Jumat, 13 Februari 2026
Salsabila FM
Life Style

Fotografi di Era Media Sosial: Seni Menangkap Momen atau Sekadar Estetika

Redaksi - Friday, 13 February 2026 | 04:20 PM

Background
Fotografi di Era Media Sosial: Seni Menangkap Momen atau Sekadar Estetika
Fotografi di Era Media Sosial: Seni Menangkap Momen atau Sekadar Estetika ( Istimewa/)

Seni Menangkap Momen atau Sekadar Biar Kelihatan Keren di Media Sosial?

Dulu, kalau kita melihat orang mengalungkan kamera DSLR berukuran besar dengan lensa yang panjangnya mirip termos, reaksi pertama kita pasti: "Wah, fotografer nih!" Ada semacam aura eksklusif yang terpancar. Fotografi pada masanya adalah hobi mahal yang cuma bisa ditekuni oleh mereka yang punya modal kuat atau mereka yang memang mencari nafkah dari sana. Tapi coba lihat sekarang. Di kafe-kafe estetik, di trotoar Sudirman, sampai di gang-gang sempit, semua orang mendadak jadi fotografer. Bermodalkan smartphone yang harganya mungkin setara cicilan motor bulanan, siapa pun bisa menghasilkan foto yang bikin mata terpana.

Fenomena ini sebenarnya menarik buat dibahas. Fotografi sudah mengalami demokratisasi yang luar biasa. Kita nggak lagi butuh ruang gelap buat cuci film—meskipun tren analog balik lagi, tapi nanti kita bahas itu. Intinya, sekarang batas antara amatir dan profesional makin tipis, seolah-olah seni memotret itu cuma soal menekan tombol di layar sentuh. Tapi, benarkah sesederhana itu? Atau jangan-jangan kita cuma terjebak dalam obsesi "yang penting estetik" demi validasi di Instagram?

Man Behind The Gun: Klise tapi Ada Benarnya

Ada jargon lama di dunia fotografi yang bunyinya: "It's not the camera, it's the man behind the gun." Kalimat ini sering banget dipakai buat menghibur mereka yang kameranya masih entry-level atau cuma pakai HP kentang. Tapi jujur saja, di era sekarang, jargon ini makin relevan. Kita sering melihat orang pakai kamera seharga mobil bekas tapi hasil fotonya biasa saja, komposisinya berantakan, dan nggak punya nyawa. Di sisi lain, ada anak muda yang cuma pakai ponsel jadul tapi bisa menangkap emosi yang begitu dalam dari sebuah objek sederhana.

Fotografi itu, menurut saya, bukan soal seberapa mahal lensa yang kamu punya, tapi seberapa peka mata dan hatimu melihat sebuah momen. Kamu bisa saja punya kamera Mirrorless terbaru dengan fitur autofocus yang bisa melacak mata semut, tapi kalau kamu nggak tahu kapan waktu yang tepat buat memencet shutter, ya percuma. Fotografi itu soal rasa. Soal bagaimana kita membingkai dunia yang berantakan ini menjadi sesuatu yang harmonis dalam satu kotak gambar.

Kenapa Kita Masih Terobsesi Sama Kamera Analog?

Nah, ini yang lucu. Di saat teknologi kamera digital sudah sampai ke tahap yang hampir sempurna—bisa memotret di kegelapan total tanpa noise—anak-anak muda zaman sekarang malah ramai-ramai balik ke kamera analog. Mereka rela antre buat beli roll film yang harganya makin nggak masuk akal dan harus menunggu berhari-hari buat melihat hasilnya di tempat scan film. Kenapa sih?

Jawabannya mungkin karena kita sudah jenuh dengan kesempurnaan digital. Foto digital itu terlalu bersih, terlalu tajam, dan terlalu mudah dihapus kalau jelek. Ada semacam kepuasan tersendiri dari ketidakpastian kamera analog. Efek grain yang kasar, light leak yang nggak sengaja muncul, sampai warna yang kadang agak meleset justru memberikan kesan "nyawa" dan nostalgia. Di dunia yang serba instan ini, menunggu hasil cuci film itu rasanya seperti menunggu surat cinta dari gebetan. Ada deg-degannya, ada seninya.

Selain itu, analog memaksa kita buat berpikir sebelum memotret. Satu roll film biasanya cuma berisi 36 frame. Setiap kali kita memencet shutter, ada duit yang terbakar di sana. Jadi, kita nggak bakal sembarangan jepret kayak pakai HP yang sekali ambil bisa langsung 50 foto. Analog mengajarkan kita buat lebih menghargai satu momen tunggal.

Street Photography dan Dilema Etika

Satu lagi tren yang lagi naik daun adalah Street Photography. Jalanan kota jadi panggung besar buat para fotografer. Memotret orang yang lagi nunggu bus, bapak-bapak penjual koran yang ketiduran, atau interaksi sepasang kekasih di lampu merah memang terlihat keren dan "deep" banget. Tapi, di sinilah muncul perdebatan panjang soal privasi.

Banyak fotografer jalanan yang berlindung di balik kata "seni" saat memotret orang tanpa izin secara terang-terangan. Kadang ada yang merasa risih, tapi si fotografer cuek saja karena merasa sedang mengabadikan realitas sosial. Menurut saya, fotografi yang baik itu harus tetap punya empati. Memotret kemiskinan buat kepentingan pamer portofolio tanpa ada dampak positif buat subjeknya itu rasanya agak kurang etis, ya nggak sih? Seni itu penting, tapi memanusiakan manusia di balik lensa itu jauh lebih utama.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Piksel

Pada akhirnya, fotografi itu adalah cara kita bercerita tanpa suara. Ia adalah mesin waktu yang paling ampuh. Suatu saat nanti, mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi, kita nggak akan peduli foto itu diambil pakai iPhone 15 Pro Max atau kamera Leica mahal. Yang kita pedulikan adalah kenangan yang ada di dalamnya. Bagaimana suasana hari itu, siapa yang ada di samping kita, dan apa yang kita rasakan saat itu.

Jadi, buat kamu yang baru mau mulai belajar fotografi, jangan terlalu pusing sama urusan gear. Jangan minder kalau belum bisa beli lensa mahal. Mulai saja dulu dari apa yang ada di tangan. Belajarlah melihat cahaya, pahami komposisi, dan yang paling penting: jangan lupa buat benar-benar menikmati momen tersebut dengan matamu sendiri sebelum kamu membingkainya dalam lensa. Karena foto yang paling bagus bukan yang paling tajam, tapi yang paling bisa membuat orang yang melihatnya merasa "sesuatu".

  • Fokus pada cerita, bukan cuma teknik.
  • Eksperimen dengan berbagai gaya (minimalis, portrait, landscape).
  • Hargai privasi orang lain saat memotret di ruang publik.
  • Jangan lupa cetak fotomu, jangan biarkan mereka membusuk di folder cloud.

Dunia ini terlalu indah kalau cuma dilihat sekilas. Lewat fotografi, kita belajar buat berhenti sejenak, mengamati, dan mengapresiasi hal-hal kecil yang sering terlewatkan. Selamat memotret!