Keluarga: Antara Rumah, Beban Pikiran, dan Tempat Pulang Paling Berisik
Redaksi - Friday, 13 February 2026 | 04:05 PM


Keluarga: Antara Rumah, Beban Pikiran, dan Tempat Pulang Paling Berisik
Pernah nggak sih, kamu lagi asyik-asyiknya scrolling TikTok di kamar, tiba-tiba denger suara notifikasi grup WhatsApp keluarga yang isinya cuma broadcast doa pagi atau video kucing lucu dengan tulisan "Subhanallah"? Reaksi pertama kita biasanya cuma geser notifikasi itu ke kiri, alias dicuekin. Tapi, di balik segala kegabutan dan drama grup WA itu, ada satu entitas yang namanya keluarga—sesuatu yang hubungannya paling rumit di dunia, melebihi rumitnya rumus fisika kuantum atau algoritma Instagram yang sering bikin konten kita sepi penonton.
Keluarga itu unik. Kalau kata orang bijak, keluarga adalah dermaga tempat kita pulang. Tapi jujurly, kadang dermaga ini ombaknya lebih gede daripada di tengah laut. Kita semua pasti pernah merasakan fase di mana rumah rasanya kayak medan perang, apalagi kalau sudah menyangkut pertanyaan "kapan lulus?", "kapan kerja?", atau pertanyaan horor tingkat nasional: "kapan nikah?".
Transformasi Pandangan: Dari Superhero ke Manusia Biasa
Waktu kita masih bocah, orang tua itu kayak sosok tak terkalahkan. Ayah bisa benerin apa saja, dan Ibu tahu semua letak barang yang hilang (ajaib banget memang kekuatan ibu-ibu ini). Namun, seiring kita tumbuh dewasa dan mulai kena "tamparan" realita kehidupan, perspektif itu bergeser. Kita mulai sadar kalau orang tua kita itu ya cuma manusia biasa yang juga punya rasa takut, rasa capek, dan bahkan bisa melakukan kesalahan fatal.
Melihat orang tua sebagai manusia biasa itu proses yang menyakitkan tapi penting. Kita mulai paham kenapa mereka dulu galak, atau kenapa mereka sering memendam perasaan. Di titik ini, hubungan anak dan orang tua nggak lagi sekadar soal otoritas, tapi mulai masuk ke ranah empati. Kita belajar memaafkan masa lalu mereka, sambil pelan-pelan menyembuhkan inner child kita yang mungkin pernah terluka gara-gara didikan mereka yang (katanya) demi kebaikan kita.
Generasi Sandwich dan Beban Pundak yang Makin Berat
Ngomongin keluarga di Indonesia nggak akan lengkap tanpa menyinggung fenomena "sandwich generation". Istilah ini bukan berarti kita suka makan roti lapis, ya. Ini soal posisi kita yang terjepit di antara kewajiban membiayai anak (nanti) dan menanggung hidup orang tua. Fenomena ini nyata banget dan sering bikin anak muda jaman sekarang kena burnout mental sebelum waktunya.
Bayangkan, gaji pas-pasan, pengen self-reward beli kopi susu literan aja mikir dua kali, tapi di sisi lain ada cicilan rumah orang tua atau biaya sekolah adik yang harus dibayar. Ini adalah dilema moral yang luar biasa. Mau protes, takut dicap anak durhaka. Mau diem aja, tapi mental rasanya udah mau meledak. Di sinilah kedewasaan kita diuji: gimana caranya tetap berbakti tanpa harus mengorbankan masa depan dan kesehatan mental diri sendiri. Kagak gampang, sob!
Drama Meja Makan: Dari Curhat Sampai Debat Kusir
