Ramadhan Yang Terasa Baru Kemarin
Redaksi - Thursday, 19 March 2026 | 01:46 AM


Rasanya baru kemarin kita terbangun oleh suara sendok beradu dengan piring di waktu sahur. Mata masih berat, tubuh masih malas, tetapi hati seperti dipanggil oleh sesuatu yang tidak terlihat. Di tengah kabar tentang dapur-dapur MBG yang katanya menyediakan makanan bergizi, tetapi entah jelas entah tidak, kita tetap duduk di depan nasi hangat dengan rasa syukur yang sederhana. Sahur bukan soal lauknya, bukan soal gizinya, tetapi soal kesediaan manusia untuk bangun ketika dunia masih terlelap, lalu mengakui bahwa dirinya hanyalah hamba yang butuh kekuatan dari Tuhan.
Rasanya baru kemarin kita berjalan di jalan-jalan sore, membeli takjil dari tangan-tangan kecil para pedagang UMKM yang menggantungkan harapan pada bulan Ramadhan. Di saat ancaman krisis ekonomi yang katanya semakin dekat, justru di bulan ini orang-orang seperti menemukan cara untuk tetap hidup. Ada yang menjual kolak, ada yang menjual gorengan, ada yang menjual senyum. Ekonomi boleh goyah, tetapi harapan tidak ikut runtuh. Seolah-olah Ramadhan mengajarkan bahwa rezeki bukan hanya soal angka, tetapi soal keberkahan yang datang ketika manusia saling menghidupkan.
Rasanya baru kemarin kita menahan haus dan lapar, lalu diam-diam hati kita teringat pada ribuan anak-anak Palestina di Gaza yang tidak hanya lapar karena puasa, tetapi lapar karena perang yang tak kunjung selesai. Kita menahan dahaga sampai maghrib, sementara mereka menahan ketakutan tanpa tahu kapan azan keselamatan akan terdengar. Di situlah kita belajar bahwa puasa bukan sekadar ibadah pribadi, melainkan latihan untuk merasakan penderitaan orang lain, agar hati tidak lagi beku oleh kenyamanan.
Rasanya baru kemarin kita berlatih menahan nafsu angkara, di saat dunia justru mempertontonkan kemarahan yang semakin besar. Parang kekuasaan di antara Amerika, Israel, dan Iran beradu tajam di layar-layar berita. Dunia seperti tidak pernah kenyang oleh konflik, sementara Ramadhan mengajarkan manusia untuk kenyang oleh kesabaran. Di saat negara-negara berlomba menunjukkan kekuatan, orang-orang beriman justru dilatih untuk menundukkan diri. Seakan-akan Tuhan sedang berbisik, bahwa yang paling kuat bukan yang paling keras, tetapi yang paling mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Rasanya baru kemarin kita melihat masjid-masjid kembali penuh. Shaf-shaf yang dulu renggang, kini rapat oleh langkah orang-orang yang rindu pulang. Dulu kita sering mengeluh masjid sepi, lalu ketika Ramadhan datang, kita baru sadar bahwa sebenarnya yang sepi bukan masjidnya, tetapi hati kita. Ramadhan hanya membuka pintu yang selama ini kita tutup sendiri. Dan ketika pintu itu terbuka, kita seperti menemukan kembali jalan pulang yang sempat hilang.
Rasanya baru kemarin kita mendengar lantunan tadarus dari surau, dari musholla, dari masjid-masjid kecil di kampung yang suaranya tidak pernah masuk televisi, tetapi justru paling menenangkan. Ayat-ayat Al-Qur'an mengalir seperti air yang menyiram tanah yang lama kering. Selama ini telinga kita penuh oleh bising dunia dunia, oleh berita, oleh debat, oleh pertengkaran, oleh ambisi. Ramadhan datang seperti hujan, membasahi hati yang retak-retak tanpa kita sadari.
Rasanya baru kemarin orang-orang berlomba-lomba berbuat baik. Yang biasanya sibuk dengan dirinya sendiri tiba-tiba ingat tetangga. Yang biasanya pelit tiba-tiba ringan tangan. Yang biasanya diam tiba-tiba banyak mendoakan. Seolah-olah di bulan ini manusia diingatkan kembali bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Bahwa tangan yang memberi sebenarnya sedang menyelamatkan hatinya sendiri dari kekeringan.
