Jumat, 13 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Kenapa Bahasa Indonesia Terus Berubah? Dari KBBI sampai Bahasa Jaksel

Redaksi - Friday, 13 February 2026 | 04:35 PM

Background
Kenapa Bahasa Indonesia Terus Berubah? Dari KBBI sampai Bahasa Jaksel
Kenapa Bahasa Indonesia Terus Berubah? Dari KBBI sampai Bahasa Jaksel ( Istimewa/)

Antara KBBI dan Literally: Menjelajahi Labirin Bahasa Kita yang Nggak Pernah Diam

Pernah nggak sih kalian ngerasa bingung pas lagi asik-asiknya nongkrong, terus tiba-tiba ada temen yang nyeletuk pakai istilah yang asing banget di telinga? Atau mungkin kalian pernah ngerasa "berdosa" pas nulis caption Instagram karena bingung harus pakai kata 'silakan' atau 'silahkan'? Selamat, itu tandanya kalian adalah manusia Indonesia yang normal yang sedang terjebak dalam dinamika bahasa yang luar biasa cair. Bahasa itu bukan cuma soal tumpukan aturan di buku pelajaran Bahasa Indonesia waktu SMA dulu, tapi bahasa adalah organisme hidup yang terus bermutasi, tumbuh, dan kadang bikin kita geleng-geleng kepala.

Kalau kita flashback ke zaman sekolah, Bahasa Indonesia itu rasanya kaku banget. Ada SPOK (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan) yang harus dipatuhi seolah-olah kalau kita salah taruh posisi kata, dunia bakal kiamat. Guru-guru kita selalu menekankan "Gunakanlah Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar." Tapi jujur aja, di kehidupan nyata, siapa sih yang kalau mau beli seblak bilang, "Wahai penjual, saya ingin membeli satu porsi kerupuk basah pedas ini dengan tingkat kepedasan yang maksimal"? Nggak ada, kan? Yang ada malah, "Bang, seblak satu, pedesnya nampol ya!"

Dilema Nilai Bahasa yang Sering Bikin Gigit Jari

Ada satu fenomena unik yang kayaknya cuma terjadi di Indonesia: nilai ujian Bahasa Inggris seringkali lebih tinggi daripada nilai Bahasa Indonesia. Ini ironis, tapi masuk akal. Kita belajar Bahasa Inggris sebagai sistem yang logis, ada rumusnya. Sementara itu, Bahasa Indonesia itu penuh dengan nuansa dan rasa. Kita ngerasa udah jago karena ini bahasa ibu kita, tapi pas ketemu soal jebakan di ujian nasional tentang ide pokok paragraf atau penggunaan huruf kapital pada gelar bangsawan, kita langsung kena mental. Bahasa kita itu sebenernya kompleks banget kalau mau dibedah secara akademis, tapi saking sehari-harinya kita pakai, kita jadi sering meremehkan detail-detail kecilnya.

Lucunya, sekarang muncul tren baru dalam berbahasa yang sering disebut sebagai "Bahasa Jaksel". Fenomena mencampuradukkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Inggris kayak "Which is sebenarnya aku tuh literally nggak bermaksud gitu, ya" udah jadi santapan sehari-hari di media sosial atau perkantoran di daerah Kuningan. Awalnya mungkin banyak yang nyinyir, tapi lama-lama, gaya bicara ini malah jadi identitas sosial tertentu. Suka atau nggak, ini adalah bukti kalau bahasa itu nggak statis. Dia bakal terus beradaptasi dengan lingkungan penggunanya, termasuk pengaruh globalisasi dan tontonan Netflix yang kita konsumsi tiap malam.

Slang: Dari 'Prokem' Hingga 'Ngadi-Ngadi'

Kalau kita bicara soal evolusi, bahasa gaul atau slang adalah bagian yang paling seru buat diamati. Generasi 90-an mungkin masih ingat dengan bahasa prokem atau bahasa 'G' yang ribetnya minta ampun. Terus masuk ke era 2000-an dengan singkatan-singkatan alay yang bikin mata sakit kalau baca SMS. Sekarang, di era TikTok, istilah-istilah baru muncul secepat kilat. Ada 'ngadi-ngadi', 'pargoy', sampai penggunaan kata 'cepmek' yang sempat viral. Bahasa-bahasa ini muncul dari kreativitas kolektif yang seringkali nggak terduga sumbernya.