Meja makan itu saksi bisu segala macam emosi. Di sana kita bisa tertawa terbahak-bahak gara-gara cerita receh, tapi di sana juga bisa jadi tempat perdebatan paling panas soal politik atau cara pandang hidup. Perbedaan generasi alias generation gap itu nyata adanya. Cara berpikir Gen Z yang serba inklusif dan concern sama mental health seringkali tabrakan sama cara berpikir generasi Boomers yang lebih konservatif dan menganggap mental health itu cuma kurang ibadah atau kurang bersyukur.
Tapi, kalau kita mau nurunin sedikit ego, sebenarnya perdebatan itu tanda kalau kita masih peduli. Yang bahaya itu kalau rumah sudah sepi, masing-masing sibuk sama gadget, dan nggak ada lagi obrolan bermakna. Istilahnya, "dekat di mata, jauh di hati". Momen makan bareng tanpa ada yang sibuk main HP itu sekarang mah udah jadi barang mewah yang langka banget.
Definisi Baru Tentang "Keluarga"
Menariknya, anak muda jaman sekarang mulai punya definisi baru tentang keluarga. Keluarga nggak melulu soal pertalian darah. Ada istilah "chosen family"—orang-orang yang kita pilih untuk jadi keluarga kita. Sahabat yang selalu ada saat kita nangis bombay karena putus cinta, atau teman kantor yang rela bantuin kerjaan saat kita lagi tumbang, itu juga keluarga.
Kenapa fenomena ini muncul? Mungkin karena banyak dari kita yang merasa tidak mendapatkan "rasa aman" di rumah sendiri. Memang sedih sih kalau dipikir-pikir. Tapi ya itu realitanya. Kadang, orang asing justru lebih mengerti keresahan kita daripada orang yang tinggal satu atap. Meskipun begitu, seburuk-buruknya hubungan dengan keluarga inti, pasti ada satu memori kecil yang bikin kita tetap bertahan. Entah itu masakan ibu yang nggak ada tandingannya, atau momen saat ayah diam-diam beliin martabak kesukaan kita pas pulang kerja.
Kesimpulan: Love-Hate Relationship yang Abadi
Pada akhirnya, keluarga itu adalah paket lengkap. Ada kasih sayang, ada air mata, ada tawa, dan ada rasa kesal yang luar biasa. Kita nggak bisa milih lahir di keluarga mana, tapi kita punya pilihan untuk menjadi versi yang lebih baik bagi keluarga kita nantinya. Jangan terlalu keras sama diri sendiri kalau hubunganmu sama orang tua lagi nggak sinkron. Namanya juga manusia, pasti ada gesekan.
Jadi, kalau nanti grup WA keluarga bunyi lagi dan isinya cuma sticker "Selamat Pagi" yang norak itu, coba deh dibalas pakai sticker yang sama lucunya. Mungkin itu cara mereka bilang "aku kangen kamu" tanpa harus merasa gengsi. Keluarga memang berisik, kadang bikin pusing, tapi tanpa mereka, hidup kita mungkin bakal sepi kayak kos-kosan di tanggal tua. Tetap semangat buat kamu yang lagi berjuang demi keluarga, kalian itu pahlawan di dunia nyata yang nggak butuh jubah, cuma butuh waktu buat istirahat sebentar.
Next News

Kenapa Bahasa Indonesia Terus Berubah? Dari KBBI sampai Bahasa Jaksel
in 5 hours

Fotografi di Era Media Sosial: Seni Menangkap Momen atau Sekadar Estetika
in 4 hours

Seni Menghadapi Emosi: Antara Validasi, Gagal Healing, dan Drama yang Gak Habis-Habis
in 4 hours

Radio: Teman Setia yang Menolak Mati di Tengah Gempuran Algoritma
in 4 hours

Ramadhan: Antara Perang Takjil, Wacana Bukber, dan Ujian Menahan Ghibah
in a minute

Di Tengah Gempuran Digital, Radio Masih Menjadi Teman Setia Pendengar
4 minutes ago

Fake Followers: Angka Fantasi di Dunia Sosial Media
8 days ago

Algoritma Media Sosial: Seorang Guru di Tengah Dunia Digital
8 days ago

Hidup di Dunia Tanpa Tunai
8 days ago

Sekali Klik Bisa Jadi Masalah
8 days ago