Rasanya baru kemarin kita beramai-ramai mencari sunyi di sepertiga malam. Masjid yang siang hari ramai oleh suara, malam hari dipenuhi oleh bisikan doa. Orang-orang duduk di sudut, ada yang menangis pelan, ada yang menatap kosong, ada yang hanya diam tetapi hatinya penuh harap. Kita menunggu Lailatul Qadar seperti menunggu cahaya yang tidak terlihat, tetapi kita percaya ia ada. Di tengah kebiasaan kita yang sering tertelap oleh dunia, Ramadhan memaksa kita untuk terjaga, walau hanya beberapa malam, agar kita ingat bahwa hidup ini bukan hanya soal siang.
Tetapi sekarang, kita mulai merasa ada sesuatu yang selalu datang di ujung Ramadhan di negeri ini: perbedaan.
Perbedaan yang sebenarnya sudah lama kita kenal, tetapi setiap tahun tetap saja terasa baru.Perbedaan dalam menentukan hari kemenangan.Perbedaan dalam menetapkan kapan Idul Fitri benar-benar tiba.
Sebagian menunggu rukyat, menatap langit dengan penuh harap. Sebagian menghitung hisab, menakar peredaran bulan dengan ilmu. Sebagian lagi hanya menunggu pengumuman, sambil berharap semua bisa sama. Dan ketika keputusan itu berbeda, langit sebenarnya tetap satu, bulan tetap satu, Tuhan tetap satu, tetapi manusia merayakan dengan hari yang tidak selalu sama.
Di situlah Ramadhan seperti menguji kita untuk terakhir kalinya. Apakah kita lebih mencintai kebenaran menurut diri kita, atau lebih mencintai persaudaraan di antara kita. Padahal sejak awal Ramadhan sudah mengajarkan bahwa yang paling penting bukan kapan kita mulai, bukan kapan kita selesai, tetapi apakah hati kita benar-benar ikut berpuasa.
Idul Fitri kadang datang dengan dua tanggal, tetapi seharusnya datang dengan satu hati.
Sebentar lagi takbir akan berkumandang. Sebagian mungkin sudah bertakbir malam ini, sebagian mungkin besok malam. Sebagian sudah memakai baju baru, sebagian masih menunggu keputusan. Namun di hadapan Allah, yang dihitung bukan cepat atau lambatnya hari raya, melainkan seberapa dalam Ramadhan mengubah diri kita.
Ramadan akan pergi, seperti tamu yang tidak pernah bisa kita tahan. Ia datang membawa cahaya, lalu pergi meninggalkan pertanyaan: apakah kita masih ingin hidup dalam terang, atau kembali nyaman dalam gelap?
Barangkali yang paling menyedihkan bukanlah ketika Ramadhan berakhir, tetapi ketika setelah Ramadhan kita kembali menjadi diri kita yang lama. Masjid kembali sepi, Qur'an kembali tersimpan, doa kembali jarang, dan hati kembali sibuk mengejar dunia seakan-akan kita tidak pernah belajar apa-apa.
Padahal Ramadhan tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah dari kalender ke dalam hati.Jika hati kita masih menyimpan sahur, masih menyimpan lapar, masih menyimpan doa, masih menyimpan sunyi, maka sebenarnya Ramadhan belum selesai. Dan mungkin perbedaan hari raya itu pun bagian dari pelajaran, agar kita ingat bahwa persatuan tidak selalu berarti seragam dan kebenaran tidak selalu harus memisahkan.
Ramadan telah melatih kita untuk menahan diri,maka Idul Fitri seharusnya melatih kita untuk menerima. Agar setelah Ramadhan berlalu, manusia tidak kembali seperti kemarin,tetapi menjadi lebih pelan,lebih sadar,lebih lembut,
dan lebih ingat bahwa hidup ini hanya perjalanan singkat menuju pulang.
Next News

BHR Sampang Prediksi 1 Syawal 1447 H Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026
a day ago

Poli Libur Saat Lebaran 2026, Pasien RSMZ Sampang Tetap Dilayani: Begini Caranya
a day ago

Curi Besi Pancang Suramadu, 7 Nelayan Gresik dan Bangkalan Ditangkap Polisi
2 days ago

Dituduh Tipu Sewa Dapur MBG, Mantan Anggota DPRD Sampang Laporkan Balik Inisial BU
2 days ago

Aliansi Jurnalis Sampang Bagikan Sembako untuk Kaum Duafa dan Anak Yatim
2 days ago

Korban Petasan Rakitan di Pamekasan Diamputasi, RSUD Smart: Agar Tidak Infeksi
2 days ago

Petasan Rakitan Meledak, 5 Orang di Pamekasan Terluka
2 days ago

Dinkes Jatim Dirikan 217 Pos Kesehatan di Jalur Mudik Lebaran 2026
2 days ago

BPBD Jatim dan BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca Jelang Lebaran 2026
2 days ago

PPPK Paruh Waktu di Sampang Tetap Dapat THR Rp250 Ribu
2 days ago