Bahasa gaul ini fungsinya simpel: buat nunjukin kalau kita adalah bagian dari "circle" atau kelompok tertentu. Kalau kamu nggak tahu istilah yang lagi tren, rasanya kayak ketinggalan kereta. Tapi ya itu tadi, bahasa slang itu umurnya biasanya pendek. Dia kayak tren fashion; hari ini keren, besok bisa jadi dianggap norak atau "cringe". Meskipun begitu, slang inilah yang bikin komunikasi kita jadi lebih berwarna dan nggak membosankan. Coba bayangin kalau kita cuma ngomong pakai bahasa baku sesuai KBBI sepanjang hari, pasti rasanya kayak lagi dengerin pidato kenegaraan terus-menerus. Capek, kan?

Bahasa adalah Cermin Karakter dan Rasa

Satu hal yang paling menarik dari Bahasa Indonesia (dan bahasa daerah kita) adalah kemampuannya untuk mengekspresikan rasa yang nggak bisa diterjemahin ke bahasa lain. Misalnya kata 'gemas'. Di bahasa Inggris, mungkin orang bakal bilang 'cute' atau 'adorable', tapi 'gemas' itu punya spektrum perasaan yang lebih luas, ada unsur pengen nyubit atau saking keselnya tapi sayang. Atau kata 'galau'. Kata ini sempat jadi kata paling populer karena emang mewakili perasaan yang campur aduk, antara sedih, bingung, dan bimbang yang nggak bisa dijelasin cuma pakai satu kata di bahasa asing.

Di sinilah kita harusnya bangga. Bahasa kita itu fleksibel. Kita bisa jadi sangat formal saat lagi presentasi di depan bos, tapi bisa langsung berubah jadi sangat akrab dan "santuy" pas lagi nongkrong di warkop. Kemampuan buat berpindah-pindah "mode" bahasa ini sebenarnya adalah skill intelektual yang tinggi loh. Kita secara otomatis menyesuaikan diksi dan intonasi tergantung dengan siapa kita bicara. Ini yang bikin interaksi sosial di Indonesia itu terasa sangat hangat dan punya personal touch yang kuat.

Menjaga Warisan Tanpa Menjadi Kaku

Terus, gimana caranya kita menyikapi perubahan bahasa yang makin nggak keruan ini? Apakah kita harus jadi polisi bahasa yang selalu benerin typo orang lain di kolom komentar? Ya nggak juga, sih. Menghargai bahasa bukan berarti kita harus kaku dan anti sama perubahan. Kita tetep butuh tahu aturan baku buat urusan profesional, tapi kita juga harus kasih ruang buat kreativitas dan ekspresi diri dalam bahasa pergaulan.

Bahasa itu kayak sungai yang terus mengalir. Kadang airnya jernih dan tenang (kayak bahasa sastra), kadang penuh riam dan bergejolak (kayak bahasa debat di Twitter). Yang penting adalah kita tahu kapan harus pakai pelampung dan kapan bisa berenang bebas. Jangan sampai karena terlalu pengen kelihatan keren pakai istilah asing, kita malah kehilangan jati diri. Tapi jangan juga karena terlalu fanatik sama kemurnian bahasa, kita jadi menutup diri dari perkembangan zaman yang emang serba cepat ini.

Kesimpulannya, bahasa itu alat buat nyambungin satu manusia sama manusia lainnya. Selama pesan kita tersampaikan dan nggak ada yang tersinggung, berarti bahasa itu sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Jadi, mau kalian pakai "aku-kamu", "lo-gue", atau "literally-which is", yang penting tetaplah berkomunikasi dengan hati. Karena pada akhirnya, bahasa yang paling dimengerti oleh semua orang adalah bahasa kejujuran dan rasa saling menghargai. Jadi, sudahkah kalian berbahasa dengan asik hari ini?