Senin, 20 April 2026
Salsabila FM
Lintas Berita

Ratusan Santri Ponpes Assirojiyyah Sampang Ikuti Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana, Siap Hadapi Situasi Darurat

Ach. Mukrim - Monday, 20 April 2026 | 07:12 AM

Background
Ratusan Santri Ponpes Assirojiyyah Sampang Ikuti Pelatihan Kesiapsiagaan Bencana, Siap Hadapi Situasi Darurat
Saat Ratusan santri mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana (Mukrim/Salsa/)

salsabilafm.com - Ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Assirojiyyah Kajuk, Kabupaten Sampang, mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana, Senin (20/4/2026). Kegiatan yang digelar di Rumah Khas Kalimantan (RKK) ini merupakan bagian dari upaya peningkatan literasi kebencanaan di lingkungan pendidikan, khususnya pondok pesantren.


Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Ponpes Assirojiyyah Kajuk, KH M Itqan Bushiri, mengatakan, pihaknya menyambut baik kegiatan sosialisasi tersebut. Dia menjelaskan, meski santri memiliki jadwal rutin mengaji dan bersekolah, kegiatan khusus seperti ini tetap diprioritaskan karena memberikan manfaat besar.


"Kami menyambut baik kegiatan ini dan mengucapkan terima kasih kepada BPBD. Santri memang setiap hari belajar, namun kegiatan seperti ini sangat penting karena menjadi bekal saat mereka kembali ke masyarakat," ujarnya.




Kiai Itqon menambahkan, kegiatan ini melibatkan program Santri Tangguh Bencana (Sanggup) yang telah rutin dilaksanakan setiap tahun. Dalam program tersebut, sekitar 100 santri lebih dilatih setiap tahunnya, sehingga dalam lima tahun terakhir hampir 1.000 santri telah mendapatkan pelatihan kebencanaan.


Pelatihan Sanggup dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk BPBD dan forum relawan kebencanaan. Para santri dibekali kemampuan penanganan bencana seperti evakuasi, penyelamatan, hingga respons darurat saat terjadi bencana di lingkungan pondok maupun masyarakat.




Menurutnya, keberadaan santri tangguh bencana sangat penting karena dalam kondisi darurat, pertolongan pertama biasanya datang dari orang terdekat sebelum bantuan eksternal tiba. Dia mengimbau seluruh masyarakat, khususnya pondok pesantren, untuk membentuk tim Santri Tangguh Bencana.


"Minimal semua lapisan masyarakat memahami cara evakuasi dan penyelamatan. Jangan sampai orang yang menolong justru menjadi korban. Ini yang harus kita pahami bersama," ucapnya.


Sementara itu, Ketua Tim Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Trisat Wahyu Defianto, menyampaikan, BPBD Jatim terus memperkuat edukasi kebencanaan melalui program "Siap untuk Selamat Bersama Mosipena". Program ini menyasar sekolah dan pondok pesantren sebagai kelompok rentan yang perlu dibekali pengetahuan sejak dini.




Mosipena sendiri merupakan singkatan dari Mobil Edukasi Penanggulangan Bencana, yakni program edukasi keliling yang diinisiasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur. Program ini menghadirkan pembelajaran kebencanaan secara langsung di lokasi, dengan metode interaktif seperti simulasi evakuasi, praktik pemadaman kebakaran, hingga pelatihan pertolongan pertama.


"Program ini menjadi pelengkap dari inisiatif Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Kami melakukan sosialisasi penanggulangan bencana kepada siswa, santriwan dan santriwati, agar mereka mengetahui apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana," katanya.




Dia menjelaskan, pemilihan santri sebagai sasaran utama bertujuan memperkuat kesiapsiagaan di satuan pendidikan di Jawa Timur, termasuk di Kabupaten Sampang. Materi yang diberikan meliputi pertolongan kedaruratan, teknik evakuasi, hingga simulasi pemadaman kebakaran.


Dia mengungkapkan, terdapat 14 jenis bencana yang berpotensi terjadi di Indonesia dan seluruhnya juga ada di Jawa Timur. Keempat belas bencana tersebut meliputi gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, tanah longsor, banjir, banjir bandang, kekeringan, cuaca ekstrem (termasuk angin puting beliung), gelombang ekstrem dan abrasi, kebakaran hutan, kebakaran lahan, kebakaran permukiman, epidemi dan wabah penyakit, serta konflik sosial.


"Dalam patihan ini para santri diajarkan langkah-langkah evakuasi yang benar, seperti mengenali jalur evakuasi, tetap tenang saat terjadi bencana, mengikuti instruksi petugas, serta membantu kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia," ungkapnya.




Selain itu, lanjutnya, peserta diberikan pemahaman tentang upaya pencegahan, seperti menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi risiko di sekitar.


Dia juga mengarahkan para santri untuk mengunduh aplikasi kebencanaan seperti InaRISK Personal yang dikembangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta Info BMKG dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. Kedua aplikasi ini dapat membantu masyarakat memantau potensi bencana, mendapatkan peringatan dini, serta memahami langkah mitigasi secara mandiri.




"Kami berharap para santri tidak hanya mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga dapat menjadi agen edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing," pungkasnya. (Mukrim)