Jumat, 6 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Ketika Semua Orang Jadi Kritikus di Internet

Redaksi - Thursday, 05 February 2026 | 09:00 AM

Background
Ketika Semua Orang Jadi Kritikus di Internet
Ketika Semua Orang Jadi Kritikus di Internet ( Istimewa/)

Budaya Review Online: Menyelami Tren Digital yang Ngakak dan Ngetawain

Siapa yang belum ngerasain sensasi scrolling terus di feed Instagram, TikTok, atau YouTube, sambil ngeliat review budaya yang super trending? Di era digital ini, "budaya review online" bukan sekadar hiburan, melainkan juga refleksi tentang bagaimana masyarakat memproses dan menyebarluaskan informasi mengenai film, buku, musik, bahkan fashion. Biar ga main-main, yuk kita kulik apa sih yang bikin review online jadi bahan perbincangan hangat di kalangan anak muda.

Pertama: Dari Kritik Tradisional ke Kritis yang Kocak

Dulu, kritik budaya biasanya diatur di majalah, radio, atau televisi. Suara pengarang, penulis, atau kritikus memang profesional, tapi kadang terasa "dikit banget" dan "bacaannya ngebosenin". Dengan munculnya media sosial, semua jadi lebih bebas. Sekarang, siapa saja bisa jadi "kritikus" – asal punya smartphone dan keahlian ngasih komentar singkat. Contohnya, influencer yang ngasih review film dalam 15 detik di TikTok. Biasanya diakhiri dengan kalimat "Kalo lo nonton, feel free to drop your thoughts di kolom komentar!"

Hal ini memang membuka ruang bagi lebih banyak orang untuk menyuarakan opini. Tapi, tidak semua review itu "kualitas". Kadang, review yang "kocak" malah menggiring penggemar untuk membeli produk hanya karena lucunya. Ini yang sering disebut viral marketing. Misalnya, review "review drama Korea" yang memutar balik plot twist sampai jadi meme. Pasti, kamu bisa nonton lagi, tapi apakah kamu nonton karena konten tersebut atau karena ingin ikut trend?

Penerapan Bahasa Gaul yang Nempel di Lidah

Budaya review online ini sangat dipengaruhi gaya bahasa yang digunakan. Kalau sebelumnya "beneran, saya sangat terkesan", sekarang "OMG, film ini benar-benar ngasih vibes yang gitu banget, bro!". Bahasa gaul ini memberi nuansa kebersamaan, membuat pembaca merasa mereka bukan sekadar pemirsa, tapi teman bicara. Namun, jangan salah, bahasa gaul ini juga bisa menimbulkan misinterpretasi, terutama bagi pembaca yang belum familiar.

Teknik Penyajian yang Menarik

  • Hook yang Gokil: Di awal, biasanya ada kalimat yang menggebu-gebu, contohnya "Gak percaya deh, film ini lebih epik dari film yang ngebuatku ngelupak di boks 30 meter."
  • Storytelling Mini: Sebelum masuk ke review, biasanya ada cerita pendek tentang pengalaman pribadi, seperti "Ketika aku nonton film ini di kafe bareng temen, tiba-tiba aku ngerasa kayak lagi di jalan raya Jakarta!"
  • Visual Pop: Thumbnail, gif, dan meme yang tepat bikin review lebih eye-catching. Gak ada video yang sukses tanpa thumbnail yang "wow".
  • CTA yang Kenceng: Di akhir review, ada ajakan langsung, "Jangan lupa share kalau lo setuju, dan follow untuk update selanjutnya!"

Semua teknik ini menambah daya tarik visual dan emosional. Makanya, review yang baik harus punya keseimbangan antara informatif dan menghibur.

Dampak Sosial dan Ekonomi

Di satu sisi, review online membuka peluang baru bagi content creator. Banyak yang sekarang menghasilkan uang dari sponsorship, affiliate marketing, atau donasi. Di sisi lain, muncul tekanan untuk tetap "trend" sehingga kualitas review bisa menurun. Ada pula fenomena "review yang bias" di mana reviewer lebih memilih menciptakan buzz daripada kejujuran. Dan, jangan lupa, beberapa review malah menimbulkan polarisasi, apalagi kalau review yang sangat kritis mengenai karya yang sangat dicintai orang.

Namun, jangan lupa, review online juga mengedukasi. Misalnya, review buku yang merangkum inti cerita dan pesan moral bisa memotivasi pembaca baru untuk membaca. Review musik yang memperkenalkan genre baru membantu pelajar musik menemukan hobi baru.

Peran Algoritma dan Algoritma di Balik Review

Algoritma di platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram memicu apa yang dipromosikan. Konten dengan engagement tinggi (likes, shares, comments) akan lebih sering muncul di halaman utama. Ini artinya, content creator harus "mengerti" algoritma. "Kalo lo pengen topikmu ngehit, gini cara yang paling gampang", sering terdengar di podcast tentang digital marketing. Tapi, ini juga menimbulkan "filter bubble" di mana kita hanya melihat review yang sejalan dengan pandangan kita.

Masalah Etika dan Tanggung Jawab

Di balik gemerlap review online, ada tanggung jawab moral. Review yang menyesatkan, misalnya memutarbalikkan fakta, bisa merugikan pembuat konten asli. Begitu juga, review yang menargetkan individu tertentu bisa menimbulkan cyberbullying. Akibatnya, beberapa platform memutuskan untuk menegakkan kebijakan moderasi konten. Meskipun demikian, masih banyak pembuat konten yang belum memahami betul bagaimana perilaku mereka mempengaruhi audiens.

Tren Masa Depan: AR, VR, dan Immersive Review

Siapa sangka, review budaya yang dulu hanya berupa teks atau video, sekarang bisa dimuat di dalam virtual reality (VR). Bayangkan, kamu bisa "masuk" ke dunia film tertentu sambil membaca review. Teknologi AR (augmented reality) juga memudahkan penonton menampilkan elemen interaktif, misalnya menekan tombol "lebih banyak info" dan langsung muncul data tambahan.

Selain itu, deepfake review juga mulai mencuat. Jadi, "kritikus" bisa membuat "dialog" yang menyesatkan. Ini menuntut kita sebagai konsumen media untuk lebih kritis.

Kesimpulan: Di Mana Kita Berada?

Budaya review online masih dalam fase eksplorasi. Ini memadukan kebebasan, kreativitas, dan tantangan baru. Kita sebagai penonton harus bijak: jangan hanya mengikuti trend, tapi juga cari review yang punya kedalaman. Biar tetap keren, tetap kritis, dan tetap jadi bagian dari komunitas yang lebih baik.

Jadi, selanjutnya kalau ada review tentang film, buku, atau musik yang lagi viral, ingatlah: jangan langsung percaya, terus cek apakah review tersebut datang dari sumber yang kredibel atau hanya sekadar "tiktok trend". Selamat menonton, membaca, dan tentunya, tetap nikmatin prosesnya!