sedikit kebijakan, sedikit teknologi, dan sedikit kebiasaan sehat, kita bisa memainkan game ini dengan skor tinggi—dan paling penting, tetap hidup di dunia nyata.